Setidaknya Sekali Dalam Hidup, Kamu Perlu Berada di Kondisi Pasrah Pada Alam

Saya cukup beruntung, karena selama saya hidup, saya sudah mengalaminya berkali-kali. Terkadang kondisi semacam itu tidak direncanakan, namun banyak juga yang saya rencanakan.


Keluar dari Zona Nyaman atau comfort Zone, adalah satu cara menguji diri untuk mencapai titik kontemplasi, dimana fisik manusia, perlu melewati sebuah rekayasa peristiwa, sehingga menemukan satu titik dimana dia dapat berpikir ulang atas kehidupan masa kini, yang telah dia lewati, lalu dia menemukan secercah kebaruan untuk menjalani hari depan.


Dimulai dari ketika saya kelas 2 SMP. Saya mengikuti sebuah kapal yang menyelundupkan barang dagangan dari Jambi ke Kepulauan Riau. Orang pesisir timur Jambi menyebut orang atau kapal yang melakukan itu dengan sebutan “pembelok” atau bisa juga “smokel”. Ya, bahasa formalnya adalah penyelundup. Kami disebut menyelundup karena, menurut hukum formal, usaha harus memiliki ijin, dan tidak semua barang dagangan bisa diperjualbelikan sesuka hati, apalagi komoditi alam. Itu saja, selebihnya barang yang kami jual adalah halal, dan legal diperjualbelikan di pasar lokal. Di perjalanan ini, saya menemukan diri tergolek hampir 24 jam, dan terus mabuk laut sampai badan saya lemas, tidak bisa bangun. Alam yang menghajar saya bernama ombak laut, aroma air asin. Tiada ampun.

Lalu tahun 2010, ketika saya sudah mulai sedikit pandai menulis kata. Saya nekat dan terdorong oleh ajakan teman, lalu pantang menjilat ludah sendiri. Pantang menarik janji yang telah diucao. Terdorong juga oleh jiwa petualang yang menggelegak kala muda, saya akhirnya berangkat juga, dengan Vespa Butut dari Jogja ke Jambi, seorang diri. Saat itu bulan Ramadhan, saya mengejar lebaran. Syukur, kala takbir pertama berkumandang menjelang Maghrib, saya telah tiba di kampung halaman. Tentu saya harus pulang kembali ke Jogja dengan Vespa tersebut karena saat itu saya ada di fase menuntut ilmu di Jogja.

Di Tahun 2012, terdorong oleh rasa tidak ingin pulang, saya pun menyiksa diri dengan bersepeda Onthel menuju Sumbawa. Janji dan mengunjungi rumah teman saya jadikan pembenaran. Tidak kurang 24 hari saya mengukur jalan antara kota Yogyakarta sampai ke Taliwang dengan sepeda tua nan kuat itu. Banyak hal saya temui, cerita yang akhirnya membumbui perjalanan hidup saya sampai sekarang.

Onthel di pos waru III, TN Baluran, Jawa Timur. Doc. Nurul Amin

Itu tiga momentum yang saya catat dengan tinta khusus di ingatan saya. Sebuah penanda perubahan. Ada banyak lagi petualangan, pendakian gunung, hal-hal tidak terduga yang mengharuskan saya ada dikondisi pasrah pada kehendak alam.

Itu, perjalanan-perjalanan yang tidak bermotivasi euforia semata. Sebuah proses tanpa pencapaian. Berbeda daripada kebanyakan pendakian gunung di Jawa yang saya lakukan dulu, tiga perjalanan di atas tidak berekspektasi, tidak ingin mencapai apa-apa (setidaknya kebutuhan pada pencapaian bukan jadi tujuan saya). Dan justru disitulah saya lebih mendapat banyak hal. Hal-hal yang tidak terdefinisi kan, tidak memiliki bentuk dan porsi yang jelas, namun jelas saya peroleh dan bersemayam di diri saya, tanpa atau dengan saya sadari.

Jika dijabarkan satu persatu dengan kata. Rasanya banyak sekali yang bisa dituliskan. Akan saya nukil beberapa saja yang penting.

Saya semakin meyakini bahwa pada dasarnya bumi ini diisi lebih banyak orang baik daripada yang tidak baik. Setiap orang punya kadar, dan timingnya sendiri untuk menjadi atau menunjukkan kebaikan. Saya, menjadi ingat inspirasi dari Buya Syafi’i Maarif yang pada intinya pernah memberi pelajaran seperti ini : Bahwasanya jikalau kita masuk pada seseorang dari sisi kebaikannya, maka kita akan menemukan kebaikannya. Sederhana kan?

Alam semesta, manusia, semuanya diciptakan Tuhan dengan cinta kasihnya. Semua makhluk, bahkan yang terlihat, atau benar-benar jahat, punya cinta di dalam dirinya. Cinta dengan kadar, bentuk, dan penyampaiannya masing-masing. Terkadang konflik dan sengketa antara dua hal, adalah tidak bertemunya masing-masing kutub dari cinta yang dimiliki oleh masing-masingnya. Saya menemukan, dari sekian banyak interaksi saya dengan manusia atau hewan, pada tiga perjalanan diatas, bisa dibilang 95% nya adalah hal-hal baik, atau mengarah dan menimbulkan kebaikan di kemudian hari.

Apa yang kita lihat di media, selain hanya kulit luar yang kerontang, juga adalah ketidakbertemuan kutub-kutub cinta yang tersebut di atas. Itu hanya penilaian dari sudut pandang tertentu yang tidak menyeluruh.

Pelajaran penting berikutnya. Bahwa diri saya sangatlah kecil, bahkan jika dibandingkan sesama manusia. Lalu dari manakah datangnya kepingan dan perasaan besar di kepala, juga hati? Saya seringkali menemukan diri saya berada di kerumunan umat manusia, dan disitu tiba-tiba saya tercenung. Lihatlah, sekian ribu manusia terkumpul di satu lokasi, dengan jalurnya masing-masing. Lihatlah berjuta kendaraan, partikel debu, burung-burung, gedung-gedung, kehidupan, bagaimana itu ada, dan untuk apa? Disitu saya jadi mafhum akan kebesaran Sesuatu yang mengontrol ini semua, tanpa cela.

Menjemur pakaian dan catatan di Gili Trawangan, Lombok. Doc. Nurul Amin

Yang ketiga, bahwa kematian itu dekat, dan bukan urusan saya. Ya! Jika dipikir secara logika, berdasarkan probabilitas, ada beribu penyebab yang membuat saya bisa mati konyol di tiga perjalanan itu. Bahkan ada yang hanya berjarak sepersekian detik, antara hidup dan mati. Tapi Sesuatu yang menguasai dan berkehendak atas diri saya belum menuliskan bahwa saya mati saat itu, dan saya masih bernafas sampai detik ini.

Di cerita Vespa Butut, jika anda pernah membaca cerita bersambungnya. Ada satu momen ketika saya hampir tersambar bus malam, saya kaku beberapa detik karena shock melihat kilatan cahaya lampu sorot sekaligus deru mesin, sekaligus bus besar yang berselibat menghadapi saya. Tidak sampai dua detik, tidak sampai 10 Senti jarak saya dengan mati. Tidak ada yang akan menghalangi, kecuali kehendak dari Pemilik diri saya. Dan momentum itu saya bisa replay beribu kali di kepala saya hingga sekarang.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa saya gali. Namun, tiga yang saya nukilkan diatas kiranya cukup mewakili besarnya pelajaran yang bisa diperoleh seseorang yang melakukan proses perjalanan, dengan keluar dari zona nyamannya.

Disitu saya mendalami satu kalimat yang berbunyi : Jika kamu mengenal dirimu, kamu akan mengenal Tuhanmu. Melalui sebuah pencarian diri lewat perjalanan-perjalanan itu, sedikit-sedikit (sangat sedikit) saya mulai merasakan dalamnya kalimat tersebut (bahkan saya tidak berani bilang saya memahami kalimat tersebut, karena saking dalamnya). Terkadang kita, seumur hidup pun mencari, tidak bisa mengenali siapa diri kita sendiri.

Nah, suatu scene dalam film petualangan berjudul In To The Wild mengatakan kira-kira :

“Setidaknya sekali dalam hidup kita, kita benar-benar merasakan hidup di alam, dengan cara primitif, melihat dan merasakan bagaimana alam yang sebenarnya”.

Coba lah, itu akan memiliki banyak pelajaran yang tidak bisa diperoleh dari guru manapun, kecuali mengalaminya sendiri (dan kecuali Tuhan berkehendak). [To be Continue]

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *