Silaturrahmi dengan Herman Lantang, Sang Legenda Pecinta Alam

Silaturrahmi dengan Herman Lantang, Sang Legenda Pecinta Alam

posted in: Experience | 0

Bermula dengan rencana perayaan ulang tahun keluarga besar Petualang24 yang berlangsung Juni kemarin, tim pengurus mulai menentukan lokasi dan biaya. Lokasi yang ditentukan untuk tahun ini adalah Herman Lantang Camping (HLC). Berlokasi di Taman Nasional Halimun-Salak berjarak 17 KM dari Kota Bogor atau memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai di HLC. Area camping ini juga berada dikawasan Curug Nangka Bogor.

Sekilas Tentang Herman Lantang Camping

Herman Lantang membangun HLC dengan konsep Glamour Camping, peserta tidak perlu membawa peralatan camping seperti biasanya, karena disini semua sudah disediakan seperti tenda, selimut, matras, dll. Bahkan fasilitas tambahan seperti listrik dan kamar mandi juga sudah ada. Tidak perlu bersusah payah mendirikan tenda atau memasak, hanya perlu membawa diri dan pakaian ganti sudah cukup.

Herman Lantang Camping atau biasa disebut HLC dibangun mulai tahun 2015 namun baru dibuka untuk umum tahun 2016. Terlihat masih banyak penyempurnaan di beberapa bagian lokasi. Saat ini sudah ada 10 unit tenda dengan masing-masing tenda berkapasitas 4 orang. Menurut pemiliknya, akhir Juni akan bertambah menjadi 15 tenda. Fasilitas lain yang diberikan untuk pengunjung saat ini sudah tersedia kolam renang anak, area api unggun, cafeteria, dan juga area tempat makan.

Area camping ini mudah diakses, dari Stasiun Bogor misalnya, pengunjung bisa menggunakan ojek online sekitar 25ribu atau taxi online sekitar 65ribu. Atau juga bisa dengan angkutan umum trayek 03 jurusan Bogor – Ciapus dari Terminal Ramayana Bogor. Lalu berhenti tujuan akhir yaitu pertigaan sebelum pintu masuk gerbang Curug Nangka, dari pertigaan itu ada petunjuk arah, jika mau ke Curug Nangka harus berbelok ke kanan sedangkan jika ingin ke Curug Luhur harus berbelok ke kiri.

Dari pertigaan tersebut pengunjung bisa menggunakan jasa ojek untuk sampai ke lokasi. Biaya menginap di Herman Lantang Camping  sudah termasuk dengan biaya masuk ke Curug Nangka, jadi pengunjung bebas kapan saja ingin main ke Curug tanpa harus membayar lagi.

Siapa itu Herman Lantang?

Herman Lantang sendiri merupakan salah satu pendiri MAPALA UI yang sudah menjelejahi seluruh gunung di Indonesia. Sosok ramah terlihat ketika kami mengobrol bersama. Beliau mendaki pertama kali 1952, ketika itu beliau berusia 12 tahun. Dan terakhir naik gunung yaitu pada tahun 2015. Istrinya bernama Joyce. Saat menikah beliau usia 41 tahun dan istrinya berusia 29 tahun. Kelahiran dari tanah Manado dan sekarang menetap di Jakarta. Opa (sebutan untuk Herman lantang) dan Oma (panggilan untuk Joyce) merupakan pencinta alam sejati, mereka termasuk Legenda di dunia pendakian.

Opa juga adalah sahabat dari Soe Hok Gie di Universitas Indonesia. Soe Hok Gie merupakan inspirator terkenal yang mengadakan long march mahasiswa UI untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno pada tahun 1960-an. Opa dan Soe ( panggilan untuk Soe Hok Gie ) sama-sama memiliki hobi mendaki gunung. Mereka sering mendaki bersama. Entah berapa kali gunung yang mereka sudah daki bersama. Sampai akhirnya Soe Hok Gie meninggal dipangkuan Opa, waktu itu mereka habis mendaki mahameru.

Pendakian yang diketuai oleh Opa itu sendiri harus menyisakan kesedihan yang mendalam. Bagaimana tidak, Opa harus melihat sendiri sahabatnya tewas keracunan di Arcopodo, Gunung Semeru. Pada saat itu belum ada Tim SAR yang membantu. 5 hari bersama jasad temannya akhirnya mereka turun dibantu dengan penduduk desa. Walaupun sudah berbeda dunia, persahabatan mereka masih terjalin dan akan tetap abadi.

Kegiatan Petualang24 di Herman Lantang Camping

Well, kembali dengan kegiatan gathering petualang24. Sabtu sore setibanya di area camp, hujan turun seakan menyambut kedatangan kami. Namanya juga bogor kota hujan, hehehehehe… Tenda-tenda yang kami huni memiliki nama-nama sendiri, tujuannya agar tidak tertukar dengan sesama pengunjung. Nama yang diberikan seperti nama gunung, ada semeru, papandayan, merbabu dll.. Sesuai kepribadian pemiliknya yah yang suka dengan mendaki.

Sabtu itu kami habiskan dengan saling rindu. Bercanda dan tertawa bersama, menikmati sejuknya alam dan pepohonan yang masih meneteskan air hujan, dan banyak lagi. Malamnya, kami menghabiskan waktu di area api unggun. Masih tetap dengan suasana rindu, satu persatu dari kami mengeluarkan kado yang akan kami tukar bersama. Sebelumnya, memang ada kesepakatan harus membawa kado dengan nominal tertentu. Walaupun ada yang lupa membawa kado, acaranya masih seru.

Kami tidak melihat dari berapa jumlah nominal harga barang tersebut. Yang penting kebersamaannya. Ah selalu ada keseruan yang tak terduga kalau sudah berkumpul. Entah sampai jam berapa kami habiskan malam itu, ditemani seruput kopi dan cemilan yang dibuat sendiri. Yang saya ingat malam itu rasa empuknya matras dan bantal di tenda membuat saya pulas hingga pagi.

Dan pagi itu kami sudah saling bercengkrama setelah menikmati dinginnya air wudhu. Opa Lantang menghampiri kami yang sedang bersenda gurau, beliau lalu menyapa kami dan bercerita banyak hal seperti bagaimana awal mula HLC didirikan, lalu bercerita tentang keluarganya dan juga bercerita tentang para sahabat-sahabatnya waktu kuliah dulu. Beliau ceplas ceplos kalau bicara, jangan tersinggung itu hanya sekedar gurauan saja kok.

Lalu kami melanjutkan kegiatan dengan meng-eksplore curug nangka, dari area camp yang tidak terlalu jauh hanya perlu mendaki terus sampai ke atas. Curug nangka berada di kaki gunung salak dengan ketinggian 750 Mdpl, dikelilingi hutan dan beberapa satwa seperti monyet. Airnya masih jernih, banyak pengunjung yang datang ketika weekend.

Sepanjang jalan menuju curug banyak pedagang yang menjual makanan dan minuman. Makanannya hampir sama semua seperti mie instan, gorengan dan juga jagung bakar. Harganya ya masih relatif murah untuk area wisata. Kami tidak berlama-lama disana karena pengunjung sudah mulai ramai. Kegiatan selanjutnya yang kami lakukan di area camp yaitu permainan antar grup, Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 12 siang, itu artinya kami harus segera berkemas dan kembali kerutinitas biasanya. Menurut saya, bukan tentang kemana dan berapa tapi tentang dengan siapa kita bersama yang bisa membuat sesuatu momen dapat berkesan. [Elysa Rosita/End]

Penyunting : Ega Septian Anugerah

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    513
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar Pembaca