Situs Gunung Padang Diangkat ke Film Layar Lebar

Situs Gunung Padang Diangkat ke Film Layar Lebar

posted in: Otherside | 0

“Firegate : Piramid Gunung Padang” merupakan film petualangan Indonesia yang mengangkat Situs Gunung Pandang dari sudut pandang sains dan sejarah. Rencananya film ini akan disutradarai oleh Rizal Mantovani dan diproduseri oleh Robert Ronny. Film ini akan dibintangi oleh Reza Rahadian, Julie Estelle, Dwi Sasono, Ray Sahetapy, Puy Brahmantya, Ayasha Putri, Khiva Iashak dan Rea Nangin. Film ini akan digarap oleh rumah produksi egacy Pictures dan akan tayang pada 3 November 2016 ini.

Situs Gunung Padang di Jawa Barat yang sempat meramaikan berita tanah air di tahun 2013-2014 akhirnya diangkat ke layar lebar. Situs Gunugn Padang menjadi sangat populer setelah diteliti oleh Tim Terpadu Penelitian Mandiri atau yang dulunya bernama Tim Katastrofi Purba yang diinisasi kantor Staf Khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial. Situs Megalitikum yang berada di Desa Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini pun akhirnya ramai dikunjungi peneliti dan wisatawan.

Film Firegate : Piramid Gunung Padang tampaknya bersandar pada penelitian dari tim Katastropi Purba tersebut dalam membuat alur ceritanya. Ini tampak jelas dari judul dari film ini. Pada trailer film, dugaan ini menjadi semakin jelas karena memang yang diangkat adalah sebuah piramida yang menyimpan misteri masa lalu.

Asal muasal dan apa yang ada di Situs Gunung Padang sampai kini masih kontroversial dikalangan peneliti. Sebagian mengatakan Situs Gunung Padang adalah situs purba olahan manusia yang menyerupai piramida raksasa. Sebagian lagi mengatakan bahwa situs tersebut adalah tumpukan batuan beku (kekar kolom/columnar join) yang pada beberapa bagian permukaannya mendapat perlakuan oleh manusia, seperti penyusunan, jadi bukan murni batu yang diolah membentuk bangunan seperti dijumpai pada candi dan piramida. Kedua pendapat ini memiliki acuan sendiri-sendiri dan pendukungnya sendiri-sendiri.

Jika dilihat dari genrenya, film petualangan ini beraliran sains dan sejarah. Pada film ini, Reza Rahadyan tampaknya berperan sebagai seorang wartawan petualangan, sementara Julia Estele berperan sebagai dosen/peneliti.

Trailer film ini cukup menarik untuk disaksikan dan cukup mengundang rasa penasaran. Apalagi film genre ini jarang dibuat di Indonesia. Selesai menonton trailer, kita akan langsung terbayang pada film seperti Scorpion King yang berlatar di Mesir, atau lebih khusus, kita akan terbayang beberapa filmnya Indiana Jones yang mengambil tempat diberbagai situs purbakala.

Mengingat Situs Gunung Padang, walau bagaimanapun kontroversi para peneliti, adalah sebuah situs purbakala yang perlu dilestarikan. Mengingat pula akan ekayaan ilmu pengetahuan yang terkandung di kawasan situs bernilai tak terhingga dan tak bisa ditakar dengan uang. Maka, kesuksesan film ini tentu akan memicu kedatangan begitu banyak pengunjung ke Situs Gunung Padang. Seperti film 5 CM yang berlatar di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang memicu gelombang kedatangan ke kawasan itu pada akhir tahun 2012.

Apakah insan perfilman akan latah untuk kesekian kalinya dengan tidak menyematkan nilai konservasi dan edukasi pada para penonton?

Hal ini sangat kentara terjadi pasca kesuksesan film 5 CM pada tahun 2012. Meski bukanlah faktor utama, kesuksesan film 5 CM mengeksploitasi keindahan alam TNBTS merupakan faktor yang berpengaruh pada peningkatan yang signifikan terkait pendakian dan wisata petualangan di TNBTS, bahkan di lokasi wisata alam lainnya. Pun begitu, dengan kurang menyisipkan pesan edukasi terkait pendakian, film 5 CM sukses membuat banyak pendaki pemula untuk mendaki sampai ke puncak Semeru yang sebenarnya tidak dianjurkan mengingat bahayanya. Ditambah dengan membawa perlengkapan seadanya, atau bahkan tidak membawa apa-apa sama sekali. Poin terakhir ini juga sedikit banyak ada pengaruh dari film.

Kita mengetahui bahwa tanpa adanya film Firegate : Piramid Gunung Padang pun kini pemerintah telah membuka Situs Gunung Padang untuk peneliti dan kunjungan wisatawan. Sama halnya dengan sebelum film 5 CM, pendakian di Gunung Semeru juga dibuka untuk umum. Tapi ketika kita membicarakan konservasi dan edukasi, berarti kita membicarakan daya dukung, daya tampung dan daya lenting lingkungan di lokasi. Dan tentu saja kesiapan si pelaku wisata (pengunjung). Ketika suatu film sukses menimbulkan gelombang kunjungan wisata, kita tak membicarakan satu dua orang pengunjung dalam sehari, atau satu dua regu pengunjung dalam sehari, tapi kita sedang membicarakan ribuan orang dalam seminggu. Hal ini terjadi di tahun 2012-2013 di Gunung Semeru, dimana diakhir pekan, dalam satu hari bisa mencapai lebih dari 500 orang. Pada beberapa kasus dalam satu hari pernah mencapai 2000 orang.

Kesuksesan film dalam memicu gelombang kunjungan wisatawan adalah pisau bermata dua. Ada baik dan buruknya. Baik bagi masyarakat sekitar lokasi dan pengusaha jasa wisata karena akan meningkatkan kesejahteraan. Buruk bila alam tak diperhatikan. Tourism Kill Tourism dapat terjadi dilokasi wisata mana saja.

Apakah alam akan siap mendukung dan menampung, serta pulih kembali dari aktivitas manusia sebanyak itu, sementara pengunjung datang terus-menerus tanpa jeda? Apakah kunjungan orang sebanyak itu akan aman bagi pengunjung dan tempat yang dikunjungi?

Di tahun 2012, tentu ada keterlibatan Balai Besar TNBTS dalam memberikan izin dan mengawasi jalannya pembuatan film dilokasi yang berstatus taman nasional. Banyak cerita miring terkait pembuatan film tersebut yang hanya jadi isu belaka tanpa ada konfirmasi dan bukti kejelasan. Jikalau isu yang beredar benar, sangat diharapkan agar pembuatan film Firegate : Piramid Gunung Padang dapat membuat film tersebut tanpa merusak sama sekali apa-apa yang ada di situs tersebut.

Inilah yang mungkin perlu dipikirkan dan dilakukan agar tragedi 5 CM tidak terulang lagi. Seandainya film 5 CM menyisipkan nilai konservasi dan edukasi yang cukup seimbang, bukan tidak mungkin film tersebut adalah film legendaris yang akan terus diingat secara baik oleh penontonnya. Tapi sayangnya waktu tak bisa diputar ulang meski filmnya bisa ditonton berkali-kali. Namun, film Firegate : Piramid Gunung Padang berpeluang besar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan Reza Rahadyan sebagai aktor terkemuka berpeluang untuk semakin menjadi aktor terkemuka, yang tidak hanya melihat film tersebut dari sudut pandang perfilman saja, tapi juga dari sudut pandang edukasi dan konservasi.

Bagi saya pribadi, karena saya sangat menyukai cerita sejarah, petualangan dan sains, saya sangat menunggu film ini. Sedemikian pula saya menunggu nilai edukasi dan konservasi seperti apa yang akan disematkan oleh sutradara. Terlepas dari kontroversi Situs Gunung Padang di ranah ilmiah, mengangkat situs ini ke film adalah satu hal yang patut di apresiasi (dengan catatan seperti diatas). Nah! akan seperti apa film Firegate : Piramid Gunung Padang ini? Mari kita tunggu bersama. [Nurul Amin/End]

 

Sebarkan :
  • 245
  • 167
  • 135
  •  
  •  
  •  
    547
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?