Semangat Kopi dari Jambi

posted in: Culinary | 0

 

Kopi merupakan jenis tanaman perkebunan yang sudah dibudidayakan di Indonesia sejak jaman kolonial Belanda. Jenis kopi yang umumnya telah dibudidayakan untuk skalq komersial setidaknya ada 3 spesies, Arabica, Robusta, dan Liberika. Menurut genusnya, Liberika memiliki 2 spesies, yaitu Liberika dan Exselsa. Ada jenis-jenis kopi lain yang belum banyak diteliti. Hal ini wajar karena sebelum dibudidayakan beberapa abad lalu, kopi aslinya adalah tanaman hutan.

 

Kopi secara umum disepakati berasal dari Etiopia di benua Afrika. Untuk skala konsumsi komersial, kopi awalnya dibudidayakan dan dipopulerkan oleh bangsa Arab. Lalu masuk ke benua Eropa melalui Timur Tengah dan Turki, kemudian disebarkan ke seluruh dunia pada masa awal penjelajahan benua pada masa abad 15-16 masehi. Kopi masuk ke Indonesia pada abad ke-17 setelah perdagangan rempah-rempah ambruk, dan pengelolaan Hindia Belanda telah beralih dari VOC ke Kerajaan Belanda. Pada masa itulah awal kapitalisme di Indonesia. Masa ini ditandai dengan masuknya perusahaan swasta dalam pengelolaan perkebunan di Hindia Belanda.

Awalnya, kopi dikembangkan di Priangan, Jawa Barat. Kemudian karena baiknya penerimaan pasar, kopi juga dikembangkan di Sumatera, yaitu di Lampung, Aceh dan Sumatera Utara. Ini awal terbentuknya sentra perkebunan kopi skala industri di Indonesia. Sejak masa kolonial Belanda tersebut, wilayah Nusantara ini telah menjadi pemasok penting dalam rantai perdagangan kopi dunia. Ini diteruskan hingga Indonesia merdeka dan masa kini.

Pada tahun 2017, Indonesia berada di posisi 4 sebagai negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Uniknya, Indonesia tepat berada dibawah Vietnam, tetangga serumpun Asia Tenggara. Apa yang salah dengan perkebunan kopi di Indonesia kini?

 

Jambi, sebuah provinsi di tengah pulau Sumatera, dalam masa kolonial tidak menjadi target penanaman kopi untuk perkebunan swasta. Namun, sejak zaman kolonial, perkebunan kopi masyarakat telah ada di Jangkat, Kabupaten Merangin. Apakah Jambi terhitung sebagai rantai perkebunan Lampung? Bisa jadi. Paska kemerdekaan hingga kini, kopi dari Jambi memang sebagian besar di distribusikan atas nama “bukan Jambi”, tapi melalui Lampung, Padang, Medan dan Batam. Jadi, selama itu, branding kopi dari wilayah provinsi Jambi tidak menggunakan nama Jambi.

Semangat kopi di tahun 2015 hingga sekarang ini memiliki aura yang berbeda. Sejak itu, meski tetap menggunakan rantai distribusi dari Lampung, Padang, Medan dan Batam, beberapa pengekspor sudah percaya diri menggunakan nama Jambi atau kewilayahan yang lebih kecil sebagai brand kopi yang mereka jual. Diakhir tahun 2015, Kopi Liberika di Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah mendapat Sertifikat Indikasi Geografis dari Kemenkum HAM RI dengan nama Kopi Liberika Tungkal Komposit (Libtukom). Adanya SIG ini menambah rasa percaya diri bagi pegiat kopi di Tanjab Barat untuk memasarkan kopi dengan brand lokal.

 

Jambi kini cukup serius mengelola personal branding untuk kopi skala industri yang ada di Provinsi Jambi. Beruntungnya, momentum tren di konsumsi kopi skala domestik sangat mendukung. Selain itu, sebagai secara topografi Jambi terbentang dari Barat ke Timur dengan lanskap yang lengkap dan beragam. Beruntungnya lagi, masing-masing lanskap yang beragam ini telah memiliki kopi yang cukup untuk dipasarkan sampai ke skala industri. Lanskap yang beragam dan lengkap membuat Jambi memiliki semua jenis kopi komersial yang ada sekarang, namun, sayangnya, untuk Exselsa belum terdapat perkebunan skala besar di Jambi. Tampaknya peluang Exselsa ini akan segera terisi karena semangat kopi di Jambi pada tahun 2018 ini sangat tinggi.

Sebagai ujung tombak pemasaran perdagangan di Jambi, Disperindag Provinsi Jambi sangat getol memasarkan kopi Jambi baik skala nasional, bahkan internasional. Bahkan, Pak Ariansyah, selaku Kepala Disperindag Provinsi Jambi sampai kursus manajemen kopi untuk hal ini. Di ruang kantornya terdapat meja barista, beragam kopi dari sentra kopi di provinsi Jambi tersedia, dan hebatnya lagi, Pak Kadis (sapaan akrabnya), memiliki alat seduh kopi dan menyeduh kopi sendiri. Ya wajar harus dengan semangat tinggi, bagi Disperindag Provinsi Jambi, memang target pemasaran kopi jambi adalah untuk ekspor.

Di beberapa kesempatan dan pertemuan, Disperindag Jambi selalu mengenalkan kopi Jambi ke khalayak maupun tamu dengan tagline #KopiJambiUntukDunia.

Apakah Provinsi Jambi akan tampil maksimal di Medan International Coffee Festival bulan Juli 2018 nanti? Kita tunggu saja kabar baiknya ya.

 

Sebarkan :
  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Leave a Reply