Villa Menumbing, Tempat Pengasingan Bung Karno di Bangka

Villa Menumbing, Tempat Pengasingan Bung Karno di Bangka

posted in: Destination | 0

Selain dipenjara di Penjara Sukamiskin Bandung, dibuang ke Ende dan Bengkulu, Bung Karno juga pernah merasakan pengasingan di Pulau Bangka. Tampaknya resiko sebagai tokoh pergerakan di zaman kolonial Belanda membuat Bung Karno akrab dengan pembuangan dan pengasingan. Di Bangka, pembuangan Bung Karno terjadi setelah proklamasi kemerdekaan RI. Bagaimana keadaan tempat pembuangan Bung Karno bersama tokoh nasional RI lainnya itu?

Villa tua yang dibangun dari pecahan batu granit itu berdiri tepat di pucuk Gunung Menumbing, Muntok, Bangka. Meski sudah sangat tua, tetapi villa yang dibangun pada 1927 itu sama sekali tidak mengalami perubahan bentuk. Masih kokoh bahkan lantainya masih beralas tegel, sama seperti saat dulu. Di villa itu, Soekarno, presiden pertama RI, pernah diasingkan dan diisolir dari dunia massa pada 1949 oleh Belanda.

Selain Soekarno, diasingkan pula Wapres Bung Hatta, Sekretaris Negara Pringgodigdo, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, Ketua Badan KNIP Mr. Assaat, Wakil Perdana Menteri Mr. Moh Roem, dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara S. Suryadarma. Bagi Soekarno yang akrab disapa Bung Karno, bisa jadi sangat menderita kala dijauhkan dari keluarga dan dunia.

Villa pengasingan Soekarno sekira 28 Km dari pusat kota Muntok atau 35 Km dari Pelabuhan Tanjung Kelian. Lokasi villa berada di pucuk Bukit Menumbing berketinggian 450 MDPL. Jika berdiri di teras villa, kita bisa melihat Kota Muntok secara utuh. Selain villa utama, ada dua paviliun untuk pengawal presiden. Untuk menuju ke sana harus menyibak lebat hutan Menumbing, melalui jalan aspal sempit hanya dapat dilalui satu unit kendaraan roda empat. Medan jalan penuh tikungan tajam, tanjakan dan turunan curam dengan sisi jurang menganga.

Pukul 17.00 WIB, saat sinar mentari sudah mulai temaram, saya mengurut tuas gas menuju pucuk bukit. Jalan menuju ke lokasi sangat amat sepi. Hanya deru mesin dan nyanyian jangkrik menjadi melodi yang menemani perjalanan. Seperempat jam kemudian, di balik rimbun pepohonan hutan, sudah terlihat bangunan khas tempo dulu. Sunyi sepi tak ada seorang pun yang tampak.
Motor terus menanjak pelan tapi pasti menuju bangunan paling atas. Motor baru berhenti saat saya melihat seorang lelaki paruh baya tengah duduk di teras villa. Kedatangan saya disambut senyum bersahaja. Tegur sapa menciptakan keakraban tersendiri. Lelaki tersebut bernama Sumardi, yang bertugas sebagai penjaga villa. Kedatangan saya sebetulnya telat, karena pukul 16.00 WIB lokasi sudah tertutup untuk pengunjung.

“Wah, sudah tutup, ya?” Saya berujar memastikan.

“Sudah jam empat tadi,” jawabnya. Tapi, Sumardi rupanya tak ingin mengecewakan pengunjung. Dia pun berseru.

“Ayo, kita masuk lewat pintu belakang,” ajaknya.

Tanpa ba bi bu, saya segera mengekor di belakangnya. Sejurus kemudian saya sudah di dalam villa. Berada di dalam bangunan bersejarah itu saya serasa berada di lorong waktu yang melemparkan saya dalam kehidupan Soekarno kala di pengasingan.

Saya mencoba melangkah dari satu ruang ke ruang lain. Termasuk ruang pertemuan, ruang santai, ruang kerja, hingga kamar tidur Bung Karno bernomor 102. Di ruang tersebut, terpacak aneka foto-foto sejarah perjuangan. Ada pula mobil Ford warna hitam delapan silinder berplat BN 10. Mobil itu menjadi kendaraan Bung Karno selama di Bangka.

Sekira 15 menit saya berada di area villa. Setelah mengabadikan lokasi bersejarah itu, sebelum hari betul-berul gelap, saya segera pamit pada Sumardi. Sembari menuruni bukit, saya membayangkan, betapa nelangsa si Bung kala itu. Dijauhkan dari keluarga dan dunia. Tapi, saya lebih yakin si Bung akan lebih nelangsa dan menderita jika mengetahui nasib Indonesia saat ini. [Dewan Wahyudi/End]

Penyunting : Nurul Amin

Profil Penulis:

Dewan Wahyudi berdomisili di Kebon Tebu, Lampung Tengah. Dewan Wahyudi merupakan penggiat kegiatan traveling menggunakan roda dua dan tergabung dalam Forum Nusantaride. Hobi mengeksplorasi tempat-tempat wisata di sekitar Lampung, terutama lokasi-lokasi wisata potensial yang sulit diakses di sekitar Lampung. Akun facebook : Dewan Wahyudi.

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    788
    Shares
Follow Dewan Wahyudi:

Berdomisili di Kebon Tebu, Lampung Tengah. Penggiat kegiatan traveling menggunakan roda dua dan tergabung dalam Forum Nusantaride. Hobinya yaitu mengeksplorasi tempat wisata di sekitar Lampung, terutama lokasi-lokasi potensi wisata yang sulit diakses di sekitar Lampung.

Komentar Pembaca