TRAVELNATIC GOES TO BONDOWOSO PART 2

posted in: Experience | 0

Rencana hari kedua di Bondowoso, admin akan mengeksplore beberapa wisata andalan Bondowoso di sekitar Pegunungan Ijen. Kurang lebih ada enam lokasi. Perencanaan yang matang pun pada akhirnya harus diolah kembali ketika menghdapi situasi tak terduga. Hujan lebat dengan durasi cukup lama memang sedang sering mengguyur Bondowoso dan sekitarnya. Rupanya, Bondowoso sedang berada pada puncak musim hujan.

 

Kawah Wurung dan Jabal Kirmit

Rencana kami untuk berangkat pukul 05.00 WIB pun tinggal wacana. Nyatanya, kami baru tiba di basecamp sekitar pukul 06.00 WIB. Kami hanya sebentar di basecamp. Hanya sekedar menitipkan pakaian dan barang-barang yang tidak terlalu perlu dibawa untuk perjalanan kali ini. Kawah Ilalang merupakan tujuan utama admin. Dalam sebuah referensi, disebutkan bahwa diperlukan treking sekitar 45 menit menanjak ke atas bukit dan 30 menit melewati jalan untuk motor yang penuh pasir dan lumpur. Inilah alasan kenapa kami seharusnya sudah berangkat sedari 04.30 WIB. Selain itu, akhir Februari merupakan puncak musim hujan di Bondowoso. Bahkan pagi hari pun sudah turun hujan.

Setelah hari pertama kami mengeksplore di sekitar Pegunungan Hyang, hari kedua ini, kami menuju arah Pegunungan Ijen. Tanpa sarapan dan tanpa perbekalan logistik, kami pun melintasi Jalan Kawah Ijen. Senin pagi, hanya ada motor yang kami kendarai di jalan aspal mulus yang membelah ladang tebu. Cuaca cukup cerah, dari basecamp terlihat jelas Pegunungan Hyang di Barat dan Pegunugan di darah Kecamatan Kretek di Utara. Tepat di persimpangan dengan jalur menuju Sumber Wringin, salah satu jalur pendakian Gunung Raung, kami berhenti sejenak membeli makanan ringan dan minuman. Satu jam kemudian, kami memasuki area perkebunan. Kami hampir sampai di Sempol.

Rencana kami untuk sarapan di Sempol pun kami urungkan. Berhubung kami sudah terlambat, kami memutuskan untuk memakan makanan ringan yang kami beli sebelumnya di lokasi saja. Siang nanti baru kami akan makan makanan berat. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju Kawah Wurung. Kawah Ilalang yang menjadi tujuan utama pun kini hanya menjadi cadangan. Sebenarnya, dari segi pemandangan, Kawah Ilalang lebih direkomendasikan. Terlebih, Kawah Ilalang letaknya lebih tinggi dari Kawah Wurung dan belum komersil, masih alami.

Langit biru dengan sedikit saja awan putih menyambut kami di Kawah Wurung. Pemandangan ke arah Situbondo dari celah-celah tebing pegunungan pun nampak jelas. Gunung Ranti terlihat jelas, sementara di sisi kirinya, puncak Gunung Ijen dan Merapi mulai tertutup awan. Di sisi lainnya, puncak Gunung Suket dan Gunung Raung tetap murung tertutup awan hujan. Kami memutuskan untuk ke sisi Tenggara Kawah Wurung. Spot disini lebih sempit, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan bukit yang memiliki tulisan “Kawah Wurung”.

Tidak ada pengunjung lain selain admin dan mas Zen. Kami cukup beruntung kata mas Zen, karena ketika kami tiba di Kawah Wurung ini pada pukul 10.12 WIB, langit masih biru dan hanya ada sedikit awan putih. Berbeda dengan beberapa hari lalu yang ketika mas Zen tiba di Kawah Wurung dengan waktu yang sama, hujan lebat sudah turun. Puas mengambil foto, mas Zen menawarkan untuk turun ke savana di bawah kami, namun segera tawaran tersebut admin tolak. Akhirnya mas Zen mengajak ke Bukit Jabal Kirimit, salah satu objek wisata dari enam objek wisata di area Kawah Wurung.

Savana di area utama objek wisata Kawah Wurung. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

Jalan yang kami ambil pertama-tama berada di pinggiran jurang dan hanya selebar ban motor. Salah manuver sedikit, bisa-bisa kami meluncur bebas ke savana di bawah kami. Untungnya, hanya sekitar 500 m, kami kembali ke jalan utama yang menghubungkan area utama Kawah Wurung dengan Jampit. Jalan yang kami harus lewati sekarang pun cukup sulit. Pasir lepas dan lubang besar yang menganga akibat gerusan air hujan harus kami lalui. Tepat jam 11.00 WIB kami tiba di Bukit Jabal Kirmit.

Karena keterbatasan waktu, kami tidak sampai mendaki ke puncak Bukit Jabal Kirimit. Menurut Mas Zen, puncak Jabal Kirmit akan ramai oleh pengunjung yang melaksanakan upacara 17-an. Selain itu, di balik Bukit Jabal Kirmit, terdapat satu rumah mewah milik sesepuh yang membuka area ini. Uniknya rumah yang bisa dibilang mewah ini sudah kosong berpuluh-puluh tahun. Tidak ada yang berani menempati. Para ahli warisnya pun tidak diceritakan. Kami berjalan sedikit ke area yang lebih terbuka untuk beristirahat dan memakan makanan ringan kami. Perut mulai terasa lapar.

Kami berhenti di sebuah area terbuka yang dibatasi oleh jalan utama yang masih berupa jalan pasir dan Bukit Jabal Kirmit di seberang kami. Jika kami terus mengikuti jalan utama yang berpasir ini kami akan tiba di Jampit yang terkenal akan Guest House yang sudah ada sejak 1928 dan masih digunakan hingga saat ini. Kalau saja, Gunung Suket dan Gunung Raung tidak tertutup awan hujan yang makin menghitam, kami mungkin akan nekat terus jalan hingga Jampit. Namun, posisi Gunung Raung dan Gunung Suket yang sebenarnya tepat berada di hadapan kami makin menghilang oleh awan hujan yang semakin menghitam.

Hanya satu jam kami duduk sambil mengobrol dan menikmati makanan ringan kami di Jabal Kirmit ini. Kami memutuskan untuk kembali ke Sempol karena mendung semakin mendekat ke arah kami. Beberapa rencana awal pun kembali berubah. Berhubung jalur menuju Air Terjun Gentongan cukup sulit dan dikhawatirkan hujan deras turun selepas siang, maka Air Terjun Gentongan pun kami ganti dengan Air Terjun Belawan. Air Terjun dari Bondowoso yang paling pertama populer. Curah Penai dan Bukit Apet-Lepet yang tadinya ingin saya kunjungi pun terpaksa ditunda untuk lain kali.

Kami mulai melahap kembali jalanan berpasir dan berlubang dalam dimana-mana ini, berharap hujan tidak segera turun. Kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto di area parkir utama Kawah Wurung. Kali ini, hanya terlihat pucak Kawah Ilalang yang mulai tertutup kabut tebal. Pemandangan lainnya yang saya lihat jelas tadi pagi, kini semuanya putih tertutup kabut tebal.

Kondisi jalan antara Kawah Wurung dengan Jabal Kirmit. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

AIR TERJUN BELAWAN DAN NIAGARA MINI

Kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Belawan dan Niagara Mini di sisi lain Kecamatan Sempol. Perjalanan cukup lancar hingga tiba tepat di hadapan Air Terjun Belawan, Sebelum tiba di lokasi Air Terjun Belawan, akan terlebih dahulu melewati Air Terjun Niagara Mini yang letaknya tepat di pinggir jalan utama. Lagi-lagi tidak ada pengunjung lain selain kami berdua.

Suasana di sekitar lokasi utama Air Terjun Belawan cukup membuat admin sedikit tidak nyaman. Entah karena awan mendung yang makin menghitam, suara petir di kejauhan yang tidak berhenti, tebing-tebing dengan tetesan air yang suram, atau air terjun Belawan sendiri yang kala itu volume airnya sangat-sangat besar. Sampai sedikit pusing jika terus-terusan melihat ke arah jatuhan airnya. Sesekali, cuaca menjadi cerah, namun kembali mendung, hingga akhirnya kali ini sama sekali tidak ada sinar matahari lagi. Kami memutuskan untuk kembali ke parkiran motor. Untuk sampai di parkiran motor, pengunjung harus berjalan kaki menanjak melewati anak tangga. Waktu yang diperlukan cukup 5-10 menit saja.

Tujuan terakhir kami di Sempol adalah Niagara Mini. Berhubung hanya perlu waktu 5 menit berjalan kaki saja, kali ini mas Zen tidak ikut menemani. Mas Zen menjaga motor yang diparkirkan di pinggir jalan desa. Dari lokasi menyimpan motor pun, air terjunnya sudah terlihat. Tetapi, spot yang cocok untuk mengambil gambar Air terjun Niagara Mini ini memang harus sedikit ke bawah lagi. Admin tidak berlama-lama disini karena gerimis sudah mulai turun. Segera kami memakai jas hujan karena diperkirakan di pusat kota Kecamatan Sempol hujan deras sudah turun.

Benar saja, tidak lama setelah melewati persimpangan ke arah Kawah Wurung, hujan deras turun tanpa basa-basi. Kami berhenti di satu rumah makan di Sempol. Admin memesan nasi goreng dan mas Zen memesan nasi pecel. Akhirnya kami mengisi perut juga dengan makanan berat ditemani hujan deras. Kami cukup beruntung karena sudah semua tempat yang ingin kami datangi sudah berhasil didatangi tanpa terpotong hujan. Hujan deras cukup lama, bahkan tidak terasa sudah hampir pukul 15.00 WIB. Mas Zen mengajak untuk menerobos hujan, karena hujan disini biasanya baru reda malam hari.

Sebenarnya masih terpikirkan untuk mengunjungi Batu Solor sore ini. Namun, tidak memaksa, karena lokasinya yang berada jauh di Utara Bondowoso. Hujan baru benar-benar reda ketika kami tiba di persimpangan dengan arah ke Sumber Wringin. Batu Solor pun menjadi tujuan berikutnya. Meskipun sudah terlalu sore, tetapi masih berharap sempat menikmati sunset disana. Batu Solor memang terkenal sebagai salah satu spot sunset terbaik di Bondowoso. Sekitar pukul 16.30 WIB, kami tiba di persimpangan dengan jalan utama Bondowoso – Situbondo. Mas Zen menelepon temannya yang rumahnya berada di dekat Batu Solor.

Air terjun Belawan ketika musim hujan. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

 

Sayangnya, memang kali ini belum berkesempatan mengunjungi Batu Solor, ternyata disana sedan hujan deras, bahkan lengkap dengan petir dan angin sedari siang tadi. Sambil mencari lagi kira-kira tempat mana yang bisa dikunjungi sesore ini, mulai dari Bendungan Sampean sampai yang kearah Barat Bondowoso. Tetap tidak terkejar, ditambah sepertinya hujan dimana-mana. Akhirnya admin mengakhiri jalan-jalan kali ini di Bondowoso karena malam nanti harus segera kembali ke Jember dan meneruskan perjalanan pulang. Kami pun melaju menuju basecamp dengan basah kuyup.

Barulah malam hari, admin melihat sebuah buku katalog untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke Bondowoso dengan menggunakan jasa R-Jek. Katalognya cukup lengkap, mulai dari wisata buatan, wisata keluarga, wisata sejarah, wisata minat khusus, wisata alam yang sedikit harus blusukan, wisata budaya, bahkan beberapa peninggalan megalitikum yang masih luput dari sorotan dunia pariwisata nasional.

Dari beberapa tempat wisata yang ada di buku katalog, admin merekomendasikan Bendungan Sampean 2, Tancak Sulaiman, Batu Solor, Situs Pekauman, Goa Arak-arak, Situs Beto Labeng, Situs Goa Buto Cermee, dan Situs Goa Buto Sumber Wringin. Oh ya, buku katalog ini milik teman-teman RMB dan disimpan di basecamp RMB. Jadi, kalau penasaran, sebaiknya Sobat Travelnatic segera rencanakan perjalanan untuk mengeksplore Bondowoso dan sekitarnya. Atau bisa juga cari referensi dulu disini.

 

Air Terjun Niagara Mini dari Bondowoso. Foto: Dokumentasi Dya Iganov
Sebarkan :
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply