SIPFest 2016 : Mahakarya Komunitas Salihara

SIPFest 2016 : Mahakarya Komunitas Salihara

posted in: Event Review | 0

“Hai tau kah kau

bahwa, hidup itu susah

lebih baik engkau berkesenian saja”

Komunitas Salihara

Kalimat diatas merupakan sepenggal lirik sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Cholil dan Irma yang berjudul Hidup itu Pendek, Seni itu Panjang. Mungkin inilah gambaran awal pemikiran para pendiri salah satu komunitas kesenian Indonesia yang bernama Komunitas Salihara.

Komunitas Salihara adalah sebuah wadah seni budaya Indonesia yang berdiri sejak tanggal 08 Agustus 2008. Komunitas ini merupakan sebuah pusat kesenian multidisiplin milik swasta pertama di Indonesia yang didirikan oleh seorang sastrawan dan juga mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo yaitu Goenawan Mohamad dan sejumlah sastrawan, seniman, jurnalis, dan peminat seni.

Komunitas Salihara dapat juga disebut pusat kebudayaan alternatif: ia tidak dimiliki oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah ataupun kedutaan asing.  Berlokasi diatas sebidang tanah seluas sekitar 3.800 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kompleks Komunitas Salihara terdiri atas empat unit bangunan utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, Anjung Salihara dan ruang perkantoran.

Memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual merupakan visi dari Komunitas Salihara. Menurut Komunitas Salihara sendiri, visi ini harus ditegakkan saat zaman sekarang. Hal ini karena kebebasan berpikir dan berekspresi masih sering terancam dari atas (dari aparat Negara) maupun dari samping (dari sektor masyarakat sendiri, khususnya sejumlah kelompok yang mengatasnamakan agama dan suku).

Komunitas Salihara cukup rutin menampilkan acara pentas tari dan teater, konser musik, pembacaan dan diskusi sastra, pameran seni rupa, pemutaran film, dan bengkel kerja tari, teater, seni rupa, sastra dan musik. Selain itu juga Komunitas Salihara sebagai fasilitator juga menyelenggarakan diskusi dan ceramah, untuk menggiatkan kembali obrolan publik yang saat ini belum terlalu banyak baik tentang isu yang sedang hangat, maupun pemikiran tokoh dari bidang humaniora tertentu. Selain pentas seni dan diskusi yang berlangsung tiap bulan secara rutin, Komunitas Salihara juga memiliki beberapa program khusus salah satunya adalah Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2016.

SIPFest 2016 merupakan perhelatan berkelas internasional, dengan menampilkan puncak-puncak seni pertunjukan yaitu karya-karya pentas dalam keseluruhan dan kombinasinya satu sama lain merupakan pilihan ideal dewan kurator Salihara. SIPFest merupakan Rebranding dari acara yang sebelumnya bernama Festival Salihara. Kegiatan ini sudah berlansung sejak 2008 dan dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Dalam satu bulan festival, setiap harinya para pengunjung dapat menyaksikan rangkain pementasan di Teater Salihara dan Galeri Salihara. Tujuan acara ini sendiri dibuat untuk menunjukan bahwa Indonesia dapat tampil secara bermartabat di dunia internasional. SIPFest 2016 terselenggara berkat dukungan dari Bekraf selaku mitra penyelenggara lalu Goethe-Institut, Japan Foundation-Asia Center, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Austria dan Kedutaan Besar Denmark dan disponsori oleh beberapa media dan perusahaan Indonesia lainnya.

Sebelumnya pada tanggal 24 September 2016 dilakukan juga acara Before SIPFest 2016 yang juga merupakan rangkaian acara sebelum acara  SIPFest nantinya. Acara sendiri terdiri dari Press conference dengan awak media, kemudian “Guided Tour” di seluruh bangunan Komunitas Salihara dan ditutup dengan penampilan Float Band.

Foto-foto Before SIPFest 2016

SIPFest 2016 akan menghadirkan 14 pengisi acara yang terdiri atas pentas tari, musik dan teater karya seniman Indonesia, Jerman, Norwegia, Kanada, Austria, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jepang dan Malaysia. Sebagian besar pertunjukkannya dinilai sebagai world premiere dan Asia premiere. Misalnya, Benoît Lachambre & Montréal Danse (Kanada), She She Pop (Jerman), Lukas Ligeti & Hypercolor (Austria dan AS), The Human Zoo Theatre Company (Inggris) dan Chong Kee Yong (Malaysia).

Selain menikmati berbagai seni pertunjukan selama sebulan penuh, diarea ruang-ruang terbuka Komunitas Salihara juga menyajikan karya-karya seni rupa site-specific oleh empat perupa yang akan mengawali rangkaian acara SIPFest 2016. Ada instalasi raksasa Gurita Salihara karya Nus Salomo di Anjung Salihara. Terdapat pula instalasi Sanctuary 2016 karya Made Gede Wiguna Valasara yang berupa sekelompok burung terbang. Sementara Purjito menampilkan patung berjudul Gus Dur: Tuhan Tidak Perlu Dibela berupa sosok Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI dan pemikir Islam yang amat menghargai pluralisme.  Indyra menampilkan gambar mural trimatra berjudul Be A Daydreamer & A Night Thinker yang menyiratkan posisi Komunitas Salihara sebagai tempat merawat gagasan dan pemikiran.

Unduh kalender dan poster SIPFest 2016

Mengemban visi internasional yang sudah diusung Festival Salihara, SIPFest 2016 memperkuat kembali aspek rekreatif, dalam artian pertunjukan kreasi seniman akan menjadi penghiburan, sekaligus rekreasi (proses ikut menciptakan kembali, merangsang daya cipta) oleh masyarakat pengunjung SIPFest 2016. Komunitas Salihara juga siap mengedepankan aspek edukasional dengan menyelenggarakan sejumlah lokakarya bersama seniman-seniman penampil. [Ikbal Syukroni/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    563
    Shares
Follow Ikbal Syukroni:

Tinggal di Martapura, Sumatera Selatan. Traveler yang menggemari kegiatan photography. Sedang menempuh studi S2 di Bogor.

Komentar Pembaca