TRAVELNATIC GOES TO BONDOWOSO PART 1

posted in: Experience | 2

Pada akhir Februari 2018 lalu, salah satu admin Travelnatic sedikit mengeksplore Bondowoso. Bondowoso merupakan satu kota kecil yang berada di Jawa Timur. Kota ini berbatasan langsung dengan Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Besuki. Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu kabupaten yang tidak memiliki wilayah laut (terkurung daratan) dan terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Tancak Jomblo yang terletak di pinggir jalan. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Sebelum bercerita mengenai lokasi yang dikunjungi, ada baiknya kita sedikit berkenalan dengan perjalanan kemunculan objek-objek wisata di Kabupaten Bondowoso. Meskipun berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi yang sudah cukup dikenal sebagai tujuan wisata utama di Timur Pulau Jawa, namun, tidak halnya dengan Bondowoso. Jangankan sebaran dan nama-nama objek wisata di Bondowoso, letak Bondowoso pun masih banyak yang tidak tahu. Padahal, kenyataannya, Kabupaten Bondowoso memiliki objek wisata yang cukup lengkap dan tersebar di seluruh wilayahnya.

Setahun kebelakang, tepatnya 2017, mulai muncul Kawah Wurung yang turut meramaikan daftar objek wisata yang wajib di kunjungi di Indonesia. Hal ini secara langsung mengangkat nama Bondowoso di kalangan para traveler. Padahal, jauh sebelum hitsnya Kawah Wurung, sudah ada Air Terjun Belawan dan Niagara Mini yang pertama kali muncul sekitar tahun 2011 (atau bahkan sebelum itu). Satu-satunya andalan dan icon wisata sebelum Kawah Wurung yaitu Pegunungan Hyang dengan Gunung Argopuro dan Danau Taman Hidupnya.  Kemunculan objek wisata Kawah Wurung dan Kawah Ilalang inilah yang pada akhirnya mendorong salah satu admin Travelnatic untuk berkunjung ke Bondowoso.

Tepat akhir Februari 2018, perjalanan menuju Bondowoso pun dimulai. Perjalanan berawal dari Bandung menggunakan kereta api tujuan Jember dengan sebelumnya transit dulu di Surabaya. Dari Jember, perjalanan menuju Bondowoso akan ditempuh dengan sepeda motor selama satu jam. Sebelumnya, admin sudah mencari banyak informasi mengenai rute, letak objek wisata, sampai akhirnya mendapatan kontak R-Jek nya Relawan Muda Bondowoso. Rekan dari R-Jek inilah yang akan menemani admin selama dua hari keliling Bondowoso. Mas Zen namanya. Tepat pukul 13.00 WIB, sudah siap menjemput admin di Stasiun Jember. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Bondowoso selama satu jam.

Bagi sobat Travelnatic yang hendak berkunjung ke Bondowoso, terdapat beberapa pilihan rute, diantaranya melalui pesawat dari Bandung menuju Jember dengan transit di Surabaya. Pilihan kedua menggunakan kereta api menuju Surabaya, lalu dilanjutkan menuju Jember. Pilihan ketiga menggunakan kereta api hingga Surabaya, lalu bus menuju Jember Pilihan keempat, menggunakan bus menuju Surabaya, lalu ganti bus jurusan Jember di Surabaya. Untuk menuju Bondowoso dari Jember, Sobat Travelnatic dapat menggunakan bus antar kota dari Terminal Jember menuju Terminal Bondowoso. Atau, jika tidak ingin repot, bisa langsung menyewa ELF dari Surabaya atau Jember langsung menuju lokasi tujuan.

Jika menyewa ELF dari Surabaya atau Jember, sebaiknya Sobat Travelnatic bepergian secara rombongan agar pembagian biaya bisa lebih ringan. Sobat Travelnatic pun bisa juga menggunakan jasa R-Jek dari Komunitas Relawan Muda Bondowoso jika tidak ingin repot atau hanya bepergian sendiri/dalam jumlah rombongan sedikit.

Untuk masalah akomodasi di Bondowoso, Sobat Travelnatic bisa menggunakan beberapa pilihan. Pertama dengan menginap di hotel-hotel yang ada di Bondowoso. Namun, karena belum seramai kota lainnya, maka ketersediaan hotel di beberapa situs penyedia jasa pemesanan online cukup terbatas. Sebaiknya mencari setiba di lokasi agar lebih banyak pilihan harga.

Kedua, langsung menyewa homestay/guesthouse di Sempol. Jika mengambil pilihan kedua, berarti Sobat Travelnatic setiba di Jember sudah harus langsung mencarter mobil atau akomodasi lainnya hingga ke Sempol. Waktu tempuh antara Kota Jember – Kota Bondowoso – Kecamatan Sempol kurang lebih 3 jam. Pilihan ketiga, bisa dengan menumpang di Basecamp milik Komunitas Relawan Muda Bondowoso yang berlokasi sedikit di pinggiran kota Bondowoso, dan yang terpenting, gratis.

Kembali ke cerita perjalanan admin, setiba di Bondowoso, kami berdua langsung menuju base camp. Sore ini, basecamp sepi hampir semua anggota memang sedang ada keperluan masing-masing. Bahkan. Kedatangan admin bertepatan dengan persiapan Mubes Komunitas Relawan Muda Bondowoso di tempat lain. Sore ini, admin hanya bertemu dengan bapak dan ibu nya Komunitas RMB, dan satu orang teman RMB. Berhubung sudah sore dan ada satu tempat yang ingin langsung admin kunjungi, admin dan mas Zen pun tidak berlama-lama di basecamp. Kami pun pamitan dengan ibu. Tujuan kami di sore yang mendung ini adalah Tancak Kembar yang berada di salah satu kaki Pegunungan Hyang.

Salah satu spot di area utama Tancak Kembar. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Tancak Jomblo dan Tancak Kembar

Perjalanan dari basecamp menuju Tancak Kembar hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk jarak 23 Km. Perjalanan cukup lancar, kurang dari satu jam kami sudah tiba di Tancak Jomblo. Meskipun hari Minggu, namun sepanjang perjalanan menuju Tancak Jomblo dan di lokasi Tancak Jomblo pun tidak ada satupun pengunjung yang kami temui. Jalan yang harus dilalui akan memasuki area milik perkebunan. Jalan di perkebunan inilah yang tersulit. Jalan desa Andungsari yang berbatu dan terus menanjak akan berakhir di gapura milik PTPN.

Dari sini, jalan yang harus dilalui hanya disarankan untuk sepeda motor saja, Jalan merupakan jalan tanah kurang lebih sepanjang 2,5 Km yang hanya cukup untuk dua sepeda motor berpapasan. Sisi kanan jalan merupakan tebing yang rawan longsor, sedangkan di sisi kiri jalan merupakan jurang yang sangat dalam. Bila musim hujan, jalan akan dipenuhi oleh lumpur dan rumput basah, sangat licin. Meskipun kondisi jalan relatif datar, tetapi jalur akan terus menyusuri tepian jurang.

Tancak Jomblo berada tepat di sisi jalan, sehingga Sobat Travelnatic tidak perlu susah payah treking. Tancak Jomblo ini merupakan air terjun non permanen, artinya pada musim kemarau akan kering total. Perjalanan kami lanjutkan menuju Tancak Kembar yang hanya tinggal 1 Km lagi dari lokasi Tancak Jomblo. Ujung jalan yang kami lalui merupakan area parkir objek wisata Tancak Kembar. Sudah ada pos penjagaan dan semacan toilet yang saat kami datang dalam keadaan terkunci. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 500 meter. Jalan menuju lokasi Tancak Kembar sudah dikelola, jadi pengunjung hanya tinggal mengikuti jalan setapak dari area pakir

Tibalah kami di area utama Tancak Kembar. Dua buah air terjun dengan air yang sangat jernih dan dan sangat dingin menyambut kami berdua. Pada saat kami tiba, volume jatuhan kedua aliran Tancak Kembar sedang besar. Jika kemarau, air terjun di sisi kiri akan sangat kecil volume jatuhannya, bahkan kering. Tidak demikian dengan air terjun di sisi kanan. Pada kemarau pun masih tetap ada airnya, meskipun kecil. Sudah tersedia beberapa saung untuk pengunjung di area ini. Saat kami tiba, tidak ada pengunjung lain selain admin dan mas Zen.

Kondisi ketika kami tiba sudah gerimis dari kabut, sehingga cukup sulit mengambil foto tanpa lensa yang berembun. Langit pun sudah sedikit gelap, kelabu oleh awan mendung, sehingga foto-foto yang admin ambil rasanya kurang greget. Berhubung sudah hampir pukul 17.30 WIB, kami berdua memutuskan untuk segera kembali. Jika hujan turun lagi, jalan yang kami lalui tadi akan semakin sulit. Selain itu, kami juga menghindari kemalaman di jalan Perkebunan Andungsari yang berbatas jurang dalam itu.

Tancak Kembar merupakan objek wisata air terjun andalah Bondowoso setelah Air Terjun Belawan yang lebih dulu tenar beberapa tahun lalu. Tancak Kembar yang terletak di lereng Gunung Argopuro pun tidak luput dari cerita Dewi Rengganis. Konon, Tancak Kembar merupakan tempat mandinya Dewi Rengganis. Dari sinilah mitos yang mengatakan jika kita membasuh muka dengan aliran Tancak Kembar akan awet muda.

Aliran Tancak Kembar di sisi kanan berasal dari Danau Taman Hidup di Gunung Argopuro, sedangkan aliran di sisi kiri, memiliki sumber aliran dari sungai-sungai kecil di atas tebing. Inilah salah satu sebabnya mengapa aliran Tancak Kembar sangat dingin dan jernih, juga kenapa hanya satu aliran jatuhan yang akan kering ketika musim kemarau. Berdasarkan salah satu sumber, ketinggian Tancak Kembar kurang lebih 77 M. Hutan yang ada di sekitar Tancak Kembar, merupakan kawasan Hutan Lindung dan berada pada ketinggian 900 mdpl.

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan mampir sebentar di Tancak Jomblo sebelum kabut tebal menutup total pemandangan di sekitar jalan perkebunan. Kami mulai jalan kembali sekitar pukul 18.19 WIB. Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Tidak terasa, kami sudah kembali menjejal jalanan Desa Andungsari yang berbatu. Kemudian berganti menjadi aspal mulus, hingga tiba kembali di persimpangan dengan jalan Raya Situbondo. Kami mampir kembali di basecamp untuk beritirahat dan makan malam.

Selesai sudah perjalan pertama di Bondowoso kali ini. Besok perjalanan di Bondowoso akan dilanjutkan dengan mengunjungi Kawah Wurung, Kawah Ilalang, Niagara Mini, dan Air Terjun Gentongan. Semoga cuaca besok lebih bersahabat.

 

Sebarkan :
  • 12
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

2 Responses

Leave a Reply