Serunya Jelajah Sawah Berhadiah di Pasuruan

posted in: Destination | 0

Saat ini, pembangunan masyarakat dalam memajukan kesejahteraan dapat dilakukan melalui kegiatan desa wisata. Desa Gerbo, sebuah desa agraris di Pasuruan, Jawa Timur dianugerahi pemandangan alam indah sehingga sejatinya telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan wisata pedesaan.

 


Oleh : Hanifati Alifa Radhia / Instagram @alifa.radhia


Jelajah Sawah di Desa Gerbo, Pasuruan, Jawa Timur. Dok. Hanifati Alifa Radhia

 

Alam Desa Gerbo terdiri dari hutan, air terjun, sumber air, serta salah satu daya tarik utama desa ini adalah keberadaan hamparan lahan persawahan dan perkebunan berbentuk terasiring.

Kala itu, mendung menggantung di langit Gerbo, namun hal itu tidak menyurutkan niat dan semangatku serta masyarakat desa lainnya yang akan menghadiri perayaan ulang tahun sebuah komunitas di desa. Pemuda langganan keramaian atau PLANKER, begitu sebutan mereka. Komunitas yang mayoritas beranggotakan pemuda Desa Gerbo ini terbilang kerap mengadakan kegiatan sosial dan budaya. Perayaan ulang tahun komunitas yang didirikan sejak tahun 1996 itu dimeriahkan dengan kegiatan jalan sehat rutin setiap tahun. Tahun ini, kegiatan jalan sehat terasa berbeda tidak saja dari segi tema namun juga rute dan lokasi perjalanan yang akan dilalui. Pasalnya, kegiatan jalan sehat ini berpadu dengan tracking sawah yakni menjelajahi sawah-sawah di di desa.

Desa Gerbo sedang merintis pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Tahapan yang kini sedang dilalui Desa Gerbo adalah menata dan memasarkan produk unggulan desa sebelum beranjak pada menata daya tarik atau destinasi. Menurut Nazelia Devi (22 tahun), sekretaris dan penanggungjawab acara Anniversary PLANKER ke-22, kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan untuk mendekatkan komunitas pemuda PLANKER dengan masyarakat Gerbo.“prosesnya sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi untuk tahun ini agak berbeda karena pada tahun ini peringatan ulang tahun PLANKER kita gunakan untuk soft opening desa wisata (tracking sawah)”, ungkapnya.

Di Desa Gerbo, organisasi sosial atau kepemudaan seperti karang taruna tidak sepenuhnya berjalan efektif. Hal ini yang barangkali menumbuhkan dan memunculkan kelompok pemuda yang justru eksis di tingkat dusun. Kelompok-kelompok ini yang kemudian bergerak pada kegiatan event. Mereka eksis pada kegiatan karnaval dalam rangka perayaan agama atau hari besar tertentu di desa. Salah satu eksistensi yang terlihat seperti halnya pada komunitas PLANKER. Meski bernama pemuda, namun komunitas ini beranggotakan lintas usia baik permpuan maupun laki-laki. Mereka mampu bereksistensi dengan adanya pertemuan rutinan serta iuran swadaya di antara anggota. Komunitas ini bahkan telah mencoba menginisiasi pengelolaan kegiatan yang mengarah pada wisata.

Seperti potensi alam Desa Gerbo? Desa Gerbo merupakan salah satu desa yang memiliki wilayah paling luas di Kabupaten Pasuruan. Sejumlah 2.759 KK dan 10.195 warga tersebar pada enam dusun yakni Lorkali, Tengah, Jajang, Kejoren, Pagergunung dan Rojopasang. Menurut masyarakat, istilah nama “Gerbo” berasal dari kata ger atau ngger yang artinya orang Tengger dan bo yaitu nebo. Nebo diartikan sebagai “singgah atau transit”. Dengan demikian, Gerbo merupakan tempat orang-orang Tengger nebo. Pada zaman dahulu kala Gerbo adalah suatu daerah yang wilayahnya berada di pertengahan antara pemukiman penduduk Tengger dengan pusat perdagangan, yaitu Lekemar (Purwosari).

Kesuburan alam Desa Gerbo memberikan anugerah sehingga berbagai jenis tumbuhan dan pertanian dapat tumbuh. Mata pencaharian utama di desa ini adalah petani serta buruh tani. Berbagai jenis komoditas tumbuh di desa seperti padi, sayur-mayur yakni kubis, wortel, ketimun, tomat dsb. Tanaman kopi juga dibudidayakan di desa ini. Para petani menjual hasil panen pada juragan dari desa setempat. Sebelum dijual dan dikirim ke luar desa, beberapa jenis sayuran melalui proses pembersihan dan pengemasan. Sayuran itu dikirim ke wilayah lain seperti ke Pasar Porong, Kabupaten Sidoarjo dan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Para juragan atau pengepul mengambil sayur, membersihkan, kemudian mengemas sejumlah minimal 40kg.

Selain pertanian, potensi terbesar kedua di Desa Gerbo adalah peternakan sapi perah. Sebesar 40% masyarakat merupakan peternak yang berada di wilayah Dusun Kejoren dan Rejopasang. Mereka menyetorkan panen susu ditampung oleh KUD yang dilakukan setiap 10 hari. Adapun jumlah ternak yang rata-rata dipelihara masyarakat minimal berjumlah 2 atau 3 ekor sapi baik milik sendiri, tetangga atau KUD. Satu ekor sapi yang baik mampu menghasilkan susu sejumlah 25 liter dengan proses peras sebanyak dua kali yakni pagi dan sore. KUD membeli susu dari masyarakat seharga Rp. 3.800,- per liter. Penghasilan dari menyetor susu ke KUD terkadang harus dipotong oleh biaya untuk makanan ternak.

Jam telah menunjukkan pukul dua siang. Bersama partner seorang gadis desa setempat, kami segera bergabung dengan kerumunan masyarakat yang akan mengikuti jalan sehat. Hari itu, sebuah panggung disediakan lengkap dengan seperangkat alat musik pengiring. Tentu saja, sebelum memulai kegiatan jalan sehat, tak lupa dilakukan prosesi seremonial penanda ulang tahun dengan sambutan kepala desa serta pemotongan tumpeng. Sebelum jalan sehat dimulai, kami membeli kupon berhadiah yang akan diundi di akhir kegiatan. Kami berharap dari berkeliling sawah dapat pulang membawa hadiah, sebuah sepeda motor, misalnya.

Sekitar setengah jam kami para peserta jalan sehat berjalan melewati pemukiman desa, kemudian memasuki areal persawahan dan perkebunan yang sungguh menawan. Di kanan kiri nampak hijaunya tanaman sayuran kubis, wortel serta padi. Masyarakat Desa Gerbo yang mengikuti kegiatan jalan sehat ini terlihat begitu antusias. Berbagai kalangan serta usia tampak bersemangat mengikuti kegiatan ini, baik mereka yang telah berusia tua, muda laki-laki maupun perempuan. Ada banyak para keluarga yang membawa serta anak mereka. Seperti halnya para ibu-ibu desa yang saya temui berjalan beriringan bersama kami. Sepanjang perjalanan, mereka asyik bercengkrama, saling mengobrol satu sama lain, sesekali tertawa dan berkomentar apa yang tengah mereka lihat. Para ibu-ibu itu seolah-olah belum kehabisan energi karena letih berjalan. Di tengah rute perjalanan, hujan deras sempat mengguyur Desa Gerbo. Meskipun demikian, masyarakat tetap antusias mengikuti kegiatan jalan sehat hingga kembali ke panggung pengundian hadiah. Saya dan partner menjelajah sawah pun dengan setia memandangi. Teman saya itu membeli kupon dengan jumlah sedikit dari saya. Yang seru adalah, ketika pengundian hadiah sepeda motor, salah satu nomor kupon teman saya itu berhasil masuk nominasi. Namun sayang sekali, rupanya membawa pulang hadiah setelah lelah berjalan-jalan di sawah belum berpihak pada teman saya.

Wefie di salah satu landmark ekowisata di Desa Gerbo. Dok. Hanifati Alifa Radhia

 

Kegiatan jelajah sawah dipelopori oleh komunitas pemuda di Desa Gerbo ini selain diharapkan mampu menjadi andalan daya tarik wisata pedesaan, namun juga menginspirasi sebagai wujud partisipasi masyarakat terhadap pembangunan desa. Melalui wisata di pedesaan, perekonomian masyarakat dapat digerakkan melalui adanya produk unggulan desa. Mudahnya, desa wisata mampun mendatangan dan menarik pasar wisatawan yang nantinya akan datang ke desa kemudian membeli produk-produk desa.

Apa saja produk unggulan di Desa Gerbo? Ada banyak produk-produk olahan pertanian yang sudah diproduksi oleh masyarakat baik melalui UKM, kelompok tani dan kelompok wanita tani. Produk unggulan itu meliputi gerit (nasi jagung instan), serbuk minuman jahe instan, aneka kripik berbahan pisang, tahu, tempe, aneka permen buah seperti mangga, jambu, naga, kopi bubuk. Selain produk olahan makanan, ada pula produk obat yakni minyak kelapa murni (virgin coconut oil). Salah satu produk yang khas dan jarang ditemui adalah krupuk berbahan singkong bernama pethulo. Di salah satu dusun, hampir warganya mampu mengolah nasi jagung serta krupuk pethulo.

Tentu tantangan yang dihadapi adalah pengorganisasian serta partisipasi masyarakat pada pembangunan serta pengembangan wisata desa. Terlebih, pembangunan desa wisata, tidak hanya terpaku pada unsur infrastruktur, melainkan juga pada pembangunan sumber daya manusianya. Hal ini jelas terdapat pada implementasi prinsip di dunia kepariwisataan yakni sapta pesona. Bukannya tanpa kendala, pengembangan desa wisata tentu membutuhkan sinergi dari seluruh elemen di desa, yakni antara berbagai kelompok masyarakat, pemerintah desa serta Bumdes. Jika cita dan komitmen ini dapat ditaati, kelak akan lahir wisata pedesaan untuk menuju desa yang mandiri dan sejahtera. [END]

Sebarkan :
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Leave a Reply