SURYAKENCANA, SEKOLAH PERTAMA SOFI PART 2

posted in: Experience | 0

Pendakian adalah perjalanan memaknai kata ‘PULANG’. Karena esensi kata ‘PERGI’ itu sendiri adalah apa yang kita bawa saat ‘KEMBALI’.

 

Pendakian bersama Anak. Foto: Dokumentasi Akhyar Yusri

Tiba di Pos 3, kami istirahat agak lama. Kami sempatkan menyantap makan siang yang sudah dingin dan menurunkan Sofi dari Kid Carrier. Sofi terlihat tidak begitu nyaman. Sepertinya dia mulai masuk angin. Akhirnya seluruh tubuhnya kami baluri dengan minyak kayu putih, lalu kami pasang kembali jaketnya yang sebelumnya sempat dibuka.

Waktu itu menunjukkan pukul 15.30. Sofi tidak mau naik ke Kid Carrier lagi. Dia hanya ingin tetap dipeluk Umminya. Kami putuskan berjalan dengan formasi Ummi menggendong Sofi dengan kain sarung, sedang aku jadi Super Dad dengan Kid Carrier di belakang dan Tas gunung di depan. Hahaha…

Ternyata formasi begitu tidak bertahan lama. Jelas saja, bagaimana ceritanya bisa menanjak sambil menggendong anak dengan kain sarung. Akhirnya Sofi kami paksa duduk kembali di singgahsananya dan tas gunung Umminya tetap aku yang bawa. Tapi menggunakan tas gunung di depan sebenarnya sangat tidak di sarankan karena menghalangi pandangan. Kalaupun harus membawa dua carrier, sebisa mungkin gabungkan keduanya dan tetap menggendongnya di belakang.

Tidak begitu lama kami berjalan, setelah beberapa kali mengoper agar-agar cup kesukaan Sofi, dia pun mulai tenang kembali dan hanyut dalam ritme langkah Abahnya. Jalur dari Pos 3 ke Pos 4 adalah yang paling sangar. Tanjakannya curam, banyak akar melintang, pokoknya mantap. Setelah istriku hanya berjalan membawa berat badannya sendiri, tempo terjalanan kami sedikit lebih cepat. Akhirnya pukul 16.10 kami tiba di pos bayangan.

Pendakian ke gunung manapun tidak menggugurkan status kita sebagai hamba Allah. Jangan sampai kita dengan mulut besar mengaku ingin tafakkur alam di atas sana. Lalu bercerita kita telah berjalan selama berjam-jam dengan kesulitan yang begini dan begitu, tapi melaksanakan shalat yang tak sampai sepuluh menit saja kita tak mau. Itu salah kaprah namanya. Shalat tetap harus ditegakkan, walau dalam keadaan sesulit apapun.

Hari semakin gelap, para pendaki yang kami temui sudah bisa dihitung jari. Dinginnya pun semakin menusuk. Sofi mulai rewel. Ternyata dia belum benar-benar makan sesuatu sejak pagi. Bahkan belum isi bensin (ASI) sama sekali. Mungkin dia lapar. Tapi tak jauh di atas sana, sudah terlihat tenda terpal penjual.

“Itu Pos 4” kata Kang Luthfi. MasyaAllah, istriku terlihat mengerahkan kemampuannya sekuat tenaga untuk tiba disana. Langkah demi langkah penuh harapan dia pijakkan agar bisa segera tiba dan beristirahat di sana. “Bang, dari PM ya? ” tanya seseorang berslayer oren yang tak ku kenal. Ternyata dia porter kami. “Sini kerilnya saya bawa,” tambahnya. Segerah kuserahkan tas Gunung Istriku tanpa ragu.

“Anaknya mau saya yang gendong?” Tanya porter yang satunya lagi.
“ Enggak usah bang, nangis dia nanti” jawabku spontan. Istriku sudah duduk di dekat warung. Kuturunkan sofi dari gendongan dan kuserahkan pada Umminya. Alhamdulillah, abang penjaga warung masih punya pisang goreng hangat. Istriku menyuapkannya pada sofi. Dia makan dengan lahapnya.

Masya Allah… setelah seharian dia tidak makan kecuali jeruk, cream orea, dan agar-agar cup, akhirnya dia mau makan walau hanya sepotong pisang goreng. Kami benar-benar istirahat disana sambil mendengarkan lantunan adzan maghrib dari smartphone milik salah satu pendaki.

Headlamp sudah melingkar di kepala. Istriku jalan di depan menerobos gelapnya malam. 30 menit kami berjalan, tiba-tiba sebuah kalimat yang sangat aku kenal terdengar memecah keheningan.

“Ahlan Ikhwan!!!” “PM SIAP!!!” spontan aku dan Kang Luthfi menjawab. Semua anak Petualang Muslim pasti tau kalimat ini.n“Akhyar!” kata pria yang datang dari belakangku tadi. Begitu kusorot, ternyata bang Aulia Ibnu. Terima kasih sudah menyapa kami dengan sapaan khas Petualang Muslim. Sapaan “Ahlan Ikhwan” ini adalah sebuah panggilan penuh energi, penghapus gundah dalam hati dan pemusnah rasa sepi.

Bang Aul pamit mendahului agar bisa mengabari teman-teman lain bahwa kami sudah dekat. Tidak jauh dari situ, salah seorang porter sudah menunggu kami. Dia bilang Surya Kencana sudah dekat. Dan memang benar adanya. Jalan mulai berbatu rapi dan landai. Dari balik pepohonan mulai terlihat lampu-lampu tenda. Suara keramaian manusia sayup-sayup terdengar semakin jelas.

SELAMAT DATANG DI SURYAKENCANA

Perjalanan tidak selesai di situ ternyata. “Kita kemahnya di Surken Barat, bukan disini” kata si porter. “Masih jauh?” tanyaku. “Ya… 2 kiloan lah” jawab si abang.

Mulai dari sini Suasana sudah berbeda. Hanya jalur tanah kering yang terbentuk oleh lalu lintas manusia, tanpa atap, tanpa dinding. Angin berhembus kencang sekali, suhu dinginnya juga semakin menusuk. Sedangkan perjalanan masih sekitar 30 menit lagi.

Separuh perjalanan dari Suryakencana Timur ke Barat, sofi mulai nangis. Tangannya dingin sekali. Tentu saja, soalnya dia tidak betah jika dipakaikan sarung tangan dari awal pendakian. Kakinya pun sama, ada celah di antar kaos kaki dan celana panjang yang terangkat agak ke atas, disitulah celah tempat angin mencuri panas tubuhnya.

“Yang, turunin aja Sofi, biar kami gendong”, kata istriku. Sesuai permintaannya, kuturankan Sofi, lalu Kid Carriernya aku serahkan pada Porter. Di pelukan Umminya saja dia masih terus menangis. Tapi aku tetap berlagak tenang di balik kekuatiran ini.

Setiba di camp, aku langsung menagih tenda. Tenda bermuatan 2 orang untuk kami ini awalnya di telakkan di lokasih yang terkena angin langsung. Akhirnya berdasarkan perintah salah satu teman, Tendanya dipindahkan agar terhalang tenda yang lain.

“Yar, ini Thermal Blanket, ente sama istri langsung masuk tenda, peluk anak ente!!” kata salah satu ikhwan setelah memegang tangan Sofi yang dingin sekali. Kami bertiga masuk. Sofi kami baluri dengan minyak kayu putih, lalu kami pakaikan kembali jaket dan celananya. Kemudian kami bungkus dia dengan thermal blanket dan kami peluk erat-erat. Tak lama kemudian malaikat kecil kami ini pun tertidur pulas. Aku dan istri juga ikut istirahat sejenak.

Di luar, Mang Godex membongkar barang-barang kami dan memasukkannya satu per satu. Tak lupa sepiring tempe goreng yang masih panas diantarkan untuk mengganjal perut. Setelah shalat dan makan semangkuk nasi dengan sop kaki sapi berdua dengan istri, kami langsung tidur. Pendakian kami hari itu memakan waktu 11 jam. Di Suryakencana, malam terasa panjang sekali. Ada skenario alam yang Allah jalankan malam itu, yang tidak seorang pun di sana tahu akan begitu. Suhu Suryakencana malam itu mencapai -1 (minus satu) derajat celcius.

Esok paginya, kami terjaga oleh seruan shalat subuh. Kupaksa berwudhu di luar dan ikut shalat bersama yang lain. Sedangkan istriku memilih tayammum dan shalat di dalam tenda saja. Begitu sofi terbangun, dia langsung minta isi bensin lagi setelah tengah malam tadi sempat isi bensin sekali. Sambil menunggu terang, kami berdiam saja di dalam tenda.

Suhu di luar masih belum bersahabat. Begitu sunrise mulai terlihat, kubuka pintu tenda. Matahari terbit terlihat indah sekali dari dalam tenda. Setelah agak terang, Sofi dan umminya kuajak keluar, tentunya dengan pakaian yang tebal agar tetap hangat. Sop semalam juga sudah dipanaskan. Pagi itu, sambil menunggu sang surya menunjukkan batang hidungnya, Ummi duduk di kursi sambil memeluk sofi, sedangkan aku mondar-mandir agar tidak kedinginan.

Pagi itu indah sekali, lebih indah daripada pagiku di puncak Gunung Burni Telong sendirian empat bulan lalu. Banyak hal yang patut aku syukuri disini. Selain pemandangan matahari terbit di Suryakencana yang membayar semua lelah, pancaran sinar matahari langsung yang perlahan membelai wajah, teman-teman sesama petualang yang selalu mengajak taat kepada Allah, dan wanita luar biasa di sebelahku yang terus mendukungku tanpa lelah. Andai kita benar-benar punya waktu berdua di atas sana, ingin kukecup keningmu dan kukatakan “Sayang, jazakillahu khairan” atas perjuanganmu yang tak mudah.

Di sekolah yang bernama Gunung Gede kali ini, aku dan istrikulah yang lebih banyak belajar. Bagiku, pendakian bukanlah impian yang sebenarnya. Justru ia hanya latihan-latihan kecil yang perlu dilakukan secara berkala agar kita menjadi lebih peka dan lebih dewasa menjalani kehidupan yang sebenarnya di bawah sana. Pendakian adalah perjalanan memaknai kata ‘PULANG’. Karena esensi kata ‘PERGI’ itu sendiri adalah apa yang kita bawa saat ‘KEMBALI’.

Beginilah tulisan ini aku selesaikan diantara waktu kewajiban bekerja dan kewajiban berada di rumah. Karena sepulang dari Suryakencana, waktu yang aku habiskan untuk hidup bersama Sofi dan Umminya jauh lebih berharga daripada waktu yang aku gunakan untuk menulis tentang mereka.

Sebarkan :
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
Follow Akhyar Yusri:

Seorang ayah, suami yang memiliki hobi mendaki gunung bersama istri dan anaknya. Lahir di Krueng Geukueh, Aceh, namun kini berdomisili di Bekasi

Latest posts from

Leave a Reply