SITU KABUYUTAN DI TIMUR KUNINGAN

posted in: Destination | 0

 

Situ Kabuyutan, Dok: Dya Iganov

 

Objek Wista Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan lebih banyak dikenal dikalangan para pendaki sebagai salah satu akses pendakian gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ceremai. Dari segi sejarah, Kabupaten Kuningan tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian Linggarjati. Bagi kalangan traveler, Kabupaten Kuningan memiliki beberapa tempat wisata yang instagramable. Sebut saja Taman Purbakala Cipari, Curug Putri dan Ipukan di Kecamatan Cigugur; Talaga Remis, Talaga Cicerem, Talaga Cikalahang, dan Talaga Nilem di Kecamatan Pasawahan; serta objek wisata andalan lainnya.

Hampir seluruh lokasi wisata yang cukup terkenal berada di Kabupaten Kuningan bagian Barat, sementara Kabupaten Kuningan bagian Timur masih jarang yang terekspose. Baru-baru ini mulai bermunculan potensi-potensi wisata di Kabupaten Kuningan bagian Selatan. Beberapa diantaranya adalah Curug Cigalagah dan Tugu Kujang di Kecamatan Cibingbin; Curug Cisuran dan Curug Ngelay di Kecamatan Selajambe; Pemandian Cipanas dan Curug Parakan Panjang di Kecamatan Subang; Curug Payung di Kecamatan Ciniru; Curug Bungawari, Bukit Pasir Panjang, dan Wisata Keramat Puncak Manik (Pangupukan) di Kecamatan Karangkancana; Cadas Gantung dan Curug Winujati di Kecamatan Ciwaru, serta Situ Putat, Situ Kabuyutan, dan Gunung Subang di Kecamatan Cilebak.

Situ Kabuyutan dan Situ Putat

Diantara potensi-potensi wisata yang ada di Kabupaten Kuningan bagian Tenggara dan Timur, terdapat tiga danau alami. Umumnya, danau-danau di Kabupaten Kuningan terdapat di bagian Barat Laut, Barat, dan Barat Daya Kabupaten Kuningan. Lokasi tepatnya di sekitar kaki dan lereng Gunung Ceremai. Berbeda dengan Situ Putat dan Situ Kabuyutan yang berada di sisi Tenggara Kabupaten Kuningan yang tidak memiliki Gunungapi. Sebagai gantinya, Situ Kabuyutan dan Situ Putat dikelilingi oleh jejeran perbukitan. Perbukitan di sekitar Situ Kabuyutan merupakan perbukitan dengan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah.

Situ Putat dan Situ Kabuyutan berada di kaki Gunung Subang. Gunung Subang merupakan gunung paling Barat di jejeran perbukitan yang nantinya akan menyatu dengan perbukitan Pasir Panjang. Perbukitan Pasir Panjang sudah termasuk wilayah administrasi Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Secara administratif, Situ Kabuyutan dan Situ Putat berada di Desa Legokherang, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Situ Kabuyutan berada pada koordinat 7°09’22.5″S 108°34’31.7″E dan Situ Putat berada pada koordinat 7°09’20.8″S 108°34’26.2″E. Situ Putat dan Situ Kabuyutan merupakan danau alami yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai objek wisata.

Puncak Gunung Subang terlihat di Sisi Timur Situ Kabuyutan. Dok: Dya Iganov

 

Akses Menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat Melalui Kecamatan Luragung

Pencapaian menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat cukup mudah. Terdapat dua jalur menuju ke Desa Legokherang. Pertama melalui Kecamatan Luragung. Jalur Luragung merupakan jalur tercepat menuju Desa Legokherang bila datang dari arah Timur Kabupaten Kuningan. Bila datang dari arah Cibingbin, maka patokan pertama yaitu pool bis Luragung yang berada di sisi kanan jalan. Setelah Pool bis Luragung, akan ditemui persimpangan. Ambil kiri pada persimpangan ini melewati Taman Luragung. Setelah Taman Luragung, lurus ikuti jalan menuju Kecamatan Ciwaru.

Ikuti jalan utama hingga memasuki Kecamatan Ciwaru. Kondisi jalan cukup baik, namun tidak selebar jalur utama Luragung – Kuningan. Jalan cukup sepi, dan bila malam minim penerangan. Medan jalan akan terus menanjak ketika memasuki Kecamatan Ciwaru. Memasuki Desa Sumberjaya, Kecamatan Ciwaru, kemiringan tanjakan akan semakin curam. Tanjakan yang harus dilalui pun cukup panjang. Pada beberapa titik, terdapat perpaduan antara tanjakan panjang dan curam disertai tikungan tajam. Perlu berhati-hati terlebih bila berpapasan dengan kendaraan lain karena kondisi lebar jalan yang cukup sempit. Lebar jalan di jalur ini kurang lebih 3,7 meter.

Medan jalan akan semakin sulit ketika memasuki Desa Patala, Kecamatan Cilebak. Tanjakan panjang dan curam akan terus ditemui hingga memasuki kawasan hutan pinus Desa Patala. Kawasan hutan pinus sudah berada di punggungan perbukitan, sehingga medan tanjakan sudah tidak teralalu banyak ditemui. Setelah melewati hutan pinus, medan jalan akan berupa turunan panjang dan curam hingga memasuki alun-alun Kecamatan Cilebak.

Ikuti jalan utama Kecamatan Cilebak (Jalan Nagasirna) hingga tiba di ujung jalan yang berupa pertigaan. Ambil arah kiri di pertigaan ini menuju Jalan Cilebak. Tidak jauh setelah pertigaan, akan ditemui persimpangan jalan. Ambil jalan kecil menanjak ke arah kiri. Kondisi jalan cukup sempit dan perkerasan batu lepas. Tanjakan di jalur ini pun cukup panjang. Ikuti terus jalan utama hingga memasuki Desa Legokherang. Bila ragu, bertanyalah mengenai jalan menuju Situ Kabuyutan di Desa Legokherang. Posisi Situ Putat berada tepat di pinggir jalan desa, sehingga tidak terlalu sulit untuk mencapai area Situ Putat. Sedangkan untuk menuju Situ Kabuyutan, masih diperukan treking selama kurang lebih sepuluh menit melewati jalan setapak.

Akses Menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat Melalui Kecamatan Subang.

Jalur kedua merupakan jalur terpendek menuju Situ Kabuyutan dan Situ Putat bila datang dari arah Barat. Bila datang dari arah Barat, patokan pertama adalah Kantor Desa Rancah. Tidak jauh dari kantor desa Rancah akan ditemui pertigaan. Ambil arah kiri menuju Jalan Pasar Desa Rancah. Ikuti jalan utama hingga memasuki Desa Dadiharja, Kecamatan Rancah. Ikuti jalan utama hingga tiba di persimpangan dengan patokan sebuah bengkel. Ambil arah kanan di pertigaan ini menuju Jalan Tangkolo Subang. Ikuti jalan utama hingga menyeberangi jembatan yang cukup lebar.

Setelah melewati jembatan, ambil jalan yang mengarah ke kanan. Ikuti jalan utama hingga memasuki pusat Desa Pamulihan, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan. Patokan berikutnya yaitu Masjid Cikoneng. Setelah melewati Masjid Cikoneng, ikuti terus jalan utama hingga memasuki Desa Legokherang. Bila ingin menanyakan arah menuju Situ Kabuyutan, terlebih dahulu tanyakan arah menuju Desa Legokherang. Setelah tiba di Desa Legokherang, barulah tanyakan lokasi Situ Putat dan Situ Kabuyutan.

Warga yang sedang memancing di Situ Kabuyutan. Dok: Dya Iganov

 

Mengenal Situ Kabuyutan dan Situ Putat

Situ Kabuyutan dan Situ Putat merupakan danau alami. Air di Situ Kabuyutan dan Situ Putat sangat jernih, bahkan air Situ Kabuyutan berwarna biru tosca. Situ Kabuyutan memiliki luas genangan kurang lebih 0,25 Ha. Situ Kabuyutan berada di bawah kewanangan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Pemanfaatan Situ Kabuyutan hingga saat ini masih sebatas area memancing dan sumber air bagi area sawah di sekitar danau. Area di sekeliling Situ Kabuyutan masih sangat alami. Jalan masuk menuju Situ Kabuyutan pun sedikit tertutup rumput liat yang cukup tinggi.

Bila mengadap ke arah Timur, akan terlihat puncak Gunung Subang dengan hutannya yang masih sangat lebat. Sisi Timur Situ Kabuyutan masih berupa hutan lebat dan langsung berada di kaki Gunung Subang. Berdasarkan cerita di sini. terdapat berbagai hewan liar, seperti Lutung, Surili, tupi, burung dudut, kutilang, burung pipit dan berbagai jenis serangga yang masih terdapat di hutan tersebut. Situ Kabuyutan pun memiliki berbagai jenis ikan. Ikan yang berada di Situ Kabuyutan antara lain Ikan mujair, mas, gabus, udang rawa, remis, dan kijing. Terdapat juga biawak meskipun jarang ditemui. Ukuran ikan di Situ Kabuyutan cukup besar.

Sisi Barat dan Selatan Situ Kabuyutan berbatasan dengan kebun warga. Sisi Utara Situ Kabuyutan berbatasan dengan areal sawah. Lokasi Situ Kabuyutan berada lebih tinggi dibandingkan jalan desa dan Situ Putat. Selama perjalanan treking menuju Situ Kabuyutan akan terlihat pemandangan perbukitan di sisi Barat Desa Legokherang. Jalan masuk menuju Situ Kabuyutan berada di sisi Selatan. Lokasi Situ Kabuyutan tidak terlalu jauh dari beberapa rumah warga. Pengunjung yang membutuhkan sesuatu dapat dengan mudah meminta bantuan pada warga. Pengunjung yang datang ke Situ Kabuyutan sebaiknya membawa logistik sendiri.

Awalnya, tidak ada warga yang berani memasuki area Situ Kabuyutan karena lebatnya pepohonan tua dan besar di sekeliling danau. Namun, atas usulan dari pemerintah Desa Legokherang ke Dinas Pariwisata, dilakukanlah pembukaan area Situ Kabuyutan. Sebelum dilakukan pembukaan lahan di sekitar danau, air Situ Kabuyutan semula berwarna hitam. Hal ini karena area tersebut tidak terkena sinar matahari. Setelah dilakukan pembukaan lahan, air di Situ Kabuyutan mulai berbah menjadi biru tosca. Dilakukan juga pembangunan pintu air untuk mengatur pengairan ke area sawah dan kebun warga serta penembokan pinggiran danau.

Situ Putat. Dok: Dya Iganov

 

Berbeda dengan Situ Kabuyutan, Situ Putat masih belum mendapatkan perhatian sebagai objek wisata. Situ Putat hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai tempat memancing dan sumber pengairan bagi lahan persawahan. Untuk mendekati areal Situ Putat, pengunjung harus menyusuri pematang sawah sejauh kurang lebih 70 m. Pematang sawah yang harus dilalui tidak terlalu sulit dengan jarak antar pematang sawah tidak terlalu tinggi. Luas genangan Situ Putat kurang lebih sekitar 0,29 Ha. Area di sekitar Siut Putat belum diberi dinding seperti Situ Kabuyutan. Areanya pun lebih terbuka karena berada di tengah area sawah. Berbeda dengan area Situ Kabuyutan yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan tua.

Situ Putat dan Situ Kabuyutan merupakan danau alami yang terbentuk akibat adanya sesar. Seperti yang disebutkan situs milik ESDM, struktur geologi di daerah ini terjadi akibat deformasi seperti patahan/sesar naik dan lipatan antiklin (fold) terdapat di bagian Barat daerah ini. Berdasarkan Peta geologi Lembar Majenang, Jawa, Puslitbang Geologi (Irwan Bahar, 1995), lokasi ini merupakan bagian dari satuan batuan Formasi Halang (Tmph). Situ Kabuyutan dan Situ Putat cocok dikunjungi pada perlaihan musim hujan menuju kemarau atau di awal musim kemarau. Hal ini mengingat kondisi jalan menuju Desa Legokherang yang belum semuanya mulus. Selain itu, Desa Legokherang termasuk salah satu desa di Kecamatan Cilebak yang rawan akan gerakan tanah serta longsor.

Area Situ Putat yang masih sangat alami. Dok: Dya Iganov
Sebarkan :
  • 9
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    9
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply