Tiga Minggu Untuk Selamanya (2-ponorogo)

Ponorogo! Ini satu tempat yang di luar dugaan mau dikunjungi, indah dan sungguh bersahaja paripurna.


Oleh : Andika Putri


Kalau ditanya ke Tebing Sepikul bisa naik kendaraan umum apa, jawaban sebenernya bisa naik mobil colt aja dari perempatan Durenan. Karena ingin menikmati jalanan dan aktivitas warga Trenggalek, kami ga pilih transportasi yang mudah didapat meski betis harus makin besar dan punggung pegal-pegal.

Tebing Sepikul punya banyak jalur panjat. Saking tingginya, istilah yang kami pakai selama di Sepikul itu harus ‘hemat tali’, bukan ‘hemat air’. Di salah satu jalur, terpaksa rope disambung dengan webbing karena hanya bawa kernmantel 50 meter untuk manjat jalur lebih dari 35 meter. Bukan kaleng-kaleng nih tebing.

Istimewanya lagi, tebing semegah dan setinggi Sepikul ini berasa milik pribadi karena ga ada lagi yang manjat selama di sana. Pemkab Trenggalek sudah buka 3 jalur panjat baru bulan Juni 2019 lalu dan sekarang, untuk memajukan pariwisata olahraga sudah dibuat juga jalur ferrata di area yang terpisah dengan climbing. Wajib banget eksplor Trenggalek kalo suka suasana perbukitan dan tebing. Juga kalo suka kuliner khas yang enak dan harga bersahabat banget. Warga lokal di Trenggalek ga sungkan bantu dan nolong selama kami di sana.

Pulang dari Tebing Sepikul, kami mampir ke posko milik Pak Kamidi untuk mandi dan bersih-bersih. Dari posko Sepikul, kami turun dengan jalan kaki, lalu liat kolbak dan auto ngacungin jempol. Alhasil kenalan dengan driver bernama Pak Didi sampe melipir juga ke rumahnya dan kenalan dengan keluarganya. Pak Didi punya usaha penyewaan alat-alat pesta. Ternyata lagi, tujuan Pak Didi pas banget mau ke Durenan, jadilah bisa curcolan sepanjang jalan sampe perempatan Durenan. 😊

Dari perempatan Durenan, kami jalan kaki lagi muter-muter keliling Trenggalek dari sekitar pukul 4 sore hingga 9 malam. Setelah lelah jalan kaki, kami putuskan berhenti dan nunggu kolbak untuk ditebeng. Tujuan awal langsung Jogja pun tampak mulai menyimpang ke Ponorogo. Gapapa jalan menyimpang dikit asal kamu bisa tetap di hatiku selamanya. Eh.

Panorama pedesaan di Ponorogo. Dok. Andika Putri

Ponorogo! Ini satu tempat yang di luar dugaan mau dikunjungi, indah dan sungguh bersahaja paripurna. Setelah kolbak terakhir malam itu yang ditumpangi nurunin kami di alun-alun Ponorogo, otomatis begitu turun bengong dulu dan langkahin kaki ke arah alun-alun. Lewatin warung makan tongseng, ada mas-mas manggil dan nanya mau ke mana. Singkatnya, kenalanlah dengan mas-mas itu. Namanya Mas Budi, asli Ponorogo tapi punya kedai kopi di Bali.

Dulunya Mas Budi doyan backpacker juga ke mana-mana. Jadilah kami duduk manis pesan tongseng (yang ternyata pedesnya level nyebelin) dan teh manis sambil ngobrol banyak dengan Mas Budi. Akupun googling tebing yang bisa dipanjat di Ponorogo dan nanya ke desa itu gimana-gimana jalurnya dari kota. Hingga ketemu dengan destinasi yang namanya Watu Semaur di Desa Ngrayun buat tujuan berikutnya.

Watu Semaur. Dok. Andika Putri

Mas Budi sempat nawarin nginep di rumahnya aja malam itu (kondisi sudah tengah malam), tapi kami putuskan untuk jalan-jalan lihat alun-alun Ponorogo dulu sambil mikirin istirahat di mana. Setelah ‘ngalun-ngalun’, kami terus jalan kaki ke arah pos polisi buat numpang tidur. Yang ga diduga, waktu arah jalan mau ke pos polisi ketemu dengan seorang bapak bernama Pak Dodi. Beliau nanya kami mau ke mana.

Singkatnya, awalnya kami mau tidur di masjid yang diarahin oleh Pak Dodi. Karena aku ngerasa ga nyaman buat rebahan, maka kami mutusin buat jalan kaki lagi ke pos polisi. Ternyata, di jalan ketemu lagi dengan Pak Dodi dan ujung-ujungnya ditawarin nginep di rumah Pak Dodi. Aku sempet mikir mimpi apa kita akhirnya ketemu kasur rumah. 😅

Pak dan Bu Dodi yang udah punya cucu 5 orang sangat welcome meski kami melipir ke rumahnya tengah malam. Pagi-pagi bangun, Bu Dodi udah nyiapin jadah-teh-kopi untuk ngisi perut. Mandi pun beneran puas di rumah Pak Dodi. Ga berapa lama setelah mandi dan repacking, Pak Dodi bawain nasi pecel buat sarapan kloter 2. Beneran terharu kalo inget semua tentang hari itu. Suatu saat kembali ke Ponorogo, rumah Pak Dodi akan selalu kami ingat untuk didatangi atas nama silaturahmi.

Jam 7 pagi kami pamit ke Pak dan Bu Dodi. Maunya jalan kaki ke arah Pasar Pon karena ingin mengunjungi kompleks makam Bathara Katong terlebih dulu. Maklum, @jhoon_rimbawa itu penyuka sejarah, jadi ga aneh kalo niat ke makam babat alas Ponorogo mumpung ada di kabupaten Reog ini.

Jalan yang ditelusuri ke makam Bathara Katong masih sekitar kota, namun sepanjang jalan yang tampak adalah rumah-rumah tempo doeloe. Menarik sekali berjalan kaki nelusurin Ponorogo. Setelah capek jalan, akhirnya nyetop kolbak yang ternyata lagi tujuannya persis mau ke depan jalan masuk komplek makam Bathara Katong. Menjelang jam 9 kami meninggalkan kompleks makam setelah ngobrol-ngobrol dulu dengan warga sekitar yang tinggal di area situ.

Kami melanjutkan jalan kaki mengarah ke Desa Ngrayun, lokasinya Watu Semaur. Nyetop kolbak lagi, jalan kaki lagi, gitu aja terus sampe dibilang katanya tinggal 2 km lagi sampe Semaur. Tau kan 2 km warga lokal berarti 15 km dengan jalan naik terus ke area perbukitan. Yang lewat hanya truk. Akhirnya numpang truk juga setelah kaki dan punggung angkat bendera putih. Tiba di Semaur jam setengah 2 siang, kami terpana total dengan panoramanya. Tentunya terpana, Watu Semaur itu lokasi panjat tebing yang ada di area persawahan. Terlalu indahnya! Perjalanan dari kota selama 4 jam menuju Semaur terbayar lebih dari ekspektasi. Auto taruh keril di pinggir jalan, nyeberang, lewatin tegalan sawah dan liat tekape langsung. Aaaaa, seneng banget liat suasana tenang di Desa Ngrayun! Sawah, bukit, jalan lintas kabupaten, pinus, tebing: we’re totally in heaven!

Lokasi tenda pun kami dirikan di pinggir jalan, persis di seberang sawah dan Watu Semaur. Di akhir perjalanan Ponorogo, kami baru tau tenda kami terkenal di kalangan warga lokal karena hampir ga pernah ada yang mau nenda di area Semaur saking horornya. [End/Andika Putri]

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *