Serunya Kerja Sambil Jalan-jalan di Wakatobi

Serunya Kerja Sambil Jalan-jalan di Wakatobi

posted in: Destination | 0

Wakatobi. Tujuan wisata yang sudah tidak asing lagi, terutama di kalangan para diver. Nama Wakatobi diambil dari masing-masing empat pulau utama di kepulauan ini. Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Alam bawah laut Wakatobi memang tidak dapat dianggap sebelah mata. Kawasan perairan di sekitar Wakatobi termasuk yang memiliki jenis terumbu karang terbanyak di Indonesia. Keindahan Taman Laut Wakatobi sudah sangat terkenal, bahkan mendunia. Sebagian traveler mungkin sering mengidentikkan Wakatobi dengan Wakatobi Dive Resort yang konon waiting listnya bisa sampai bertahun-tahun dan memiliki lokasi yang cukup privat.

Wanci, Wakatobi

Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Pulau Tomia setelah kunjungan pertama saya yang terbilang singkat pada akhir Agustus lalu. Kami tiba di Bandara Matahora, Wangi-wangi tepat pukul 11.20 WITA. Kami tinggal di Wanci dulu satu malam karena masih ada urusan pekerjaan. Saya segera menghubungi penginapan Abi Jaya di Tomia yang sudah cukup banyak referensinya di kalangan para traveler.

Untunglah masih ada kamar kosong untuk kami berempat. Maklum, bulan-bulan ini memang tingkat kunjungan ke Wakatobi sedang tinggi. Sedari Agustus hingga Desember memang sedang banyak diadakan festival budaya di Sulawesi Tenggara, termasuk di Wakatobi. Bulan lalu (Spetember) telah selesai dilaksanakan Festival Kaledupa dan bulan depan (November) akan ada Festival Pulau Tomia dan ulang tahun Kabupaten Wakatobi pada pertengahan Desember nanti.

Pantai Huntete. Dok Dya Iganov

 

Kembali ke Pulau Tomia

Ibu pemilik Penginapan Abi Jaya memberi informasi bahwa kapal kayu yang akan berangkat ke Pulau Tomia jadwalnya bergeser lebih cepat. Memang, jadwal kapal disini, baik kapal kayu maupun speed boat tidak tetap. Semua tergantung kondisi pasang surut di pelabuhan. Kami sempat salah masuk pelabuhan karena memang tidak disebutkan di pelabuhan mana. Selain jadwal yang tidak tetap, lokasi sandar kapal pun berubah. Biasanya, kapal kayu yang akan menuju Tomia sandar di Dermaga Mola, tetapi pagi ini ternyata sandar di dermaga lain. Sudah dapat dipastikan, kami pun menjadi penumpang terakhir.

Kapal tidak dapat sandar di dermaga, jadi kami harus naik pompong terlebih dahulu dari dermaga hingga kapal. Tarif pompong 10.000 Rupiah per orang. Berhubung kami sudah dititipkan oleh ibu pemilik Penginapan Abi Jaya ke nahkoda kapal yang sekaligus tetangganya, jadi setidaknya kali ini kami tidak perlu drama ketinggalan kapal. Perjalanan menuju Pulau Tomia kami tempuh selama tiga jam dengan kondisi cuaca cerah, serta perairan dan angin yang cukup tenang. Setiba di Pulau Tomia, kami sudah dijemput oleh ibu pemilik penginapan dan satu orang lainnya. Jarak dari pelabuhan tempat kami datang ke penginapan hanya kurang lebih 170 m.

Pulau Tomia memiliki dua pelabuhan utama, yaitu Pelabuhan Waha di Kelurahan Waha dan Pelabuhan Usuku di Kelurahan Bahari. Kali ini kami sandar di Pelabuhan Waha. Tidak banyak yang kami lakukan di hari pertama, hanya mengecek kesiapan alat survey, menemui camat setempat, dan sisanya kami habiskan untuk istirahat. Sayang rasanya kalau sore yang cerah ini dihabiskan hanya di penginapan. Saya dan dua teman saya memutuskan untuk berjalan kaki ke Pantai Lakota.

Jalan menuju pantai Huntete. Dok Dya Iganov

Pantai Lakota merupakan salah satu icon di Pulau Tomia. Pantai ini juga merupakan gerbang masuk Festival Pulau Tomia awal November nanti. Sore ini terlihat kesibukan warga untuk mempersiapkan festival. Area Pantai Lakota sudah rampung direnovasi. Pantai Lakota merupakan spot sunset terbaik di bagian Barat Pulau Tomia. Pantainya landai, tidak ada gelombang, airnya sangat jernih dan berpasir putih. Sudah disediakan kursi-kursi lengkap dengan landmark tulisan ‘Pantai Lakota’ berukuran besar seperti yang sedang marak di taman-taman dan di sudut Kota Bandung. Sayangnya, sunset sore ini sedikit mendung, jadi kami tidak dapat sunset dengan matahari yang bulat sempurna menghilang di perairan.

Semakin malam, Pantai Lakota semakin ramai. Mulai banyak muda-mudi yang berdatangan. Para penjual makanan dan minuman pun baru mulai ramai menjelang malam. Pagi hingga sore hari akan cukup sulit menemukan penjual makanan dan minuman disini, meskipun merupakan spot untuk pedagang kaki lima. Kami pun segera kembali ke penginapan. Malam ini kami lebih memilih makan bakso yang penjualnya ternyata berasal dari Sragen. Meskipun harganya terbilang cukup mahal, tapi Bakso Mas Dhika ini laris manis bahkan sampai menjelang malam. Pilihan makanan di sekitar penginapan memang hanya sedikit, karena kebanyakan semuanya berpusat di Pantai Lakota.

Ujung Timur Pulau Tomia

Kegiatan kami di Pulau Tomia ini lebih difokuskan pada observasi dan pengukuran lokasi-lokasi untuk rencana pelabuhan. Lokasi pengukuran kami terbagi ke dalam lima wilayah. Dua wilayah masuk ke dalam adiminstrasi Kecamatan Tomia Timur dan dua wilayah lagi masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Tomia. Kami akan mulai dari lokasi terjauh di Kecamatan Tomia Timur. Lokasi survey pertama kami berada di Kecamatan Tomia Timur, tepatnya di Dermaga Tiro’au dan Pelabuhan Usuku. Hari pertama surey di Pelabuhan Usuku tidak terlalu efektif karena adanya kapal tongkang yang karam dan baru bisa ditarik ketika air di alur masuk pasang.

Dermaga Belanda ketika air pasang. Dok Dya Iganov

Kapal tongkang yang karam berasal dari Kendari dan mengangkut material bangunan untuk pembangunan Pelabuhan TPI yang tidak jauh dari Pelabuhan Usuku. Kapal karam di alur masuk bukan lagi hal yang aneh di Pulau Tomia ini. Bahkan tidak sedikit yang baling-balingnya patah, mengalami kerusakan, keterlambatan jadwal kapal-kapal lainnya, dan kerugian-kerugian lainnya. Banyak dari yang saya wawancara mengeluhkan kurang layaknya alur masuk di Pelabuhan Usuku dan Waha sebagai pelabuhan utama untuk kepentingan ekonomi, sosial, bahkan pariwisata.

Bercerita sedikit tentang akses masuk menuju Pulau Tomia. Bagi wisatawan lokal, mancanegara, dan penduduk di Wakatobi yang akan menuju Pulau Tomia, saat ini hanya bisa ditempuh dengan menggunakan jalur laut. Bukannya Pulau Tomia sebagai pulau dengan spot diving terbanyak di Kabupaten Wakatobi tidak memiliki bandara, hanya saja pemanfaatannya masih sangat sangat terbatas. Bandara yang berada di Pulau Tomia saat ini hanya merupakan satu-satunya Bandara yang izin pemakaiannya khusus bagi salah satu resot termahal di Wakatobi, bakan di Sulawesi Tenggara.

Izin penggunaan bandara hanya khusus untuk tamu-tamu resort tersebut yang rute penerbangannya dari Denpasar – Sumba – Wakatobi (Tomia). Ketika banyak warga mengeluhkan kondisi pelabuhan-pelabuhan utama yang ada saat ini, alternatif trasnportasi udara masih belum bisa dinikmati. Ironisnya, transportasi udara merupakan salah satu alternatif yang dirasa dapat menjadi ‘katalis’ perkembangan suatu wilayah kepulauan, termasuk Kabupaten Wakatobi.

Diperkirakan air baru mulai pasang pukul 15.00 WITA. Situasi ini saya manfaatkan untuk berkeliling di Kecamatan Tomia Timur. Berdasarkan informasi dari orang-orang yang saya temui di Pelabuhan Usuku, di ujung Timur Pulau Tomia ada desa wisata yang menarik untuk dikunjungi. Saya dan satu teman saya, Mufti memutuskan untuk mengunjungi desa wisata tersebut, Desa Kulati. Jarak Desa Kulati dari pusat kecamatan Tomia Timur cukup jauh dan kondisi jalanan masih sangat sepi. Kondisi jalan sudah cukup baik dan di beberapa titik masih terdapat perbaikan jalan. Tujuan utama kami di Desa Kulati adalah Pantai Huntete.

Pantai Lakota. Dok Dya Iganov

Pantai Huntete merupakan pantai berpasir putih yang masih sangat sepi. Tidak ada loket penjagaan, warung, maupun rumah penduduk. Sekeliling pantai hanya merupakan semak belukar diselingi pohon kelapa, serta beberapa bangunan kecil untuk membakar kelapa. Jalan menuju Pantai Huntete cukup curam namun kondisinya sudah bagus. Sepanjang jalan dari Desa Kulati menuju Pantai Huntete hanya merupakan padang rumput dan tidak ada permukiman penduduk.

Area di sekitar Pantai Huntete masih sangat alami, bahkan jalan beton dan aspal pun langsung menghilang digantikan jalan setapak yang tertutup pasir serta jalan setapak kecil membelah semak belukar. Kondisi Pantai Huntete ketika kami tiba sangat sepi dan di sepanjang bibir pantainya dipenuhi sampah kayu yang terbawa hanyut. Karena tidak banyak yang dapat dilakukan dan langit di depan kami (tepat di atas Laut Banda) sudah sangat gelap, kami bergegas kembali ke Desa Kulati.

Di tengah jalan, kami spontan belok ke arah benteng dan lokasi Meriam yang ternyata sama sepinya dengan Pantai Huntete. Meriam yang dimaksud ternyata hanya digeletakan begitu saja di area hutan tepat di bibir jurang bekas reruntuhan benteng. Pemandangan dari atas benteng cukup menarik. Tepat di tebing di sisi kiri kami, ternyata terdapat pantai-pantai kecil berpasir putih yang dikelilingi tebing dan batuan besar. Jika ingin ke pantai-pantai kecil tersebut, pengunjung harus menuruni tebing kurang lebih tiga puluh menit hingga satu jam. Sayangnya, waktu kami tidak sebanyak itu. Mungkin lain kali saja kami kunjungi.

Kami tiba kembali di gapura sekaligus pos tiket kawasan wisata Pantai Huntete. Kali ini sudah banyak anak kecil di sekitar pos penjagaan. Padahal ketika kami lewat tadi, tidak ada siapapun. Kami membayar retribusi dan berfoto sebentar, karena gerimis sudah turun. Kami bergegas kembali ke Desa Kulati, namun hujan sudah terlanjur deras. Kami sempat berteduh di pos penjagaan. Kami sempat mengambil jalur memutar ke arah gunung, namun tidak jadi kami lanjutkan, mengingat matahari sudah hampir tenggelam dan jarak permukiman di jalur ini cukup berjauhan. Akhirnya kami kembali ke Waha melalui jalur semula.

Survey di Pulau Tomia

Selama di Pulau Tomia, kami menyewa dua sepeda motor. Satu milik penginapan dan satu lagi milik tetangga di sekitar penginapan, setelah motor yang sebelumnya saya gunakan mendadak mogok di tengah jalan ketika menuju lokasi survey. Biaya sewa motor disini berkisar antara 70.000 – 100.000 Rupiah per hari. Kami memilih menggunakan motor ketimbang menyewa mobil karena selain lebih murah, juga lebih praktis. Beberapa lokasi survey kami medannya cukup curam, bahkan masih ada yang harus masuk ke area kebun.

Hampir setiap hari selama satu minggu ini, kami sudah bersiap untuk pengukuran semenjak pukul 08.00 WITA. Selain untuk memanfaatkan waktu, listrik di Pulau Tomia ini sudah mati semenjak pukul 06.00 WITA dan baru akan menyala kembali pukul 16.00 WITA. Untuk urusan makan, tidak terlalu banyak pilihan tempat. Alun-alun Kecamatan Tomia merupakan lokasi dengan variasi makanan yang cukup banyak. Hanya saja, semua tempat makan baru buka sore menjelang malam. Tiada hari tanpa Pentol. Hampir setiap pulang survey atau setelah makan malam, kami membeli Pentol.

Pentol (Bakso tusuk) adalah sebutan untuk jajanan tradisional serupa seperti bakso namun kandungan dagingnya lebih sedikit, terkadang pentol hanya terbuat dari tepung kanji, pentol banyak digemari masyarakat semua usia dan semua kalangan karena harganya yang relatif murah dan rasanya yang enak (Dikutip dari berbagai sumber).

Sama halnya dengan Pentol di Tomia, harganya murah dan berhubung kami bertiga memang gemar Pentol, jadi sekali beli pasti memborong. Faktor lainnya adalah tempat pentol langganan kami jaraknya cukup jauh dari penginapan, jadi sekalian saja beli yang banyak daripada harus bolak-balik. Setelah menjelajah beberapa tempat makan yang dapat kami temui sepanjang jalur lokasi survey – penginapan, ternyata sebagian besar pemilik tempat makan yang kami singgahi berasal dari Pulau Jawa. Perantau Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah yang terbanyak. Bahkan, beberapa sudah merantau ke Wakatobi sejak sepuluh tahun yang lalu.

Sunset di pantai Lakota. Dok. Dya Iganov

Lokasi survey kami hampir semuanya masih berupa lahan kosong, kecuali Pelabuhan Waha dan Pelabuhan Usuku. Medan menuju lokasi-lokasi survey kami masih cukup curam meskipun kondisi jalannya sudah diaspal. Sebelum ke lokasi, kami selalu membeli air mineral, minuman kemasan, dan makanan ringan karena jarak dari lokasi ke warung terdekat disini pun cukup jauh. Bahkan, tidak jarang warung yang terdekat pun tutup sehingga harus mencari warung lainnya. Masalah harga, sudah pasti disini sedikit lebih mahal.

Sedikit gambaran, antara antar desa di Pulau Tomia umumnya dipisahkan oleh semak belukar, kebun, dan padang rumput. Jika malam hari, akan sangat gelap dan sepi. Pagi hingga sore hari pun jalanan di Pulau Tomia terbilang sepi, jadi jika malam hari sudah dapat dipastikan akan lebih sepi lagi. Listrik hanya ada di rumah-rumah, sepanjang jalan tidak ada penerangan jalan, jadi, ketika mulai gelap, kami sudahi survey kami dan kembai ke penginapan. Kalaupun makan malam di desa yang cukup jauh dari penginapan, biasanya tidak lebih dari jam 07.00 WIB karena semakin malam, jalannya semakin sepi.

Lokasi survey favorit adalah Pantai Kollo Soha. Kollo Soha merupakan pantai dengan garis pantai yang sangat panjang, berpasir putih, landai, serta memiliki ombak yang tenang. Pantai ini hanya dimanfaatkan sebagai area sandar kapal-kapal nelayan berukuran kecil. Area yang kami survey merupakan semak belukar yang sangat rimbun, bahkan seekor ular cukup besar sempat melesat di lokasi pengukuran kami. Batas area survey kami yang sepenuhnya merupakan semak belukar adalah dinding tebing yang memiliki cerukan-cerukan.

Lokasi lainnya adalah Dermaga Belanda. Dermaga Belanda merupakan tumpukan batu sepanjang lima belas meter ke laut lepas. Dermaga ini memang dibuat pada masa penjajahan Belanda dengan kerja rodi. Batu-batu di dermaga ini semuanya didatangkan dari atas bukit. Jalur menuju area bukit saat ini pun medannya masih cukup curam, meskipun sudah berupa jalan aspal. Bayangkan pada jama penjajahan Belanda dahulu belum ada akses jalan dan harus membawa batu besar dari atas bukit ke tepi pantai.

Bagian ujung Dermaga Belanda merupakan salah satu spot diving unggulan di Pulau Tomia. Di ujung Dermaga Belanda inilah area diving Marimabok berada. Bila air sedang surut, kita bisa menyusuri dermaga hingga ujung. Jika air sedang pasang, sebagian besar bagian dermaga akan terendam. Dermaga Belanda pun merupakan salah satu spot sunset yang cukup bagus. Jika sedang cerah, matahari akan terlihat bulat sempurna ‘tenggelam’ di laut. Pemandangan sunset seperti ini sangat mirip dengan pemandangan sunset di Pantai Lakota. Dermaga Belanda dan Pantai Lakota hanya terpisah satu buah bukit. Bila diputari dengan perahu hanya perlu waktu sekitar lima menit dari Pantai Lakota.

Perjalanan saya kali ini ke Wakatobi, tepatnya ke Pulau Tomia sebenarnya dalam rangka perjalanan dinas. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai keindahan alam bawah laut Wakatobi dan khususnya Pulau Tomia yang sudah mendunia. Sebaliknya, disini saya mencoba mengenalkan sisi lain Wakatobi, khususnya Pulau Tomia yang selama ini hanya kita kenal dari segi pariwisata bawah lautnya saja. [Dya Iganov/End]

 

 

Sebarkan :
  • 379
  • 364
  • 352
  •  
  •  
  •  
    1.1K
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar anda?