Tiga Minggu Untuk Selamanya (1)

Oleh : Andika Putri

Still couldn’t believe we made it!


Setelah pendakian Raung dan tinggal di basecamp Regass Kalibaru punyanya Cak Nyong, akhirnya memutuskan untuk ga lanjut Argopuro dan memilih melanjutkan perjalanan ke Trenggalek daripada penasaran sama Tebing Sepikul. Menghabiskan waktu di basecamp Regass Kalibaru selama seminggu itu benar-benar terasa kurang lama. Dari dulu @jhoon_rimbawa emang udah pengen ngenalin aku dengan Cak Nyong dan keluarga Regass. Berkesan banget, terutama bagian merasakan kembali dekat dengan kesahajaan alam; mancing beberapa hari untuk bisa makan ikan, sakit perut obatnya makan daun jambu, tidur beralaskan kayu atau semen, liat sawah di perkampungan dan sungai tiap hari, dan banyak lagi. Kita berdua tuh sampe nunda-nunda lanjutin perjalanan ke tujuan berikutnya saking betahnya di basecamp.

Tebing Sepikul, Trenggalek. Dok. Andika Putri

Yhaaa, walaupun sama-sama berat hati dengan Cak Nyong, akhirnya tetep aja aku dan @jhoon_rimbawa lanjutin perjalanan ke Trenggalek. Mumpung udah bawa alat climbing dari mulai pergi ke Raung, sekalian aja jelajah tebing sekitar Jawa Timur. Dari awal kami niat naik kendaraan umum hanya untuk pulang ke dan pergi dari Cimahi. Jadi, mental buat lama-lama bawa beban berat di punggung dan jalan kaki atau nyetop truk udah auto terbentuk. Ga hanya soal budget, tapi lebih ke soal nahan ego masing-masing, menikmati perjalanan panjang dan bersosialisasi dengan warga lokal di tempat yang sebelumnya kami sama-sama belum pernah jalanin. Seru banget! Banyak orang baik dan tulus yang kami temui sepanjang perjalanan. Teman baru pun bertaburan.

Dimulai dari bus menuju Trenggalek, kami turun di perempatan Durenan, menikmati sarapan jenang campur yang harganya semangkuk 3000 rupiah, berjalan kaki dan akhirnya ngacungin jempol untuk nyetop kolbak. Untung kolbaknya berenti, kalo engga ya jalan kaki lagi sampe waktu yang tak ditentukan. Akhirnya, kami sampai juga di Desa Watulimo. Masih perlu berjalan nanjak ke arah Desa Watuagung untuk mencapai Sepikul. Kami pun ngisi jerigen air di masjid terakhir dan lanjut berjalan kaki. Ga berapa lama, sebuah mobil putih berenti dan minta kami ikut masuk. Ternyata eh ternyata, yang nyetir adalah Pak Kamidi, pemilik rumah yang juga posko tebing Sepikul. 😂

Untungnya (lagi) bertemu Pak Kamidi di jalan nanjak, mayan tanjakan terus jalannya sampe posko. Setelah istirahat sekitar sejam di rumah Pak Kamidi, ngobrolin banyak hal dan pamitan, lalu kami cukup jalan kaki sekitar 500 meter ke Sepikul. Yes, Sepikul juara! Bukan cuma ngabisin rope 50 meter yang kami bawa, tapi tebing ini punya trek yang memang layak sering jadi tempat festival panjat tebing. Jenis batuan di sini tergolong andesit tua.

Titik tertinggi tebing Sepikul mencapai 350 meter. Begitu ngeliat gugusan gunungnya dari jalanan, bener-bener cuma bisa ‘cengo’ memandang kegagahannya. Dari sekian banyak jalur, dengan ngemping semalem, @jhoon_rimbawa berhasil mencoba 3 trek Sepikul. Aku? Cukup rasain 2 trek aja, hanya satu yang berhasil sampai top runner. Memorable moment. Kapan lagi bisa liat view 20 meter di atas permukaan tanah dan badanku tampak kecil? Anginnya cukup kencang di tebing. Terima kasih, Sepikul! Entah kapan kita akan bersua lagi, tapi kamu udah bikin aku bahagia meski hanya semalam. [To be continue/APL].

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *