Situ Cisanti, Titik Nol Kilometer Dimana Kisah Citarum Bermula

Situ Cisanti, Titik Nol Kilometer Dimana Kisah Citarum Bermula

posted in: Destination | 0

Angin seakan menyapa membelai kulit. Menelusuri jalan di bawah pohon-pohon yang berdaun rindang berguguran. Udara sejuk khas pegunungan mulai terasa. Jalanan berkelok menanjak adalah kesenangan tersendiri. Lokasinya berada di kaki Gunung Wayang berketinggian 1500 meter di atas muka laut. Disanalah titik 0 kilometer Citarum.

Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat. Panjangnya mencapai 300 km berhulu di pegunungan selatan Bandung dan bermuara di utara Karawang, Jawa Barat. Beberapa anak sungai seperti Cikapundung, Cisangkuy, Cibeet, Cidurian, dan masih banyak lagi pun bermuara pada sungai terbesar ini. Citarum sebuah urat nadi kehidupan di Tatar Sunda.

Sekelumit masalah tak henti-hentinya menerpa sungai ini. Mulai dari pencemaran ekologi sungai oleh limbah industry. Sampah-sampah buangan masyarakat. Hingga tata kelola DAS (daerah aliran sungai) yang simpang siur berdampak pada terjadinya bencana luapan air sungai atau banjir setiap tahunnya. Citra Citarum pun berubah dari yang dahulu merupakan jalur perekonomian kini menjadi tempat pembuangan seluruh kotoran dari aktivitas masyarakat di Jawa Barat.

Berbicara Citarum tak akan ada habisnya. Selalu ada polemik yang tak pernah usai. Namun, ada pesona berbeda dari Citarum ini. Yaitu, hulu sungai yang berupa sebuah situ atau danau buatan yang terbentuk dari hasil kumpulan tujuh mata air di Gunung Wayang, selatan Kota Bandung, Jawa Barat.

Nama situ ini adalah Cisanti. Berletak di Desa Cibereum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Situ Cisanti berada di ketinggian sekitar 1500 meter di atas muka laut.  Di kaki Gunung Wayang, sebelah tenggara dari Gunung Malabar. Udaranya sangat sejuk dan suasananya menenangkan. Angin berhembus tenang. Masyarakatnya begitu ramah. Begitu damai jika berkunjung ke tempat ini.

Disinilah titik pertama cerita Citarum bermula. Sebagian wisatawan menamainya “Titik Nol Kilometer Citarum”. Situ Cisanti saat ini menjadi destinasi wisata bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Jaraknya cukup jauh jika ditempuh dari pusat kota. Lokasi dapat dicapai selama 4-3 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Arahkan kendaraan menuju selatan Kota Bandung, menyusuri jalanan hingga sampai di alun-alun Ciparay. Setelah itu arahkan kendaraan menuju arah Cibereum.

Jika hari libur tiba, tempat ini begitu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Kebanyakan dari mereka adalah wisatawan yang berasal dari kota-kota besar, baik Bandung ataupun Jakarta. Harga retribusi masuk ke lokasi ini pun sangat terjangkau. Wisatawan dapat menikmati panorama luasnya danau dengan rimbunan pepohonan yang menghijau tinggi memayungi danau.

Tak jauh dari lokasi ini terdapat perkebunan Teh Malabar, Pangalengan. Bila wisatawan belum puas menikmati alam di Situ Cisanti, lanjutkan dengan menikmati kesejukan udara pegunungan khas Bandung Selatan di perkebunan Teh Malabar.

Di area Situ Cisanti terdapat sebuah cagar budaya yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Namanya adalah situs Petilasan Dipati Ukur, Desa Tarumajaya, Kec. Kertasari. Aura lokasi ini terasa mistis. Memang, beberapa warga setempat memercayai tempat ini sebagai tempat yang di sakralkan. Namun, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menggali sejarah danau buatan tersebut. Konon, pada masa penjajahan danau ini merupakan tempat pembuangan jenazah para pemberontak. Beberapa area masih disakralkan oleh masyarakat setempat sebagai tempat suci yang tidak sembarang orang dapat mencapainya.

Beberapa warga sering menghabiskan waktu di tempat ini untuk mencari ikan air tawar dan kerang hijau yang berukuran besar. Selain untuk dikonsumsi sendiri, hasil yang mereka dapat bisa menjadi nilai tambah perekonomian setempat. Jenis ikan disini beragam. Namun, didominasi oleh ikan-ikan khas perairan danau air tawar seperti ikan mas, koki, mujair, gabus dan lain-lain.

Geliat wisata di tempat ini tak diimbangi dengan sarana dan prasarana pariwisata. Tak ada papan-papan informasi terkait area danau dan tidak ada tempat sampah yang disediakan di tempat ini. Akibatnya sampah plastik hasil kegiatan para wisatawan berserakan di sekitar danau. Terkadang sampah-sampah itu masuk ke dalam air merusak pemandangan yang asri. Kesadaran wisatawan dan juga masyarakat setempat harus ditingkatkan lagi dalam menjaga dan menjalankan roda pariwisata di lokasi ini. Jangan sampai citra buruk Citarum yang beredar di masyarakat tertular pada kawasan Situ Cisanti.

Beberapa pemerhati lingkungan melihat area hulu Cisanti sudah sangatlah kritis. Hutan-hutan yang dahulu sangat rindang kini telah berubah menjadi pemukiman dan juga pertanian masyarakat setempat. Akibatnya, erosi sungai terjadi di area hulu yang mengakibatkan air berwarna coklat keruh. Selain itu, banyaknya area industri yang tumbuh di area tengah dan hilir semakin memperburuk aliran sungai Citarum. Dampaknya sangatlah merusak ekosistem sungai.

Situ Cisanti masih butuh perkembangan tahap lanjut untuk menjadi lokasi pariwisata unggulan di Kecamatan Kertasari, Bandung, Jawa Barat. Selain itu, perbaikan ekosistem lingkungan harus terus diperhatikan agar citra buruk Citarum dapat berubah menjadi baik kembali seperti dahulu kala.

Menikmati keragaman bentang alam yang kita miliki memang sangat menyenangkan dan tidak ada bosannya. Salah satunya menikmati panorama indah Situ Cisanti di hulu sungai Citarum. Namun kita pun harus mampu menjaganya agar pemandangan alam yang hijau, udara sejuk khas pegunungan dan danau yang jernih alami ini dapat dinikmati oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara nantinya. Hal yang lebih penting daripada semuanya yaitu mewariskan sungai Citarum dan Situ Cisanti yang bersih dan lestari kepada generasi berikutnya. [Rendy Rizky Binawanto/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 184
  • 164
  • 136
  •  
  •  
  •  
    484
    Shares
Follow Rendy Rizky Binawanto:

Rendy Rizky Binawanto, seorang mahasiswa Geografi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Bale Bandung. Ia seorang pejalan yang gemar bercerita. Cerita perjalanannya ia bagikan lewat beberapa media. Sebagai seorang geograf, sebuah perjalanan sangatlah berarti untuknya. Selain untuk penelitian lapangan juga untuk mengenali keunikan di setiap daerah yang ia kunjungi. Motivasinya dalam menjelajah adalah untuk menyebarkan keindahan dan kekayaan alam serta masyarakat yang hidup didalamnya, di luar lingkup orang-orang tinggal. Hal ini agar mereka bergerak dan menyebarkannya kembali kepada mereka yang diam.

Komentar anda?