SURYAKENCANA, SEKOLAH PERTAMA SOFI

posted in: Experience | 0

Gunung tidak mengajarkan apa yang kita inginkan. Gunung hanya akan mengajarkan apa yang kita butuhkan.

FOTO KELUARGA DI SURYAKENCANA. Foto: Dokumentasi Akhyar Yusri

Hari itu adalah hari pertama Sofi (Shafiyyah Izzati Akhyar) masuk sekolah. Ya, jangan heran! Karena bagi kami para patualang, gunung adalah sekolah terbaik. Selama orang tua bisa berperan sebagai guru, maka ruang kelas super luas ini juga akan memainkan perannya sebagai sarana pendidikan dan menjalan kurikulumnya dengan caranya sendiri. Ingat!

Aku adalah seorang petualang. Mau tidak mau, Sofi dan Umminya pasti ikut terseret ke dalam petualangan bersamaku. Tanpa benar-benar meminta pendapatnya, langsung saja aku katakan pada istriku Puput Nursintan via WA saat aku masih bertugas sebagai relawan di Lombok. Aku juga meminta kang Puji Sar mendaftar kami berdua sebagai peserta Suryakencana Camp 2018 bersama Petualang Muslim.

Waktu tinggal satu pekan lagi. Istriku mulai melakukan persiapan-persiapan. Dimulai dengan senam Cardio rutin di rumah selama 30 menit setiap pagi, lalu melakukan riset-riset kecil dengan membaca literatur yang berhubungan dengan pendakian membawa bayi, sampai memilih peralatan yang tepat untuk kami bertiga.

Mungkin sebagian orang berpikir betapa gilanya aku dan Umminya Sofi saat mendengar Sofi akan diajak ke Gunung Gede. Kenapa pertanyaan itu hadir, karena kita menyangka gunung itu berbahaya. Sekarang aku ingin balik bertanya, “bagaimana kita bisa mengajak anak-anak kita naik mobil dan ngebut-ngebut di jalan tol?” atau “Bagaimana kita berani membawa anak-anak yang masih balita duduk di sepeda motor dan berjalan di jalan raya?” bahkan sebagian ada yang terpaksa mengemudi motor dengan satu tangan karena tangan sebelahnya harus memegang tubuh si anak lantaran takut rewel di jalan.

Coba bandingkan angka kematian anak-anak di jalanan dengan di gunung. Setelah menemukan jawabannya, apakah jalanan itu tidak cukup berbahaya untuk anak-anak? Lantas apa yang membuat kita berani membawa anak-anak ke jalanan? Itu karena kita yakin dengan kemampuan dan pengetahuan kita. Kita sedang belajar berdamai dengan bahaya.

H-3 Deuter Kid Comfort II pesanan kami pun sampai. Karena belum punya budget untuk membeli kid carrier, kami putuskan untuk menyewa dulu di Tacanglala, salah satu penyedia jasa sewa peralatan bayi yang ada di Jakarta. Sore harinya Sofi langsung kami ajak keliling komplek naik kendaraan barunya ini. Awalnya saya sempat pesimis karena badan Sofi sempat hangat kemarin sore, tapi setelah melakukan beberapa upaya medis dan memperbaiki nutrisinya, alhamdulillah kondisinya berangsur membaik.

Pagi H-2, sebelum pergi kerja, kami sempatkan jalan-jalan lagi dengan kid carrier. Lucunya, waktu berangkat dari rumah, sofi tidak mau aku yang menggendongnya. Aku tertawa licik dalam hati, dengan senang hati kuserahkan tugas menggendong Sofi pada Umminya. Tapi akhirnya kami gantian di tengah perjalanan dan sofi tidak protes. Istriku juga mengaku tidak begitu nyaman dengan kid carrier-nya.

Sore harinya, sepulang kerja, kudapati istriku sudah terbungkus selimut dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Loh, kenapa?” tanyaku.

“Yang, kami demam” jawab Ummi Sofi. Tapi jangan salah paham. ‘Kami’ disini bermakna ‘saya’ atau ‘aku’, maksudnya adalah istriku sendirian. Karena kami orang Aceh, pantang menyebut diri ‘aku’ di dalam keluarga. Jadi, kami menghaluskannya dengan sebutan ‘kami’. Setidaknya, inilah yang berubah dari istriku semenjak mendapat suami berdarah tanah rencong.

H-1 aku sudah siap dengan plan-B. Setelah semalaman kusuruh dia minum obat, kulayani dia sebagaimana dia melayaniku saat sakit, dan kusuruh istirahat lebih awal, akhirnya aku bertanya,
“Gimana?”

“ Masih pusing sih. Tapi, insya Allah kuat, kita liat aja siang ini,” jawabnya penuh harapan.

Sore harinya, setelah mengajak Sofi dan Umminya keluar untuk melengkapi kebutuhan, packing pun dimulai. Semua perlatan kami kumpulkan di satu sisi rumah, sambil melihat kembali daftar peralatan yang wajib dibawa. Baru kali ini aku ikut turun tangan mempersiapkan kebutuhan traveling-nya Sofi, biasanya umminya yang mengurus. “Ternyata membawa bayi beserta segala kebutuhannya ke gunung lumayan merepotkan juga,” kataku dalam hati. Tapi membawa ibunya si bayi adalah PR yang lain lagi. Haha…

Ba’da shalat isya, kami sudah siap dengan dua tas besar. Satu Carrier Rei Brantas 45+5 L berisikan kebutuhan kami bertiga dan satu duffle bag Consina Himalayan ukuran Medium berisikan Deuter Kid Comfort II. Lengkap dengan jajanan dan 1 kg jeruk untuk cemilannya sofi selama pendakian.

Membawa bayi naik tronton TNI mungkin bukanlah opsi yang cemerlang. Namun, begitulah sebuah petualangan, selalu dipenuhi resiko dan ketidaknyamanan. Setelah menunggu hampir tiga jam, seluruh peserta yang terdaftar naik tronton, diangkut ke Cipanas, Cianjur, kecuali Kang Luthfi, sang pahlawan di dalam cerita ini. Sebagai pemuliaan bagi wanita dan balita, kami bertiga duduk di depan menemani supir berdarah Palembang yang sangat ramah.

Alhamdulillah, perjalanan ke rumah tempat kami singgah di cipanas cukup lancar dan nyaman. Walaupun sempat harus ganti tronton di daerah Ciawi, tapi itu semua sudah dalam pembicaraan. Kami tiba Sabtu dini hari pukul 01.30. Para panitia dan sebagian peserta lain yang naik mobil pribadi sudah tiba lebih dulu. Untuk kami bertiga sudah disediakan kamar agar bisa istirahat lebih nyaman. Selimut tebal membungkus kami malam itu. Kami terlelap sambil menunggu fajar yang yang hanya 2 jam lagi.

Setelah shalat subuh berjama’ah, kami semua menyambut pagi dengan penuh semangat, termasuk Sofi. Ada seduhan kopi pahit dari Babeh Eko Murdiyanto & kopi Cold Brew yang dibawa Mang Godex Abu Umar. Sarapan pagi itu adalah nasi uduk dengan semur telur dan tahu. Sebelum berangkat ke basecamp pendaftaran, kami sempatkan melakukan pemanasan agar tubuh tidak kaget dengan aktivitas yang tidak ringan seharian ke depan. 48 Pendaki dan 14 porter sudah siap menembus hutan.

Pukul 09.00 WIB pendakian pun dimulai. Suguhan hijaunya ladang brokoli dan bawang daun menjadi asupan energi tersendiri untuk jiwa ini. Sesuai kesepakatan, aku menggendong sofi dengan Kid Carrier. Umminya menggendong tas gunung berisi perlengkapan bersama. Di permulaan, kami masih berada di tengah-tengah barisan.

Satu per satu cemilan aku supply ke belakang, untuk menjaga sofi agar tetap anteng selama pendakian. Belum 30 menit kami berjalan, sofi sudah hilang, hilang kesadaran, tertidur maksudnya hehe. Dan dia tertidur dengan cream Oreo belepotan di sekitar mulut dan pipinya

Belum sampai ke Pos 1 saja kami sudah banyak sekali berhenti. Maklum saja, ini pendakian kedua istriku setelah dulu kami pernah berbulan madu di Gunung Papandayan. Walau berat, langkah demi langkah ia lalui tanpa kata putus asa atau ingin kembali saja. Istriku, kamu hebat.

 

Sampai akhirnya Sofi bertemu temannya, Alka @little batutah di Pos bayangan sebelum Pos 1.

“Dedek!” kata Sofi. Setiap kali dia melihat anak seusianya atau lebih kecil darinya, dia selalu bilang begitu. Ternyata itu Alka Little Batutah bersama Abi dan Umminya. Pertemuan kami dengan Mbak Alika dan Mas Imam menjadi second spirit bagiku dan Umminya Sofi. Ternyata aku tidak gila sendirian…haha.

Kami istirahat agak lama disitu. Ini perkenalan pertama Sofi dan Alka, begitu juga Ummi mereka berdua. Ntah apa yang ada di pikiran kalian saat itu, wahai anak-anak korban kegilaan kedua orang tua kalian. Tapi aku melihat kalian berdua baik-baik saja saat sedang menyantap semangka dingin, jajanan khas pegunungan.

Setiba di Pos 1, kami berhenti untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan, hampir semua pendaki yang berpapasan atau mendahului kami bertanya berapa usia Sofi.

“1 tahun 7 bulan” jawabku atau istri. Ini menjadi kata yang paling banyak aku sebutkan sepajang pendakian, pasalnya memang banyak sekali yang bertanya. Ntah karena mereka heran, kagum, atau mungkin gemes melihat Sofi yang lebih banyak tidur sepanjang perjalanan. “Eee.. dedeknya bobok” kata sebagian mereka.

Setelah berjalan lagi hampir satu jam, akhirnya kami tiba di pos 2. Istriku sudah mulai mengeluhkan bawaannya yang memang tidak ringan.

“Yang, nyeri di punggung, tempat bekas suntik anastesi” ujarnya saat kami berhenti rehat sebentar. Ya, di situ memang menjadi bagian yang paling sering nyeri setelah bagian perut, mengingat dulu dia pernah dioperasi Caesar saat melahirkan Sofi. Tapi, dia tidak menyerah. Kang Luthfi yang bertugas sebagai tim sweeper menawarkan agar bebannya dipindahkan ke beliau sebagian. Kami pun setuju, karena kompartmen di Deuter Kid Comfort yang aku bawa juga sudah penuh dengan barang lain.

Perjalanan kami lanjutkan perlahan. Setiap kali merasa lelah, istriku minta istirahat. Kang Luthfi dengan sangat sabar menunggu kami. Bahkan aku tidak mendengar beliau berkata “Yuk, jalan lagi”. Dia benar-benar partner perjalanan yang tabah dan macho. Justru aku yang sesekali harus bicara begitu, agar kami tidak kemalaman tiba di Suryakecana.

 

Teks: & Dokumentasi: Akhyar Yusri

 

Sebarkan :
  • 21
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    21
    Shares
Follow Akhyar Yusri:

Seorang ayah, suami yang memiliki hobi mendaki gunung bersama istri dan anaknya. Lahir di Krueng Geukueh, Aceh, namun kini berdomisili di Bekasi

Latest posts from

Leave a Reply