Traveling itu Candu dan Bisa Menular (Wawancara dengan Hellen Fang)

Traveling itu Candu dan Bisa Menular (Wawancara dengan Hellen Fang)

posted in: Travelers Profile | 0

Hellenda Wijayanti. Nama populernya Hellen Fang (Lah Fang dari mana?) Menurut pengakuan Hellen, ini gabungan nama chinese dengan nama Indonesia. Awalnya “Iseng-iseng berhadiah” eh malah lebih banyak dikenal dengan nama tersebut, terutama sosmed, gitu katanya. Kak Hellen ini blaster jawa cina (marga Tan).

Kesibukannya akhir-akhir ini : mengikuti acara-acara semacam jambore, kopdar, dan kemarin 9-12 Nov terpilih menjadi salah satu peserta TBT (traveling by train) ke-8 yang diselenggarakan oleh PT. Kereta Api Indonesia. Kesibukan sehari-harinya?

“antar jemput sekolah anak-anak. Masak, cuci baju, cuci piring, ngepel, dsb 🙈😂 selayaknya istri dan ibu rumah tangga yang baik. Dengan harapan jadwal jalan-jalan saya dipermudah oleh suami” aku Hellen

Pendidikannya : dari mulai TK sampai SMA sy berpindah pindah. Bukan karena nakal, faktor intern. 🙂

Hobby : Jalan-jalan donk. Terutama yang berhubungan dengan alam. Untuk sekarang ini sedang berusaha mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba (body jumping) dan yang dia takuti, yang berbau air  😂

Hellen ini perempuan 11 november (entah kenapa ada rasa senang tersendiri dengan sebutan tersebut) 😅 lahir di Semarang. Tahun?

“Saya masih muda kok, 90-an” akunya lagi.

Tentang Hellen Junior. Namanya Jesselyn, lahir di Magelang, 1 Juli 2011. Sudah TK B.

Travelnatic bertemu perempuan yang ramah ini di acara Jambore WG beberapa waktu lalu. Setelah dikenalkan oleh panitia, akhirnya disepakati untuk mewawancarai Hellen. Cerita seru apa sih yang sudah dilalui Hellen di kegiatan jalan-jalan? Mari simak wawancara lengkap travelnatic.com dengan Hellen Fang berikut ini.

Kenapa kok takut air?

Saya bukan perenang handal, bisa renang sih tapi itu pun secara otodidak (kalo orang jawa bilang masih “semrawut” 😆), dan sy sama sekali tidak tahu tentang kehidupan dibawah air.

Dulu waktu kecil, saya sempat tinggal di kampung. Biasalah anak jaman dulu, mainnya di sawah dan sungai. Saya hampir hanyut terbawa arus sungai, beruntung saat itu saya bisa berpegangan dengan batu besar. Dan menyelamatkan diri (sendiri) 😓

Belum coba arung jeram dong kalo gitu?

Puji Tuhan, saya sudah arung jeram 3 kali. Itu pun baru-baru ini 😀.

Karena saya pikir, sangat sayang sekali diberi hidup tapi memanjakan rasa takut yang ada di diri kita (kecuali takut kepada sang pencipta loh 😊). Sehingga membatasi diri kita untuk menikmati keindahan dan kehidupan yang Tuhan beri.

Saya pun berhasil melawan rasa takut terhadap air, yahh walaupun tetap secara bertahap. 😁

Mulai suka kegiatan traveling sejak kapan sih? Kalo mendaki gunung sejak kapan?

Kalau untuk traveling sudah dari jaman sekolah kak, mungkin pengaruh dari tempat tinggal dan sekolah yg berpindah2 kali ya 😁. Sedangkan untuk mendaki gunung baru-baru ini (newbie). Tepatnya setelah saya melahirkan anak yang pertama (awal 2012).

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin sekali mendaki gunung, tapi berhubung saya bukan dari mapala dan semacamnya, oleh sebab itu saya mengurungkan niat hingga mendapat teman yang cocok dan sudah berpengalaman (demi safety hike).

Dan amat sangat banyak beruntungnya, walaupun saya tidak dari mapala dan semacamnya tetapi rata-rata (98%) teman mendaki saya dari mapala dan KPA.

Jadi saya tidak perlu ikut diklat tapi tetap bisa mendapatkan banyak ilmu dari mereka. Kedengarannya enak ya, padahal saya juga sering digojlok sama teman-teman mendaki saya 🙈

Sedikit cerita : sering banget nih saya naik nitip air/barang ke si A. Suatu ketika si A drop dengan carrier 110L FULL, dia minta tukar carrier dengan saya sampai ditempat camp (saat itu di merbabu, dari pos 3 sampai sabana 1). Mau ngga mau saya harus mau 😂 Lah mau nolak gimana, saya sering sekali nitip barang dan dia minta tolong langsung ke saya.

Saat itu mau nafas aja susah, disemangatin sama orang-orang sama sekali dah ngga ngefek. Taunya jalaaaannnn terus, dan saat sampai di sabana 1 tiba-tiba diteriakin “selaaaamaaat…”

Taunya si A itu bohongan sakitnya (sekongkol) rasanya mau nangis, marah tapi tetep ngga bisa. Si A ngomong, ini ngga seberapa dibandingkan diklat yang sesungguhnya. 😭🙈

Untuk latihan tali temali/srt saya pun ikut bergabung dengan teman-teman saya, biasanya latihan dilakukan di jembatan Babarsari.

Sekarang sudah dapat partner mendaki yang tepat dong, jadi sering naik gunung?

Sudahh dong kak.. dan yang pasti “senasib” 😆.

Senasib maksud saya adalah waktu, entah ada tanggung jawab pekerjaan maupun keluarga. Jadi kalo kita mendaki sebisa mungkin mempersingkat waktu, dan kadang juga maraton 😰. Yang terpenting tetap safety dan on time 😁.

Kalau untuk seringnya sih enggak juga kak, apa lagi sekarang anak-anak sudah sekolah semua. Jadi ya harus lebih pintar atur waktu, paling sering mendaki pas weekend sih.

Kalo udah mepet boring nya ya camping ceria di dekat rumah. Gimana caranya tetap bisa camping tapi anak juga tetap sekolah (ga bolos, dan sekolah anak-anak pun shift pagi-siang, jadi bs menyesuaikan). Rempoong ya… 😂

Apa sih yang didapatkan dari kegiatan semacam itu Kak?

Yang saya dapatkan dari traveling & mendaki gunung, hmmm… Saya lebih bisa menghargai hidup, mensyukuri apa yang saya miliki, merasa lebih tenang, bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai kalangan yang kebanyakan dari mereka akan berbagi cerita/pengalaman, otomatis menambah ilmu dan saudara.

Apa kak Hellen sukanya menjelajahi Indonesia saja, atau juga suka ke mancanegara?

Damn! I really really love Indonesia!

Mimpi terbesar saya adalah bisa menjelajahi Indonesia raya!

Rasanya tak akan ada habisnya untuk menjelajah keindahan Negeri ini.

Jesselyn dan adiknya memetik stowberry. Dok. Hellen Fang
Jesselyn dan adiknya memetik stowberry. Dok. Hellen Fang

Tampaknya kegemarannya Kak Hellen di kegiatan traveling akan menular ke Hellen junior nih? Disengaja atau gimana kak?

Hahahaha… Begini, dulu beberapa tahun yang lalu ketika anak-anak saya belum pada sekolah. Bisa dibilang saya gila naik gunung, seminggu bisa 3-4 kali, entah gunung, bukit, atau hanya sebatas memburu sunrise di dekat rumah. Pokok jalan terus 😜

Lalu suatu ketika, saat saya akan berpamitan untuk pergi, anak perempuan saya (Jesselyn) rewel tidak mau ditinggal. Saat itu saya memberi pengertian, bahwa saya hanya akan pergi sebentar dan segera pulang, dengan embel-embel oleh-oleh atau menjanjikan jalan-jalan ke suatu tempat.

Nahh.. Saat saya turun gunung dan sampai dirumah, dia langsung menghampiri & memeluk saya sambil nangis dan ngomong “aku ga mau ditinggal mami terus, besok kalau mami naik gunung jesselyn ikut!”

Mulai dari situ saya berencana “next” akan ajak anak, pastinya ke gunung yg pendek-pendek dulu sebagai pengenalan buat Jesselyn.

Pas diajak, Jesselyn senang gitu?

Sangat senang!

Pernah tu suatu hari dia sampai nangis-nangis pengen naik gunung (gara2 gagal ikut ke Prau) 😂 akhirnya Andong pun sebagai pereda.

Kalau saya tanya, Jesselyn kog suka naik gunung kenapa? Katanya sih, temennya banyak, seger, lihat matahari (maksudnya sunrise), dan banyak bunga.

Kak Hellen udah kemana aja? Ceritain satu yang paling menarik dong

Saya baru se-Jateng aja sih kak, Jatim-an paling baru beberapa, Jabar belum pernah sama sekali 😭 Dan yg paling jauh baru ke rinjani.

Aduuhh susah nihh… Hmm… karena semua perjalanan itu menarik untuk diceritakan dan itu membuat saya bingung.. hahaaa

Tapi ada cerita yang sangat menarik menurut saya,.. Entah sudah berapa kali saya ke Sumbing, bisa dibilang tak terhitung (cieee sombonggg 😂). Ketika yang lain lebih memilih Merbabu sebagai gunung favorit. Tapi tidak dengan saya, gunung favorit saya adalah Sumbing (via Butuh ; Kaliangkrik).

I don’t know why.. mungkin karena setiap membuka pintu rumah Sumbing selalu nampak jelas di depan mata. Dan juga setiap saya rindu gunung, Sumbing selalu menjadi objek utama imajinasi😅.

Tapiii…… entah sudah berapa kali saya ke Sumbing, untuk mencapai kawahnya selalu gagal, SELALU..!😭😭😭

Faktor cuaca, teman sakit, badan drop, keasikan (jadi tidak sadar sudah jam-nya untuk packing turun, karena saya termasuk pendaki on time 😝), males (udah pewe di pos camp), kecapekan (sudah sampe puncak mau turun kawah sudah ga mampu), dan faktor2 lain yg tidak terduga 😰

Dan pasti saat turun gunung ketika berpapasan dengan warga setempat (khususnya via Butuh) yang ditanya bukan puncak tetapi kawah. Karena menurut warga lereng Sumbing tersebut kalau belum ke kawahnya berarti belum ke sumbing. Kan nyeseekk 😭

Menurut saya aneh-aneh gimanaa gitu kak. Mungkin biar saya sering-sering ke Sumbing kali ya 😅

Menurut Hellen, ini satu-satunya foto yang enak dilihat dari tiga pendakian ke G. Prau. Dok. Hellen Fang
Menurut Hellen, ini satu-satunya foto yang enak dilihat dari tiga pendakian ke G. Prau. Dok. Hellen Fang

Kalo sama Jesse sudah kemana aja?

Kalau dengan Jesselyn baru ke Merapi, Sumbing, dan Prau, sering-seringnya Andong 😆.

Maklum kak, untuk bawa Jesselyn ke gunung susah ijinnya, terutama papa-nya.

Karena kita beda hoby.

Mungkin kaka bisa bayangin gimana susahnya buat mendapat ijin mendaki.

Dan gimana pun caranya saya tetap harus bisa mendaki..! 😃

Penting ga sebenarnya mengajak anak berkegiatan traveling menurut Kak Hellen?

Sangat penting!

Apa lagi jaman sekarang ini kak. Dikit-dikit gadget.

Yaahh.. walaupun tetap ada jam untuk bermain gadget, tapi tetap saya awasi dan batasi.

Kalo sama Jesse, hal-hal yang berhubungan dengna safety siapa yang urus?

Untuk packing segala sesuatu semua saya yang urus. Saya termasuk orang yang (sangat) rempong kalo urusan naik gunung/traveling. Biasanya orang-orang packing h-3, kalo saya ya h-10 sudah bikin daftar ceklist. H-10 itu untuk gunung yang bisa didaki sehari semalam. Kalo untuk yang berhari-hari saya bisa packing satu bulan sebelum hari H. 😁

Ada perubahan dari Jesse sebelum dan sesudah sering ikut berkegiatan traveling sama Kak Hellen?

Perubahan pasti ada, jadi ngga betahan dirumahh kak.. hahahahaa (emang si jesse ngga jauh-jauh dari emaknya sihh)

Perubahan yang paling kelihatan adalah dia tidak berani membuang sampah disembarang tempat. Apa lagi sering saya lihatin berita di tv tentang banjir.

Lebih dekat dengan Tuhan. Sering dia bertanya kepada saya, yang buat pohon siapa ya mi? Kog gunung tinggi? DLL

Karena kadang saya bingung mau jawabnya apa, “Tuhan” jawaban paling tepat.. 😁

Kalo jadi MC, itu memang profesi gitu?

Itu hanya kebetulan saja kak. Saya diminta tolong, dan sy pun belum pernah. So, tidak ada salahnya mencoba donk.. hehehe

Apa harapan Kak Hellen ke depannya terkait dunia perjalanan di Indonesia?

Begini kak, entah kenapa dimata traveler Indonesia (termasuk saya 😄) mau jalan ke Negeri sendiri aja lebih mahal dibandingkan ke luar negeri. Apa lagi ke bagian timur Indonesia, selangit sendiri untuk ongkosnya, belum lain lainnya.

Kita bukan turis loh, masak iya mau jalan-jalan di negeri sendiri ongkos rasa luar negeri (malah kadang lebih murahan ke luar negeri).

Saya harap ke depannya pemerintah lebih bijak dalam hal ini. Dan saya harap untuk para traveler termasuk saya juga, tidak hanya memperlihatkan keindahan Indonesia saja, sepertinya Indonesia lebih butuh aksi! Aksi peduli!

Mencintai itu mudah, menjaganya yang susah!

Demikian wawancara dengan Hellen Fang, silakan liat foto jalan-jalannya di instagram : hellen_fang11 semoga bermanfaat ya sobat Travelnatic! [Nurul Amin/End]

 

Sebarkan :
  • 297
  • 290
  • 265
  •  
  •  
  •  
    852
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?