Ada “Yang Lain” di Kareumbi

Ada “Yang Lain” di Kareumbi

posted in: Experience | 0

Menumpangi bus Primajasa ke arah Tasikmalaya, saya dan kawan-kawan turun di Cicalengka – tidak jauh dari Jakarta. Tadinya kami berniat berangkat pagi namun ternyata bus AC Primajasa arah Tasikmalaya atau Garut selalu penuh. Kebetulan waktu itu memang bertepatan dengan long weekend. Pukul sebelas kami baru dapat bus dan itupun harus berebut dengan penumpang lain di terminal. Jadilah perjalanan kami penuh sensasi dan tidak monoton.

Selama kurang lebih dua jam kami menikmati lancarnya perjalanan di Tol Cipularang. Setelah itu dengan angkot kami melanjutkan perjalanan selama satu jam dan tiba di lokasi tepat saat waktu sholat ashar.

Kami menumpangi angkot yang telah dicarter menuju pintu masuk Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) atau yang biasa disebut KW oleh masyarakat sekitar. Lokasinya tidak jauh dari Curug Ciulan yang terkenal lagunya itu. Untuk akses ke pintu masuk memang tidak ada angkutan umum yang beroperasi hingga kesana. Terdapat ojek namun katanya cukup mahal. Per orang biasanya harus mengeluarkan 50 ribu untuk pulang pergi dengan ojek. Dengan angkot, kami mengeluarkan 300 ribu untuk satu angkot yang muat diisi hingga sepuluh orang. Untuk biaya masuk ke lokasi dan biaya sewa mendirikan tenda dua malam, tiap orang dari kami dikenakan Rp 33.500,-.

Kawan kami sudah ada yang terlebih dahulu sampai namun kami tak bisa menghubunginya karena disana tak ada sinyal telepon seluler. Akhirnya saya, Tomi, dan Mang Uton mencari ke camp ground dan beruntung kami menemukannya sebelum gelap. Ternyata mereka sudah mendirikan tenda di camp ground C. Kami pun bergabung dengan teman lainnya.

Lokasi camping tidak terlalu ramai. Disana terdapat rumah pohon yang bisa disewa namun kami lebih memilih camping agar bisa menikmati Kareumbi lebih lama. Oh iya, secara administratif, Kareumbi berada diantara dua kabupaten, yakni Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung. Patoknya terlihat jelas di jalur menuju rumah pohon.

Kareumbi dilalui aliran sungai yang mengundang untuk diceburi karena alirannya tidak terlalu deras. Ingin hati ngobak di sungai setelah seharian tadi kepanasan di angkot namun takut juga kalau ada yang melihat.

Di Kareumbi, kita bisa berinteraksi dengan rusa-rusa di penangkaran. Kita bisa juga ikut berpartisipasi menjaga lingkungan dengan menanam pohon. Pohon yang kita tanam akan ditandai dengan nama kita sendiri. Untuk informasi lebih lengkapnya dapat dilihat di https://kareumbi.wordpress.com.

Menjelang malam, kami mulai menyiapkan api unggun dan makan malam. Malam pertama kami lalui dengan menyenangkan: menikmati udara di tengah hutan pinus, memasak, bersenda gurau mengelilingi api unggun, main air di sungai, dan masih banyak lagi.

Di malam kedua, sebelum senja datang turunlah hujan dengan derasnya. Air mulai merembes ke tenda saya yang didirikan diatas jalur air. Beberapa teman mulai sibuk membantu membuat jalur air baru karena hujan makin deras dan mulai menggenangi camp ground. Beruntung tak lama kemudian hujan mereda. Namun pada malam itu juga, sesuatu yang tak beres terjadi. Salah satu teman kami ternyata kerasukan makhluk halus. Salah seorang dari kami yang bisa melihat hal gaib, berkata bahwa yang merasukinya adalah neng kunthi yang ada di sungai dekat tenda kami.  Wajar saja karena dimanapun pasti ada “dunia lain”yang tak bisa kita lihat, apalagi di tempat yang jarang dijamah manusia seperti disini. Setelah kami pulang ada yang bercerita bahwa ia melihat terowongan besar di belakang tenda kami. Teman yang lain juga bilang bahwa ia melihat sesosok pria berjalan ke arah sungai pada malam pertama kami camping. Untung mereka tidak bercerita di lokasi, bisa-bisa saya langsung minta pulang. 

Terlepas dari kejadian mistis yang dialami beberapa kawan, sebenarnya Hutan Kareumbi cocok untuk dijadikan salah satu tempat melepas penat dari sibuknya rutinitas kota. Semua masih serba alami, belum terjamah modernitas teknologi. Jaraknya dari kota-kota besar seperti Jakarta atau Bogor juga tidak terlalu jauh. Selain itu, untuk kaum hawa yang kurang berani main air di sungai, tidak perlu khawatir karena disana sudah tersedia MCK yang bersih dan airnya dialirkan langsung dari sungai.

Sedikit tips untuk yang ingin berkunjung kesana, tidak perlu takut dengan “dunia lain” di sekitar kita, percaya saja bahwa kita punya dunia masing-masing dan cukup dengan tidak saling mengganggu. Bagi yang muslim bisa membaca bismillah dan istighfar untuk menjaga diri dari makhluk yang tidak baik. Semoga bermanfaat. [Elysa Rosita/End]

Penyunting : Bela Jannahti

Sebarkan :
  • 231
  • 182
  • 143
  •  
  •  
  •  
    556
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar anda?