Sejenak Mengaso dengan Es Bogado

Sejenak Mengaso dengan Es Bogado

posted in: Culinary | 0

Membeli Es Bogado tak hanya menghilangkan rasa dahaga, namun juga dapat menghilangkan rasa penasaran Anda terhadap kisah masa lampau Kota Semarang.

SEMARANG sebagai kota pesisir memiliki iklim panas terutama saat siang hari. Dalam cuaca cerah, teriknya matahari yang menyengat membuat kita seringkali mendambakan sesuatu yang segar.

Bila kebetulan Anda berada di dekat kawasan Kota Lama Semarang, Anda dapat sejenak beristirahat sembari melawan dahaga dengan mencoba Es Bogado di Kompleks Gereja Blenduk.

Es Bogado mirip dengan es campur yang sudah biasa kita temui. Namun tetap ada ciri khas dari es ini yang tak sama dengan es – es lain. Es Bogado terdiri dari cincau hitam, kacang hijau, jelly, sagu mutiara, biji selasih, ditambah tape yang telah dipanggang dan dipotong kecil – kecil — membuatnya tak sama dengan es – es lain. Kemudian diatas campuran bahan – bahan tersebut ditambahkan es serut dan dipadu dengan sirup dan susu. Paduan tersebut membuat Es Bogado terasa manis sekaligus gurih. Potongan tape panggang menambah cita rasa tersendiri.

Abdul Wakhid, mengenakan topi pet cokelat, mengaku semua bahan ia buat sendiri kecuali sirup. Termasuk tape panggang yang katanya sudah mulai langka di Semarang.

“Ayo, monggo kalau mau coba tapenya saja, ini sudah susah kalau cari dimana – mana sekarang,” ujarnya ramah sembari membuka stoples berisi potongan tape panggang tersebut. Potongan kotak – kotak berwarna putih kekuningan terasa manis dan legit, sekaligus gurih. Ketika ditanya perihal nama, Abdul Wakhid menjelaskan bahwa nama Bogado adalah rekaannya sendiri.

“Itu saya akronimkan dari boga dan gado. Boga itu kan makanan, kuliner. Kalau gado, dari gado – gado yang isinya macam-macam,” jelasnya.

“Kalau resep, saya ambil dari buku Sejarah Semarang yang ditulis Amin Budiman,” tambah Abdul Wakhid. Ia juga menjelaskan kalau resep es tersebut sebenarnya berasal dari Belanda.

Yang menarik lagi, bila Anda membeli Es Bogado ini, Anda juga dapat belajar sejarah. Abdul Wakhid sang penjual adalah mantan guru sejarah di sejumlah sekolah di Kota Semarang. Penyakit stroke menyebabkan ia berhenti dari profesi tersebut dan akhirnya ia memutuskan untuk menjajakan Es Bogado. Coba saja tanyakan apapun tentang sejarah, terutama sejarah yang pernah terjadi di Kota Semarang, dengan fasih Abdul Wakhid akan menjawab dan menjelaskan secara panjang lebar.

Secara tak langsung ia juga menjadi guide bagi para turis sembari menjajakan es-nya, terutama bila Sang Turis bertanya banyak tentang Kota Semarang dan sejarahnya.

Abdul Wakhid dan Es Bogado-nya dapat ditemui di Taman Srigunting pada hari Senin sampai Kamis dan di samping Gereja Blenduk pada Hari Sabtu dan Minggu. Hari Jumat merupakan hari liburnya. [Bela Jannahti/End]

 

Penyunting : Selestin Nisfu

Sebarkan :
  • 0
  • 87
  • 56
  •  
  •  
  •  
    143
    Shares
Follow Bela Jannahti:

Biasa dipanggil Bela atau Ella (kalau dirumah). Kesibukan saat ini: sedang berusaha meraih cita-cita, kadang baca buku, nonton film atau video, dan tertawa.

Latest posts from

Komentar anda?