TRAVELNATIC GOES TO MAJALENGKA PART 1

posted in: Experience | 0

 

 

Setelah beberapa kali janji untuk pergi eksplore bareng, kali ini saya dan salah satu admin TN yaitu Mba Dika akhirnya merealisasikan rencana yang hampir menjadi wacana. Dari beberapa tempat pilihan seperti Geopark Ciletuh, Pangalengan, Curug Ngebul di Tasikmalaya, Kuningan, dan Majalengka, akhirnya pilihan kami jatuh pada Majalengka. Karena kali ini kami hanya pergi berdua dan ingin sedikit santai, maka eksplore kami kali ini menggunakan mobil. Mobil sewaan lengkap dengan supir tentunya karena diantara kami berdua ga ada satupun yang bisa nyetir. Urusan sewa mobil dan lokasi tujuan sudah beres. Kami pun sepakat untuk pergi pada Rabu 28 Maret 2018 subuh.

 

Panyawuyan dengan latar belakang Gunung Ceremai. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Rabu, 28 Maret 2018
Pukul 05.00 WIB, mobil sudah meluncur ke arah Lembang menjemput Mba Dika. Berhubung jalur kami ke arah Lembang, jadi saya putuskan untuk mengambil jalur Subang – Cikamurang – Tomo untuk masuk ke Majalengka. Jalur ini saya pilih karena selain sangat sepi, pemandangannya juga cukup bagus. Setelah menjemput Mba Dika, kami sempat berhenti sarapan dulu di Ciater. Pemandangan pagi di Ciater kali ini sangat sayang untuk dilewatkan lensa kamera. Selesai sarapan, kami pun meluncur menuju Subang. Menjelang masuk kota Subang, lalu lintas mulai tersendat. Karena malas masuk ke kota Subang, maka, mobil pun berbelok ke arah kanan tepat di bundaran pertama Kota Subang.

Jalan yang kami lewati lama kelamaan menjadi semakin sempit dan berlubang. Kanan dan kiri kami pun sudah didominasi oleh tegalan dan area perumahan yang baru dibangun. Jalan yang kami lewati kali ini semakin rusak dan mulai memasuki area hutan karet. Setelah kurang lebih lima belas menit berada di hutan karet dengan kondisi jalan yang berlubang, kami pun bertemu rumah-rumah dan persimpangan dengan jalan utama. Setelah kembali ke jalan raya utama Subang – Sumedang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Jalan yang kami lalui merupakan jalan raya Subang – Sumedang yang melalui Indramayu.

Saya dan beberapa teman menyebut jalur ini sebagai Jalur Cikamurang, meskipun sebenarnya Cikamurang merupakan daerah terakhir di jalur ini sebelum masuk ke jalur utama Bandung – Sumedang di Kecamatan Tomo. Jalur ini merupakan jalur alternatif jika malas melewati jalur utama Bandung – Sumedang – Cirebon ataupun jalur Pantura di Indramayu. Kondisi jalan cukup lebar, jalan didominasi oleh jalur lurus, meskipun di daerah Ujungjaya sedikit berkelok-kelok. Sisi kiri dan kanan jalur kebanyakan kebun dan ladang milik warga. Pada wilayah Cikamurang, jalur ini akan berdampingan dengan Jalan Tol Cipali. Bahkan, di jalur ini terdapat GT Cikamurang sebagai tempat transit bus – bus jurusan Jawa Tengah yang melalui Pantura.

Siang hari, pemandangan sangat luas karena hampir sepanjang jalur didominasi oleh kebun warga. Gunung Tampomas dan Ceremai akan terlihat jelas di jalur ini. Namun, bila malam hari, tidak disarankan melintas di jalur ini. Jalur akan sangat sepi, minim penerangan, dan jauh dari permukiman penduduk. Bus dan truk pun jika malam hari cukup jarang yang melintas di jalur ini. Bus hanya akan ditemui di sekitaran GT Cikamurang, itu pun di rest area saja. Kami pun keluar dari jalur Cikamurang dan masuk ke jalur utama Tomo. Kali ini, kami janjian dengan Kang Ipung untuk bertemu di Panyaweuyan. Tujuan pertama kami di Majalengka kali ini adalah Panyaweuyan.

 

Panyaweuyan. Foto: Dokumentasi pribadi Dya Iganov

Panyaweuyan
Ini bukan pertama kalinya saya ke Panyaweuyan, tapi ini kali pertama saya ke Panyaweuyan menggunakan mobil. Perjalanan dari Tomo sampai Maja cukup monoton dan membosankan. Saking monoton dan membosankannya, saya pun sampai mengantuk. Rasanya dari Majalengka kota ke Maja lama sekali, padahal lalu lintas normal, tidak seramai akhir pekan. Setelah tiba di Maja, barulah mata dan badan rasanya kembali segar. Kami berbelok ke arah Argapura tepat di sebua belokan dengan spanduk Curug Maja yang cukup besar. Kami pun masuk ke jalan utama menuju Kecamatan Argapura. Yang harus diperhatikan di jalur ini adalah persimpangan menuju Panyaweuyan.

Persimpangan menuju Panyaweuyan yang dimaksud ini sangat kecil dan berada tepat di jembatan. Persimpangan ini pun terlewat, akhirnya kami harus putar arah di lahan yang cukup sempit. Setelah melewati jembatan, jalan yang harus kami lalui akan terus menanjak dan kondisinya cukup jelek. Saya sempat khawatir mobilnya ga kuat nanjak. Benar saja, baru beberapa meter tanjakan, mobil beberapa kali berhenti karena ga kuat nanjak. Mau balik lagi pun susah, tidak ada lahan untuk memutarkan mobil, mau lanjut terus juga aga was-was juga. Akhirnya, karena tanggung, mending dilanjutkan saja. Berdoa semoga mobilnya kuat sampai di Panyaweuyan.

Beberapa kali mobil sempat tidak kuat nanjak. Ada beberapa tanjakan yang cukup berat dan dibarengi dengan tikungan tajam yang sukses membuat saya menahan nafas. Slip atau gagal nanjak di tikungan dan tanjakan ini, akibatnya fatal. Akhirnya kami pun berhasil sampai di area Panyaweuyan. Kebetulan, kali ini kebetulan arealnya baru dipanen, jadi sebagian besarnya berwarna cokelat dan sebagiannya berwarna hijau. Setelah memarkirkan mobil, saya dan mba Dika pun langsung mengeksplore.Kami pun memutuskan untuk menaiki tangga menuju “puncak Panyaweuyan”. Ketika kami sampai di puncak, sudah ada beberapa pengunjung. Kami sampai di puncak tepat pukul 12.00 WIB.

Pemandangan dari puncak jauh lebih luas dibandingkan dari areal jalan utama. Gunung Tampomas di kejauhan terlihat cukup jelas dan Ceremai tepat berada di belakang kami. Puas mengambil foto di atas, kami pun memutuskan untuk kembali ke mobil sambil menunggu Kang Ipung. Setelah kang Ipung datang, kami memesan kopi dulu untuk mengusir ngantuk yang mulai datang. Cuaca di Panyaweuyan cukup terik, tetapi anginnya sangat kencang. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengunjungi tempat lainnya. Kami diajak makan di sebuah rumah makan tepat di sebelah Bumi Perkemahan Cipanten di Argalingga.

Jalur dari Panyaweuyan ke Argalingga cukup membuat kami kembali segar kembali. Jalanan yang cukup kecil dengan turunan panjang dan curam, jurang di sisi kiri dan puncakan-puncakan kebun bawang di area Panyaweuyan menjadi teman kami melintasi jalur ini. Kami turun terus hingga ke dasar jurang. Setiba di dasar jurang, kami menyeberangi sungai kecil kemudian jalan kembali menanjak. Tanjakan panjang dan curam dengan lebar jalan yang sempit kembali menjadi santapan kami. Setelah tiba di ujung jalur, kami pun mengambil jalur ke Argalingga. Tibalah kami di warung yang sudah cukup terkenal di Buper Cipanten.
Warung Nasi Ma Nyai namanya. Semua masakan di warung kecil ini adalah menu masakan rumahan. Meskipun warungnya sederhana, tapi rasa masakan di warung nasi ini tidak ada yang sederhana. Semuanya enak. Andalan di warung ini adalah Nasi Goreng. Sayangnya, karena kami tidak bisa lama-lama, jadi kami mengambil makanan yang sudah matang. Harganya cukup murah, tempatnya bersih dan sejuk, penjualnya pun ramah, selain itu warung ini buka sampai malam. Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Situ Janawi.

 

Cikadongdong River Tubing. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Cikadondong River Tubing dan Situ Janawi
Situ Janawi menjadi pilihan karena dokumentasi Situ Janawi dari kunjungan pertama saya pada 2015 lalu masih sangat kurang. Setelah Argalingga, kami melewati hutan bambu Cikaracak. Sebenarnya, hutan bambu Cikaracak ini merupakan salah satu spot foto populer di Majalengka, tapi kali ini kami lewatkan karena perjalanan menuju Situ Janawi dan beberapa tempat lainnya masih cukup jauh. Dalam perjalanan menuju Situ Janawi dari hutan bambu Cikaracak, kami sebenarnya melewati beberapa objek wisata, seperti Curug Sawer, Situ Cipadung dan Situ Cipanten.

Sebelum tiba di Situ Janawi, Kang Ipung tiba-tiba berhenti dan memarkirkan motornya di pinggir sungai. Ternyata ini adalah Cikadongdong River Tubing yang baru dibuka oleh teman-teman dari Desa Payung. Kebetulan, Kang Ipung dan beberapa teman saya di Majalengka termasuk ke dalam tim yang mempelopori wisata air ini. Sayangnya, saya dan mba Dika ga bawa baju ganti dan kami pakai mobil. Selain pasti masuk angin, ga enak juga mobilnya kami buat basah. Akhirnya, kami hanya melihat kegiatan river tubing. Kebetulan sore ini sedang ada tamu dari Cirebon. Saya dan Mba Dika pun tidak ketinggalan mewawancarai perwakilan operator dari Cikadondong River Tubing.

Setelah puas melihat kegiatan river tubing dan mendapatkan informasi penting seputar Cikadodong River Tubing, kami pun pamit dan melanjutkan perjalanan menuju Situ Janawi. Setiba kami di Situ Janawi, ternyata kondisi Situ Janawi sedang kurang bagus. Hampir seluruh permukaan airnya ditutupi oleh eceng gondok. Kami pun beranjak ke areal mata air Situ Janawi. Areal di sekitar mata air bebas dari tanaman Eceng Gondok dan lebih tertata. Terdapat saung dengan jembatan bambu sebagai penghubung, kolam buatan untuk anak-anak, serta bangunan seperti pendopo dan papan informasi mengenai Situ Janawi. Mata kami tertuju pada dua buah ayunan di dekat areal hutan. Kali ini, kami menikmati sore di Situ Janawi cukup dari atas ayunan saja.

 

Kolam buatan di area Situ Janawi. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Talaga Loa, Talaga Nila, dan Talaga Herang
Kami pun melanjutkan perjalanan kami ke tujuan berikutnya, yaitu Talaga Nila. Dari arah Desa Payung menuju Talaga Nila, kami melewati Sawah Nangklak dan Sawah Ciboer. Sayangnya, areal Sawah Nangklak baru panen, sehingga teraseringnya tidak terlalu menarik. Berbeda dengan Sawah Ciboer. Areal Sawah Ciboer sudah selesai ditanami kembali, sehingga arealnya menghijau. Kami tidak berhenti lama di sini, karena tujuan kami masih cukup jauh. Kami memutuskan untuk langsung ke Talaga Nila untuk menghemat waktu. Jalan menuju Talaga Nila kembali menanjak. Lagi-lagi mobil sedikit kesulitan untuk menyelesaikan tanjakan, seperti ketika di Panyaweuyan dan Desa Payung tadi.

Sebelum tiba di Talaga Nila, kami melewati Talaga Loa terlebih dahulu. Kebetulan, Talaga Loa sedang bersih dari Eceng Gondok dan tanaman rambat lainnya. Kami pun berhenti dulu. Areal Talaga Loa sudah banyak berubah dari semenjak pertama kali saya datang, sekitar 2015. Areal kebun tepat di samping Talaga Loa, sudah dibuka. Tidak ada lagi tanah lumpur, area lembab dan banyak nyamuk. Yang ada sekarang adalah kebun yang sudah dibuka, lebih terang, dan ada jalan setapak di pinggir area danau. Air terjun di ujung Talaga Loa pun jadi terlihat jelas setelah lahan di samping danau dibuka.

Kami pun menuju Talaga Nila. Sama seperti Talaga Loa, areal Talaga Nila pun sudah banyak perubahan. Lahan yang semula kebun dan tempat mengangon kerbau, kini sudah diratakan untuk parkir, jalan setapak, dan areal jualan. Di seberang Talaga Nila pun, kini sudah terdapat kolam renang. Sebelumnya, lahan kolam renang ini adalah kebun. Area Talaga Nila yang sebelumnya cukup tersembunyi oleh rimbunnya pepohonan, kali ini menjadi lebih terang dan sudah dibenahi. Berhubung sudah tidak ada sinar matahari, air Talaga Nila pun terlihat sama seperti air danau lainnya. Kami istirahat di warung di depan kolam renang. Air dari Talaga Nila sedang meluap, bahkan sampai menggenangi jalan utama.

Kolam renang di seberang Talaga Nila milik perseorangan. Lahan pribadi milik warga yang kemudian dibangun menjadi area kolam renang yang airnya bersumber langsung dari Talaga Nila. Jernih dan dingin. Karena belum 100% selesai, makan kolam ini masih ditutup untuk umum. Berhubung sudah mulai sore, kami pun bergegas menuju lokasi terakhir, Talaga Herang. Lokasi Talaga Herang tidak terlalu jauh dari Talaga Nila. Jadi, setidaknya kami tidak terlalu banyak buang waktu. Setiba di lokasi Talaga Herang, sudah hampir sunset. Karena sudah sore, banyak warung nasi yang tutup. Kami pun bisa memarkirkan mobil di dekat area Talaga Herang.

Ikan di Talaga Herang ini jumlahnya sangat banyak. Ukurannya pun sangat besar. Sayannya karena sudah muai gelap jadi tidak bisa terlihat semuanya. Kami harus puas melihat jernihnya air dari sisa-sisa sinar matahari. Kami menikmati sunset di Talaga Herang sebelum akhirnya kami menyudahi perjalanan kami di Majalengka kali ini. Jalur yang kami ambil dari Talaga Herang yaitu yang melewati Desa Sindang. Kang Ipung masih tetap memandu kami sampai di daerah Leuwimunding. Kami berpisah di Alun-alun Leuwimunding. Kang Ipung akan berkunjung ke warung kopi milik temannya di dekat Leuwimunding, sementara kami meneruskan perjalanan menuju GT Sumberjaya.

Perjalanan pulang kali ini kami memilih lewat tol untuk mempersingkat waktu. Kami sempat terkena hujan cukup deras di daerah Indramayu. Kilat dan angin menemani perjalanan kami melintasi Tol Cipali. Kami keluar di GT Subang dan mampir untuk makan malam terlebih dahulu. Setelah makan malam, kami mengambil jalur Subang – Ciater – Lembang – Bandung. Selesai sudah eksplore pertama kami di Majalengka. Setelah ini, kami berdua akan kembali ke Majalengka bareng dengan admin TN lainnya dari Yogyakarta.

Kolam buatan di Talaga Nila. Foto: Dokumentasi Dya Iganov
Sebarkan :
  • 7
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply