Sebuah Teka-teki di Jalur Cineam – Langkaplancar

Kecamatan Cineam merupakan bagian dari Kabupaten Tasikmalaya, sedangkan Langkaplancar merupakan sebuah kecamatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Pangandaran. Kecamatan Cineam dan Kecamatan Langkaplancar posisinya bersebelahan, namun, akses jalan yang kondisinya cukup layak hanya beberapa saja. Hingga saat ini (Tahun 2020), masih banyak ruas jalan di Kecamatan Cineam dan Kecamatan Langkaplancar yang masih jauh dari kategori baik. Cerita ini adalah cerita yang terjadi sekitar 26 tahun silam.

Di penghujung tahun 1994, musim penghujan sedang deras-derasnya. Sepertinya tiada hari tanpa hujan. Mendapat tugas survey lokasi di musim seperti ini agak bikin malas juga. Bawa pakaian jadi harus rada banyak untuk perjalanan seminggu.

Biasanya, hari pertama perjalanan saya langsung ke tujuan utama. Tapi kali ini baru tiga dari delapan lokasi yang harus saya survey, saya sudah melipir melipir keluar dari jalur yang direncanakan. Sebenarnya ini akibat dari rasa penasaran yang berlebih. Seharusnya dari Cineam itu ambil jalan ke Utara sedikit, jalur Cimaragas lalu ke Banjar. Tapi saya malah ambil yang ke Selatan, arah Langkaplancar.

Akibatnya perjalanan harus menempuh jalan yang sudah rusak parah. Ini bekas jalan aspal yang telah berubah jadi jalan gravel campur tanah dengan kubangan di sana-sini. Rasanya percuma untuk meliuk-liuk memilih trek yang agak rata. Malah bikin cape. Ya sudah hantam lurus saja. Mesin motor GL 100 keluaran tahun 1987 ini beberapa kali meraung karena saya harus tahan kopling pindah gigi rendah. Beberapa kubangan cukup dalam di jalan agak menanjak bikin repot juga. Jaga keseimbangan dan berusaha supaya motor tidak over traksi yang mengakibatkan ban slip.

Beberapa kali saya berpapasan dengan truk pengangkut kayu. Muatannya sangat berlebih padahal jalan tidak begitu lebar. Saya saja harus mepet kiri dan berhenti ketika berpapasan. Ini yang membuat jalan makin ancur. Kayu yang diangkutnya saya lihat itu jenis kayu hutan. Ini pasti hasil pembalakan liat pikir saya.

Hujan deras ketika saya berangkat dari Cineam selepas Ashar tinggal rintik rintik saja. Awannya masih tebal sehingga keadaan sekelilingpun lebih gelap dari biasanya. Lebih dari satu jam ini saya hanya menempuh tidak lebih dari 20 km.

Beberapa kampung berselang dengan persawahan dan kebun terlewati. Setiap persimpangan yang agak meragukan belok kanan atau kiri saya berhenti. Bertanya pada penduduk arah ke Sidamulih. Beberapa kali saya harus putar balik arah karena salah ambil arah karena di persimpangannya ga bertemu dengan orang untuk ditanya.

Hari semakin gelap. Entah sudah berapa kilo perjalanan ini. Saya tidak begitu memperhatikan kilometer di speedometer motor. Sudah agak lama tidak melewati perkampungan lagi. Kecepatan motor tetap di antara 15 kpj sampai 25 kpj. Tidak bisa lebih cepat lagi, selain kondisi jalanan, ini kali pertama saya melewati jalur ini. Hal ini membuat saya tidak berani nekat memacu motor lebih cepat lagi.

Sepertinya saya mulai masuk daerah hutan. Terlihat dari pepohonan di pinggir jalan yang cukup besar dan semaknya cukup tinggi. Hati mulai was-was. Keder juga masuk daerah sesepi ini sendirian. Berharap ada orang searah perjalanan atau yang berpapasan. Tapi harapan saya tidak kesampaian juga. Saya tetap melaju sendiri dengan diterangi lampu motor standar yang hanya menjangkau kira kira 5-6 meter ke depan.

Berada di tempat yang asing sendirian sangatlah tidak nyaman. Pikiran bercabang kemana-mana. Kadang terlintas pikiran yang tidak-tidak. Kalau terjadi ini atau terjadi itu, saya harus gini, saya harus gitu. Terus aja pikiran berputar sekitar itu. Dan entah sudah jam berapa dan berapa lama saya menelusuri jalanan ini.

Air hujan mulai terasa tembus pakaian. Dingin terasa di bagian leher dan dada. Air hujan merembes dari celah di bawah dagu. Kalau kaki sih, sejak dari awal hujan juga sudah basah. Sepatu yang saya pakai tidak tahan air. Hanya safety shoes semata kaki. Air merembes naik lewat kaos kaki hingga sampai betis. Walau pakai jas hujan setelan, tetap saja celana jin yang saya pakai basah sampai ke lutut.

Area hutan sepertinya sudah terlewati. Masuk area kebun atau ladang. Terlihat dari semak pinggir jalan yang mulai memendek dan sesekali seperti ada pagar bambu. Hati mulai sedikit lebih tenang. Dan ternyata di daerah yang lebih terbuka hujan telah berhenti.

Jika di tempat yang banyak pohon rindang mungkin hujan juga sudah berhenti, tapi air masih menetes dari daun daun. Saya lihat di langit beberapa bintang terihat. Langit mulai cerah, dan sepertinya ada bulan sabit di balik awan tipis. Jauh di muka sana seperti ada perkampungan, terlihat seperti ada cahaya lampu berkelip kelip.

Di akhir sebuah tanjakan yang tidak begitu curam saya lihat ada saung pinggir jalan. Saya langsung pinggirkan motor depan saung. Kebelet pingin pipis dari tadi ditahan. Standarkan motor, langsung menuju pinggir saung agak kebelakang.

Selesai buang air kecil saya masuk ke saung. Buka jas hujan, atasannya saja. Atasannya saya lipat dan dimasukan ke tas ransel. Saya ambil rokok di saku jaket. Dan ternyata bungkusnya sudah basah. Untung belum tembus sampai isinya. Sayapun menyalakan rokok dan menghisapnya. Nikmat rasanya.

Selesai satu batang rokok, bersiap lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah kampung di depan. Saya berniat untuk istirahat di sana. Baru saja duduk di atas motor, tiba tiba dari arah belakang ada yang memangil manggil berteriak. ” Oooy…tunggu..! ” katanya. Saya kaget dan reflek menoleh ke belakang. Seseorang berlari ke arah saya. Saya langsung turun lagi dari motor. Bersiap kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Seorang lelaki menghampiri saya. Sudah agak tua kayanya. Terlihat dari badannya agak bungkuk. Dan benar saja, ketika wajah terlihat walau ga begitu jelas, kumis dan jenggotnya sudah putih uban. Kepalanya pakai iket dan sarung diikatkan di pinggang.

“Den, ikut ke kampung Babakan sana”, Katanya sambil menunjuk ke depan. Sebelum menjawab saya perhatikan dia dari atas sampai ke bawah. Dia tidak membawa barang apa apa. Aman, saya pikir, kalaupun ada apa apa paling berantem tangan kosong. Bisa lah.

“Ayo Ki, saya juga arah sana” jawab saya sambil naik ke motor. Ransel di punggung saya pindah dibalik jadi di dada. Memberi ruang buat si aki yang dibonceng. Si aki naik langsung menclok di jok.

Motor saya slah langsung nyala. Oper gigi satu dan jalan. Malam tidak segelap tadi. Bulan walau baru sepotong cukup membantu juga sinarnya. Baru beberapa ratus meter dari saung tadi, jalan terasa semakin mulus. Dan akhirnya jalan sangat mulus. Motor terasa ringan melaju dengan cepat. Jalan relatif lurus dan hanya ada tikungan sedikit. Cukup hanya sedikit memiringkan motor. Lampu motorpun jadi lebih terang, mungkin karena ngebut.

Setelah beberapa lama, saya mulai masuk perkampungan. Rame juga ini kampung. Masih banyak orang lalu lalang. Jalannya mulus, rumah pinggir jalannya juga bagus-bagus. Terang benderang lampu di sepanjang jalan. Wah ini pasti belum terlalu malam, pikir saya, tadi serasa lama diperjalanan karena sendiri dan jalan jelek saja. Hampir di penghujung kampung si aki minta turun. “Den, aki mah di sini aja”. Saya langsung meminggirkan motor dan berhenti. Tepat di depan rumah yang sepertinya sedang hajatan. Terlihat banyak orang dan lampu di halamannya terang sekali.  Setelah turun si aki berkata “Den, terus aja lurus. Jangan berhenti sampai kampung itu.”

Saya mengangguk lalu saya pindahin lagi posisi ransel ke punggung lagi. Saya menoleh ke belakang, niat mau pamit sama si aki. Lah, si akinya sudah ga ada. Masuk ke halaman rumah kali pikir saya.

Menuruti kata si aki, saya langsung tancap gas. Walau tadinya pingin istirahat dulu. Jalan lurus semakin menjauhi kampung. Kebun dan sawah di kiri-kanan jalan. Semakin jauh pohon pinggir jalan semakin rindang dan kemudian jadi tebing di kiri dan kebun di kanan dengan kemiringan yang curam ke bawah. Tiba tiba jalan seperti terpotong. Jalan mulus berakhir. Kembali jalan gravel dan tanah. Motor beberapa kali oleng karena ban menginjak tanah lumpur yang melesak. Beberapa kali pula suara motor meraung raung. Karena saya harus oper gigi ke rendah secara tiba tiba, motor seperti kehilangan tenaganya. Seperti mengangkut beban yang sangat berat. Saya hanya bisa menggunakan gigi satu.

Beruntung tidak terlalu lama dengan keadaan ini. Saya lihat tugu dan akan segera memasuki perkampungan. Benar saja, hanya sekitar seratus meter setelah tugu ada pos ronda pinggir jalan. Saya berhenti depan pos ronda. Turun dari motor dan langsung rebahan.

Saya merasa sangat cape sekali. Badan lemas dan haus sekali. Ambil botol minum bekal di tas. Langsung diteguk habis. Isinya cuma setengah. Biasanya kalau berhenti pasti merokok dulu. Tapi kali ini rasanya tidak ingin. Kepala rasanya berputar dan tiba tiba rasa kantuk datang, tidak tertahankan lagi. Saya pun tertidur.

Ada terasa basah di muka. Pipi ada yang tepuk-tepuk. Saya membuka mata, tapi pandangan masih kabur. Sepertinya hari sudah terang. Coba duduk dan memperhatikan sekeliling. Ada beberapa orang di hadapan saya, tapi pandangan masih samar. Mereka berbicara tapi saya tidak mengerti apa yang mereka omongkan. Saya bingung. Ada apa dan kenapa ini.

Seseorang dari mereka memaksa untuk minum. Langsung menyodorkan cangkir plastik ke mulut saya. Terpaksa saya minum. Dia memiringkan cangkirnya sehingga saya meneguknya hampir habis. Kemudian dia menepuk nepuk kuduk saya. “Istigfar jang istigfar” katanya. Saya pun istgfar beberapa kali. Perlahan kesadaran saya kembali. Pandangan mata semakin jelas. Ada enam lelaki di hadapan saya. Melihat pakaiannya, mereka orang desa yang akan pergi ke kebun. Saya bergeser ke belakang menyandar di tiang.

“Alhamdulillah, sudah sadar “. Orang yang tadi memberi minum saya berkata. Paling tua dari keenamnya.

” Wa, tanya orang mana ini “. Kata yang berdiri agak kebelakang.

” Jang, dari mana mau ke mana? Kenapa ada di saung ini?”.

Sejenak saya diam untuk menenangkan diri sebelum menjawab.

” Saya orang Bandung, pa. Kemarin sore saya dari Cineam mau ke Langkaplancar “. Seketika sepertinya mereka kaget. Saling bicara diantara mereka.

” Salah jalan. Kenapa sampai di sini? Ga ada jalan ke sini “. Kata si bapa tua.

” Pa, saya di mana ini “. Saya balik bertanya.

” Sidamulih ini mah”. Jawabnya.” Coba cerita kenapa ada di sini”.

Kelima orang teman si bapa tua mendekat. Sepertinya penasaran dengan apa yang akan saya ceritakan. Saya pun ceritakan pengalaman tadi sejak pergi dari Cineam hingga tertidur di pos ronda pinggir jalan.

Selesai saya bercerita si bapa tua langsung istigfar beberapa kali. Orang orang yang lainnya ribut saling bicara. Kemudian si bapa ngomong “Makanya kalau bepergian itu harus berdoa dulu. Jangan sembarangan lewat tempat yang belum dikenal. Untung ujang masih dilindungi Gusti Allah. Bertemu makhluk yang tidak jahat”.

Saya masih belum mengerti apa maksud omongan si bapak tua tadi. “Pa, sebenarnya ada apa. Saya ga mengerti”. Saya balik bertanya.

“Jang, yeuh……dari Cineam mah tidak ada jalan ke sini. Sebelum Langkaplancar yang ke sini buntu di hutan. Jalan ini juga jalan ke kebun. Ujang dibawa ku makhluk lain. Ga ada kampung, apa lagi kampung gede yang ada listriknya. Ini di Sidamulih saja belum ada listrik apalagi ada jalan mulus”.

Saya jadi bingung sendiri. Siapa yang semalam dibonceng? Saya merasa pasti tadi malam lewat kampung gede dan jalan mulus. Dan tiba tiba saya teringat motor saya. “Pa, motor saya di mana?. “Itu sebelah sana ” kata teman si bapa tua.

Saya bangkit untuk melihat motor. Sekarang setelah di luar saung sekeliling terlihat sangat jelas. Ini bukan pos ronda seperti yang saya lihat tadi malam. Hanya saung tempat istirahat petani. Dan jalannya hanya jalan setapak. bukan jalan kampung. Motor saya tergeletak, padahal perasaan tadi malam saya standarkan.

Kaget melihat kondisi motor. Penuh lumpur. Lampu depan sampai tidak kelihatan kacanya. Jok juga belepotan. Apalagi ban pelek dan mesin penuh tanah lumpur semua. Ada beberapa tumbuhan yang nyangkut di badan motor.

Saya tidak offroad berat tadi malam, kenapa ini motor seperti habis membajak sawah? Yang lebih aneh pakaian saya tidak kotor. Hanya lembab saja. Celana jas hujan hanya kotor sedikit, terciprat genangan. Saya kembali ke saung. Terduduk lemas. Shock juga. Tiba-tiba perasaan takut timbul. Beberapa kali istigfar dan takbir dalam hati. Pikiran jadi kacau, antara pengalaman tadi malam dan kenyataan seperti yang diceritakan pa tua tadi bercampur aduk.

“Bawa ke kampung saja, istirahat di sana” Kata si bapak tua.

“Itu motornya bawain ke kampung ya ” Ia juga memberi perintah pada salah seorang temannya.

Dua hari saya istirahat di pinggiran kampung Sidamulih. Di rumahnya abah, demikian orang kampung menyebut si bapak tua. Selama dua hari itu, Abah tidak pernah membahas pengalaman aneh saya.

Hanya ngajak ngobrol masalah tani dan kehidupan orang kampung saja. Bahkan Abah melarang kalau orang kampung yang datang ke rumah Abah ngobrolin masalah itu. Pamali katanya. Mungkin supaya pikiran saya cepat pulih. Kondisi badan dan pikiran sudah fit lagi. Saya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Tidak meneruskan tugas survey. Saya bisa atur lagi waktu untuk melanjutkan survey di lain waktu. Tentunya sambil berkujung ke rumah Abah. Ngobrol dengan Abah, banyak pelajaran kehidupan yang bisa saya dapat. Saya diantar oleh salah seorang penduduk sampai Pamarican, Banjar. Dibonceng, sekalian akan belanja ke pasar dan jadi penunjuk arah juga. Hari itu juga, sore hari saya bisa sampai di Bandung.

“Siapakah yang saya bonceng di hutan itu? Menyesatkan saya atau menyelamatkan saya? “. Pertanyaan yang sampai sekarang tidak pernah terjawab.

Dan satu hal yang tidak saya ungkapkan kepada siapapun bahkan ke Abah sampai beliau meninggal tahun 2002. Padahal paling tidak tiga bulan sekali saya berkunjung ke Abah. Orang yang saya bonceng di hutan itu, suara, raut muka, jenggot, dan perawakan serta cara berjalannya sangat mirip dengan Abah.

Alfatihah buat Abah.

Catatan: Cerita ini terjadi sekitar tahun 1994, pada saat itu, tentu saja belum ada smartphone. Bahkan untuk foto pun belum tersedia file digital yang mudah untuk diakses seperti saat ini. Untuk itu, foto-foto yang dimuat dalam artikel ini hanya sebagai ilustrasi kondisi jalan yang pada saat itu dilalui oleh penulis. Semua foto merupakan dokumentasi pribadi penulis di berbagai lokasi di Selatan Jawa Barat

Teks: Mang Dedi

Foto: Mang Dedi


Jembatan Cibuni, Kabupaten Cianjur. Foto: Dokumentasi Mang Dedi
Jalan Gravel Rusak dengan Jembatan Kayu di Selatan Jawa Barat. Foto: Dokumentasi Mang Dedi
Gravel Ringan Melintasi Hutan Pinus di Selatan Jawa Barat. Foto: Dokumentasi Mang Dedi
Mulai Lelah dengan Jalan Tanah di Selatan Jawa Barat. Foto: Dokumentasi Mang Dedi

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *