Siapa Bilang Orang Gendut Nggak Bisa Canyonning

posted in: Destination | 0

Bali adalah pulau yang mengagumkan dan menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanagera.

Dok. Imelda.

Ini adalah pengalaman pertamaku berkunjung ke pulau Bali. Yang membuatnya seru adalah karena aku pergi ke Bali dengan bersepeda motor dari Yogyakarta dengan satu temanku. Perjalanan kami tempuh sekitar 15 jam. Sesampainya di Bali, kami langsung tancap gas menuju daerah Buleleng. Sekitar dua jam perjalanan, kami pun sampai di tempat tujuan kami yaitu kantor Adventure & Spirit. Kami langsung disambut ramah oleh teman kami. Dia adalah mas Pii. Dia sangat berpengalaman dalam hal yang berbau petualangan dan merupakan salah satu instruktur canyonning tingkat internasional. Setelah kami temu kangen dan melepas lelah sejenak, kami ditawari untuk langsung terjun ke lapangan. Kebetulan mas Pii juga akan menemani tamu untuk canyonning.

Awalnya saya ragu karena takut ketinggian dan tidak pede dengan badan saya yang gendut (berat 70 kg dengan tinggi badan 157 cm) tapi akhirnya saya menerima tawaran itu. Kami langsung berganti wetsuit (pakaian khusus canyonning) lengkap dengan alat safety lainnya. Sebelum terjun ke lapangan, kami diberikan sedikit pengarahan. Sekitar 30 menit pengarahan, kami pun langsung berangkat menuju lokasi dengan menggunakan mobil bak terbuka. Wow…jalan menuju lokasi cukup terjal dan menantang adrenalin. Setelah 30 menit akhirnya kami sampai di lokasi. Canyon pertama yang kami akan taklukkan adalah Kalimudah. Satu trip untuk menaklukkan canyon Kalimudah memakan waktu sekitar dua setengah jam. Kami harus berenang, berjalan dari point satu ke point yang lain, melompat bebas dari tebing setinggi 10 meter, dan rappelling air terjun yang tingginya mencapai 8 meter. Wuhuuu….benar – benar menantang adrenalin.

Pemandangan alam yang indah dan masih asri juga menambah semangat kami. Belum puas sampai disitu, kami melanjutkan perjalanan di canyon kedua yaitu canyon Kerenkali. Saat tiba di lokasi, kami langsung melihat dua air terjun berdampingan yang berasal dari sumber berbeda. Pada canyon kedua ini lebih menantang karena kami harus rappelling air terjun yang tingginya mencapai 10 meter dengan tebing yang sangat licin. Awalnya sempat ragu sampai gemetar kaki saya untuk menuruni air terjun yang cukup curam itu, tapi akhirnya saya beranikan diri untuk rappelling. Setelah semua siap dan pengaman dipasang, kami rappelling air terjun secara bergantian. Wuhuuu…ternyata saya bisa menaklukkan rasa takut saya. Sesampainya dibawah, kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya air terjun sebelum kembali ke basecamp. Saya tertawa saat mengingat selama trip tadi. Ternyata saya bisa menyelesaikan trip ini. Saya bisa terjun dari tebing curam yang licin juga menuruni air terjun yang cukup tinggi walaupun badan saya tergolong gendut. Saya juga bisa menaklukkan rasa takut saya akan ketinggian. Sejak saat itu saya lebih berani mencoba hal – hal baru dan lebih percaya diri. Selalu mensyukuri apa yang ada pada diri kita itu lebih baik daripada mengeluh mengharapkan apa yang tidak kita miliki. Siapa bilang orang gendut ngga bisa ngelakuin olahraga extreme. [End/Imelda]

Sebarkan :
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
Follow Imel Traveller:

Pecinta musik dan olahraga extreme khususnya olahraga air Rasanya kalo liat air pengin langsung njebur dan nggak pengin mentas walaupun cuma se ember hihihi Suka mencoba hal - hal baru Hobi travelling dan kuliner-run :D I LOVE INDONESIA

Latest posts from

Leave a Reply