TUJUH BELASAN PUNYA CERITA ALA MENEMBUS BATAS INDONESIA

posted in: Event Review | 1

Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan upacara dan perlombaan. Upacara resmi, biasanya dilaksanakan oleh instansi dan lembaga pendidikan. Meskipun demikian, tidak sedikit juga upacara-upacara peringatan Hari Kemerdekaan dilakukan secara independen. Lokasi upacara pun tidak hanya memanfaatkan lapangan terbuka saja. Puncak gunung, tebing-tebing kokoh, bahkan di bawah laut dan di dalam gua pun kerap kali dijadikan lokasi upacara peringatan Hari Kemerdekaan.

 

 

Upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia diikuti juga dengan berbagai perlombaan dan acara hiburan. Rangkaian kegiatan tersebut serempak dilaksanakan di seluruh wilayah di Indonesia. Tak ketinggalan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di sebuah desa di pesisir Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tersebutlah Desa Cireundeu. Sebuah desa yang berada di pesisir sebuah pantai yang dikenal dengan nama Pantai Citarate atau Pantai Karangbeureum. Lokasi pantai dan desa ini tidak terlalu jauh dari perbatasan Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Banten.

Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 bagi warga Desa Cireundeu kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 warga Desa Cireundeu kali ini dilaksanakan di tepi Pantai Citarate bersama-sama dengan para Pejuang Piknik yang berkolaborasi dengan Menembus Batas Indonesia. Kegiatan yang bertema “Tujuh Belasan Punya Cerita” dengan tag line “Asyik, Klasik, dan Berisik” ini merupakan kegiatan kelima dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan. Sebelumnya, kegiatan serupa juga pernah dilaksanakan di Cilintang, Taman Nasional Ujungkulon, Provinsi Banten pada 2013, Pantai Madasari, Kabupaten Pangandaran pada 2014, Curug Piit di wilayah TNGHS pada 2015, dan curug Go’ong Desa Tapos 1, Tenjolaya Bogor, bumi perkemahan Ciputri Bogor 2017. Susunan kegiatan dalam acara tahunan ini bermula dari upacara bendera. Upacara ini, diikuti oleh para Pejuang Piknik, Menembus Batas Indonesia, dan Indonesia Motorist lainnya sebagai petugas upacara dan peserta upacara. Tidak ketinggalan, warga desa setempat, terutama anak-anak pun menjadi peserta upacara memperingati Hari Kemerdekaan.

Selesai pelaksanaan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, acara berikutnya merupakan perlombaan. Perlombaan ini diikuti oleh semua warga. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Namun, ciri khas dari setiap kegiatan tahunan ini lebih difokuskan untuk anak-anak, sehingga perlombaan yang diadakan pun lebih banyak untuk anak-anak. Pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 kali ini, perlombaan yang diadakan diantaranya lomba Adzan, lomba baca Alqur’an balap karung,kelereng,tarik tambang,panjat pinang, dan mewarnai.

Ada perlombaan, ada pemenang, ada hadiah. Hadiah-hadiah bagi acara perlombaan ini seluruhnya diperoleh dari patungan, open donasi, dan penjualan merchandise. Kegiatan upacara peringatan Hari Kemerdekaan di Desa Cireundeu merupakan yang pertama kalinya diadakan. Jika biasanya warga dan karang taruna setempat hanya mengadakan perlombaa-perlombaan saja, maka kali ini perlombaan 17-an dimeriahkan juga oleh upacara bendera dan kegiatan ramah tamah yang diselenggarakan oleh rekan-rekan Pejuang Piknik berkolaborasi dengan Menembus Batas Indonesia.

Sejarah Desa Cireundeu

Desa Cireundeu secara adminsitrasi terletak di Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa Cireundeu merupakan pamekaran dari Desa Cibareno. Pemekaran ini terjadi pada 2006  berdasarkan Perda no:  3 Tahun 2006 dengan batas wilayah yaitu Pantai Citarate. Nama cireundeu sendiri diambil dari nama ngaleundeu. Ada dua versi mengenai asal-usul penamaan desa ini. Versi pertama diangkat dari kisah tokoh suami istri yang bernama Bapung Kapuk dan Ming Kapuk yang berhasil mengusir bajak laut yang datang dari Pesisir Pantai Citarate.

Konon, pada saat bajak laut ini melihat tusuk konde yang dipakai oleh Ming Kapuk yang dilihatnya seperti emas, bajak laut tersebut berusaha untuk merebutny. Dengan spontan, Ming Kapuk melempar tusuk konde tersebut ke lahang yang sangat panas. Bajak Laut yang ditakuti warga itu tidak berani mengambilnya. Dengan keberanian dari Ming Kapuk, beliau berhasil mengambil tusuk konde dari lahang yang sangat panas, dan Bajak Laut terheran-heran karena meliat kesaktian Ming Kapuk sehingga mengundurkan niatnya untuk merampok harta warga Kp. Cireundeu.

Sampai pada Pemrintahan Kepala Desa Pertama Cibareno banyak orang-orang yang mempunyai niat jahat tidak sampai ke desa cireundeu diperkirakan orang-orang tersebut ngalaleundeu sehingga Desa ini tidak terlihat. Bahkan, ketika gambar-gembor DI/TII, Desa Cibareno tidak terjajah oleh pelaku-pelaku DI/TII.

Pantai Citarate

Pantai Karangbeureum atau yang biasa disebut dengan Pantai Citarate ini  merupakan salah satu pantai berkarang yang belum terekspose pesonanya dengan baik. Secara administratif, Pantai Citarate berada di Kampung Citarate, Desa Cireundeu, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Lokasi Pantai Citarate hanya berjarak sekitar enam Kilometer dari Bukit Habibie di Kecamatan Cisolok yang merupakan lokasi favorit sunrise hunter di wilayah Pansela Jawa Barat – Banten. Namun, keindahan Pantai Citarate masih belum terkespose karena akses masuknya masih terbilang sedikit menantang adrenalin.

Pantai Citarate pun tidak dapat luput dari cerita Raden Mbah Oneng Jiun. Pada suatu hari Oleh Orangtuanya Mbah Oneng Jiun muengadakan sayembara untuk memegang tahta dengan mengadu kesaktian memakai layang-layang sampai setinggi mungkin. Hingga layang-layang itu putu dan Raden Mbah Oneng Jiun tidak dapat mengambilkan layang-layang tersebut. Yang berhasil mengambil laying-layang putus tersebut adalah adik dari Mbah Oneng Jiun, sehingga sayembara itu dimenangkan oleh adik Raden Mbah Oneng Jiun.

Karena merasa malu, Raden Mbah Oneng Jiun pergi ke Pesisir Citarate. Konon, karena dulu belum ada alat transportasi, Raden Mbah Oneng Jiun berjalan di atas air laut. Raden Mbah Oneng Jiun pun sampai di Pantai Citarate. Sampai sekarang belum ada turunan yang tahu letak makam Raden Mbah Oneng Jiun, dan kalau pun ada yang tahu mereka tidak boleh menunjukannya, Berdasarkan kepercayaan, bila mengetahui lokasi makam Raden Mbah Oneng Jiun, maka orang tersebut akan mendapat kutukan.

 

Menembus Batas Indonesia

Perjalanan Menembus Batas Indonesia adalah bakti kami kepada sang bunda Pertiwi. Selain kegiatan rutin dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, perjalanan Menembus Batas Indonesia pun meliputi kegiatan rutin charity lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya Ride for Indonesia (sosial dan budaya ), Ride for Education ( Pendidikan ) dan petualangan – petualangan bermotor lainnya untuk lebih mengenal Indonesia Lebih Intim.

Sebarkan :
  • 51
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    51
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply