SUSUR JALUR SELATAN JAWA BARAT

posted in: Experience | 0

Di daerah Gunung Gelap, hujan besar sekali, sesekali terlihat jelas aliran Curug Neglasari berwarna cokelat akibat terbawanya material tanah dari hulu aliran sungai. Di dalam Gunung Gelap pun kita sempat berhenti karena ada longsoran yang bisa dibilang hampir memutuskan jalur garut selatan

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya saya buka buka file lama. Saya menemukan sebuah catatan perjalanan yang akan saya ceritakan. Perjalanan ini kalo tidak salah dilakukan tahun 2017. Saya akan menceritakan Perjalanan ke Selatan Jawa Barat. Perjalanan kali ini bersama dengan kawan-kawan dari STOG (Suzuki Thunder Online Group). Adapun teman seperjalanan saya kali ini adalah Om Kuswandi dan om Wildan A.ka Om Ghel. Perjalanan diawali menuju Cikajang, Kabupaten Garut.

Perjalanan menuju Cikajang kali ini bukan melewati jalur seperti biasa. Rute yang kami ambil yaitu Ciwidey – Naringgul – Cidaun – Rancabuaya – Santolo – Cisompet – Gunung Gelap – Cikajang. Selama perjalanan, kita disuguhkan dengan air terjun atau “curug” dalam Bahasa Sunda. Sepanjang perjalanan di daerah Naringgul, kita akan melihat seretan curug di sisi kiri dan kanan tebing. Kondisi jalanan yang sudah mulus membuat kita bertiga betah untuk betot gas dan rem hehe.

Sayangnya, hujan membuat kita tidak leluasa membetot gas. Di daerah Tanjakan Seribu ada “Warung Nasi Purut Ibu Ida”. Ketika saya masih ikut Klub motor, kawan saya mampir untuk makan di sini. Lauk utamanya hanya ikan dan ayam goreng, namun rasanya nikmat sekali. Harganya sangat murah (recommended kuliner).

Oke, lanjut perjalanan. Setelah berada di daerah Cianjur Selatan, rasanya tidak afdol apabila gak ke pantai. Oke, kita masuk ke pantai. Ketika hendak mendokumentasikan suasana, motor saya terjatuh di pantai. Tepat setelah jatuh, gelombang pasang pun datang. Hiks, sedih rasanya liat motor keguyur air laut.

Setelah kembali surut, saya coba berdirikan motor. Alhamdulilah motor masih bisa nyala. Pertolongan pertama adalah mencari tukang steam motor. Tujuannya untuk cuci motor bagian dalam karena pasti banyak pasir. Ketika sudah menemukan tukang cuci motor, saya meminta dibersihkan area dalam.

Pasir pantai di daerah kiprok banyak banget. Tankbag dan tailbag isinya pasir semua. Cuci kendaraan full gini pasti bayar mahal, pikirku. Ternyata, pas ditanya berapa biaya cuci motor, hanya 10.000 Rupiah saja hehe. Cukup murah kan?

Selepas membersihkan motor, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Cikajang. Sayang, karena cuaca yang mendung, kami tidak dapat mendokumentasikan suasana. Setiba di Pameungpeuk, kami bertiga masuk ke Pantai Sayang Heulang. Ternyata disini ada “Bukit Teletubies” nya juga lho. Menurut saya oke untuk dijadikan camping area. Bukit Teletubies areanya terbuka sekali.

Beres foto-foto dan istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan ke Cikajang. Di daerah Gunung Gelap, hujan turun sangat deras. Sesekali terlihat jelas aliran Curug Neglasari berwarna coklat. Hal ini terjadi karena metrial tanah di hulu sungai ikut terbawa.

Di dalam Gunung Gelap pun kita sempat berhenti karena ada longsoran. Longsoran-longsoran tersebut bisa dibilang hampir memutuskan jalur Garut Selatan. Namun, dengan bantuan warga dan dinas PU, jalur dapat dilintasi kembali. Setengah tujuh malam kamipun sampai di Cikajang. Kami ikut beristirahat dirumah Om Kus.

Niat mau benerin motor malam-malam pun kalah dengan rasa cape. “Ah masa bodoh pikirku, yang penting istirahat dulu dan perbaiki besok pagi” hehe. Paginya, saya dibantu Om Ghel untuk bongkar kabel kabel motor. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak ada bekas pasir yang masih tersisa. Saya coba cek kembali dengan membuka area filter udara. Hal ini untuk melihat apakah basah akibat kemasukan air laut.

Tapi ketika dibuka, alhamdulilah aman sentosa. Jam 14.00 WIB, saya dan Om Ghel pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Sampai di daerah Samarang, saya terpisah dengan Om Ghel (saking ngebutnya hehehe). Akhirnya saya jalan sendiri melalui Kamojang.

Entah kenapa jalur Kamojang ini menjadi jalur favorit saya ketika pulang dari Garut Selatan. Alasan terbesar saya sih, untuk menghindari macet. Kemacetan bermula dari kota Garut sampai Cibiru. Kalo lewat Kamojang, hanya terkendala jalan  yang rusak. Jalan yang rusak berada di daerah Sapan sampe Gedebage. Saya pun sampai di rumah tepat pukul 16.00 WIB. Sesampainya di rumah, saya langsung istirahat karena kecapean hehehe.

Teks dan Dokumentasi: Aria Wirata Utama

Penyunting: Dya Iganov

Sebarkan :
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Follow Aria Wirata:

Berdomisili di Cimahi. Pegawai introvert yang ketika penat mencari pencerahan dengan berjalan jalan. Seorang traveller yang selalu travelling dengan menggunakan sepeda motor agar bisa mendapatkan lokasi/pemandangan alam yang luar biasa. Sempat mengikuti kegiatan sosial bersama Perjalanan Cahaya, Bandungers.

Latest posts from

Leave a Reply