Restorasi Gambut Lindungi Gajah Sumatera

posted in: Otherside | 0
Gajah dan manusia saling menjaga di bentang alam gambut Sumatra Selatan.

Perjalanan menuju Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan di Kabupaten Banyuasin Sumatra Selatan pertengahan Agustus 2019 lalu cukup mendebarkan.

Bagaimana tidak, kawasan ekosistem gajah sumatra (elephas maximus sumatrensis) tersebut terletak di hutan rawa gambut. Lahan gambut SM Padang Sugihan pernah mengalami kebakaran besar 2015 silam. Api menghanguskan areal bergambutnya hingga 63.456 hektar kala itu. Lalu, bagaimana kondisinya kini?

Semakin mendebarkan mengingat prediksi BMKG bahwa Agustus 2019 merupakan puncak musim kemarau yang rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Berharap perjalanan kali ini aman-aman saja.

Keberangkatan melalui sungai menjadi pilihan. Laju speedboat menuju SM Padang Sugihan dimulai dari dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) Kota Palembang. Kapal cepat itu menyusuri Sungai Musi bagaikan roket, melewati delta bernama Pulau Kemaro, lalu mengarah ke jalur sungai yang lebih kecil. Di sepanjang perjalanan, kapal pengangkut hasil bumi menjadi bonus pemandangan.

Setelah menempuh waktu dua jam, tibalah di lokasi tujuan. Kendati speedboat belum merapat sempurna di dermaga SM Padang Sugihan, sudah terlihat sekelompok gajah sedang merumput di bibir sungai lahan konservasi tersebut. Ada Gajah Tiara di sana, salah satu gajah dewasa yang telah dijinakkan. Tiara menyambut dengan ramah.

Nyamannya gajah sumatra hidup di kawasan ini pertanda SM Padang Sugihan sudah membaik. Tanaman endemik terpantau telah tumbuh setinggi satu meter. Bentang alamnya kini menghijau setelah pemulihan (revegetasi) yang dilakukan sejak tahun 2016. Dalam kesempatan itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Selatan, Genman Hasibuan mengatakan, SM Padang Sugihan merupakan kawasan prioritas restorasi gambut nasional. Bukan hanya untuk mencegah karhutla, restorasi lahan bekas hutan produksi (HPH) itu juga berfungsi melindungi kelestarian gajah sumatra.

Konon, konflik antara manusia dan gajah dulu kerap terjadi. Hutan dataran rendah Sumatra Selatan berdampingan dengan desa-desa transmigran yang dibangun pemerintah pada tahun 1980. Meski pendapatan utama berkebun karet, warga desa transmigran memanfaatkan kawasan hutan untuk mencari kayu gelam, ikan, bahkan bersonor (membakar lahan sebelum bertani). Terdesak dengan masuk manusia di area teritorinya, gajah keluar dan menyerang pemukiman.

Kemudian pada tahun 1983, pemerintah menjalankan Operasi Ganesha yakni memindahkan gajah Sumsel ke Lampung. Dalam perjalanannya, sebanyak 232 ekor gajah tidak mau lagi digiring ke Lampung. Gajah-gajah memilih kawasan Padang Sugihan sebagai rumah barunya. Sampai akhirnya kawasan itu ditetapkan sebagai suaka margasatwa. “Populasi gajah di SM Padang Sugihan saat ini tinggal 38 gajah terlatih dan 50 ekor lebih gajah liar,”sebut Genman.

Kapal jenis speed boat membelah sungai menuju Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sumatra Selatan.

Meski dinilai sudah pulih 80%, lahan gambut SM Padang Sugihan tetap harus dilakukan pembasahan (rewetting). Sumber air pembasahan diambil dari sumur bor yang dibangun Masyarakat Peduli Api desa setempat. “Kami bangun 25 titik sumur bor, rata-rata kedalamannya 30 meter,”ujar Joko Waluyo, Ketua Kelompok Masyarakat Gading Jaya, Desa Air Gading, dibincangi di sela ia menyirami lahan.

Tak hanya membasahi gambut dengan sumur bor, telah dilakukan penimbunan kanal juga antara Sungai Sugihan dan Sungai Air Padang. Penimbunan kanal ini berfungsi agar air tidak habis mengalir ke sungai. Dengan begitu gambut di kawasan itu tetap terbasahi. Terlihat ada jejak kotoran gajah liar di sekitar timbunan kanal itu.

BKSDA Sumatra Selatan mencatat, hingga pertengahan Agustus 2019, kebakaran tidak terjadi di SM Padang Sugihan. Padahal sudah 20 hari tidak hujan di wilayah ini. Sebelumnya, kalau sudah tidak hujan seminggu saja, api pasti muncul. “Sekarang terpantau baru empat titik panas saja, tidak ada api. Ini bukti efektifnya pembasahan gambut, walau kemarau panjang tetap jadi ancaman,”ulas Genman menambahkan.

Gajah Tiara menjadi pusat perhatian saat menyapa pengunjung di Suaka Margasatwa Padang Sugihan.

Kondisi membaiknya SM Padang Sugihan pasca karhutla 2015, telah dipantau langsung Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, Nazir Foead. Ia bahkan sempat menghadiri upacara bendera perayaan HUT RI ke-74 di lahan gambut Desa Muara Padang. Bersama masyarakat 15 desa peduli gambut di sekitar SM Padang Sugihan digelar deklarasi partisipasi dalam restorasi gambut berkelanjutan.

Diakuinya, butuh puluhan tahun untuk mengembalikan kondisi alam yang rusak menjadi seperti semula. Karena itu, selain pembangunan infrastruktur pembasahan gambut serta kegiatan revegetasi, pihaknya bersama BKSDA melibatkan masyarakat desa sekitar untuk turut menjaga alam.

Warga desa dibina agar tidak bersonor. Sistem pembersihan lahan diarahkan berganti pola penyiraman lahan dengan bahan organik. Mereka juga diberi bantuan program perekonomian tambahan seperti penggembukan sapi. Dengan begitu, semoga saja kawasan yang pernah mengalami degradasi ekosistem gambut ini bisa cepat pulih. Selanjutnya, tentu diharapkan habitat gajah tetap terlindungi. (yulia savitri/end)

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *