Wawancara Ekslusif dengan Traveler Paling Keren Se-Jogja-Bantul

Wawancara Ekslusif dengan Traveler Paling Keren Se-Jogja-Bantul

posted in: Travelers Profile | 0

Traveler yang satu ini sangat menyukai wisata pantai. Mulai dari menikmati sunset, bermain di pasir pantai dengan bertelanjang kaki, beach camp, sampai bermain-main di karang yang tajam. Dia bahkan lupa kapan awalnya menyukai pantai. Tapi dia tau sejak kapan mulai sangat aktif mengeksplorasi pantai. Sekitar tiga tahun lalu, katanya.

Vian namanya. Pria asal D.I Yogyakarta ini lebih memilih traveling sebagai freelance ketimbang mengikuti komunitas tertentu. Ditanya mengapa? Dia hanya tersenyum saja. Tapi Vian bukan tidak melakukan traveling dengan orang lain. Hanya saja, mungkin ada rasa segan menyebut dirinya tergabung dengan komunitas tertentu.

Menikmati keindahan pantai dengan suara ombak menghempas terkadang memang lebih syahdu jika dilakukan sendirian, atau dengan kelompok kecil. Alam dan kesunyian seakan menjadi dua paduan yang sangat serasi. Ada harmoni di balik suara desau angin menerpa daun, ketika tak ada suara kendaraan yang merusaknya.

Demikian wawancara singkat kami bersama Vian saat di temui di Djeladjah Coffee, Kledokan, D. I Yogyakarta :

Apa yang membuat mas Vian suka wisata pantai?

Saya suka mendengarkan suara ombak, menikmati debur angin pantai, dan bonusnya ya menikmati sunset. Kalau di gunung saya juga suka. Di gunung kan buat nikmati sunrise, kalo dipantai nikmati sunset.

Mas Vian paling sering melakukan mengeksplorasi wisata pantai mana?

Pantai Kesirat, pantai Woh Kudu, Pantai Gesing, pantai Bekah, pantai Ngetun. Kalo spot yang paling mantap buat ngeliat sunset itu di pantai Ngetun sama pantai Bekah. Entah kenapa saya lebih suka menikmati pantai di daerah Panggang dibanding pantai Gunung Kidul di deretan pantai Baron ke timur yang lain.

Menurut mas Vian gimana keadaan pantai Gunungkidul kebanyakan sekarang ini?

Sekarang ini terlalu banyak campur tangan warga di bibir pantai, misalnya warung-warung yang berdiri sangat dekat dengan pantai, bahkan sampai ke pasirnya. Tempat parkir yang sangat dekat dengan pantai. Hal semacam ini mengurangi kenyamanan berkunjung ke pantai itu sendiri.

Mas Vian pengennya akses dan sarana di pantai itu seperti apa?

Seharusnya pantainya dibiarkan tetap alami sebagaimana awalnya. Akses dan sarana seperti tempat parkir, warung-warung, toilet seharusnya dibuat lebih jauh dari badan pantai itu sendiri, dengan begitu kenyamanan berkunjung ke pantai akan terjaga.

Sejauh yang mas lihat sekarang ini, bagaimana dampak pembangunan wisata pantai terhadap masyarakat sekitarnya?

Wisata pantai sangat berdampak pada masyarakat. Dengan adanya pantai, masyarakat memiliki mata pencaharian tambahan. Ada lapangan kerja baru tidak hanya seperti yang semula ada dilokasi tersebut. Misalnya nelayan, nelayan yang biasanya setelah pulang dari melaut harus menjual ikannya ke pasar kini bisa langsung mengolah hasil melautnya di lokasi sekitar pantai untuk dihidangkan ke pengunjung. Dengan begitu kan harga ikan yang seharusnya dijual di pasar dengan harga pasar bisa naik harganya setelah diolah dan dijual ke pengunjung di pantai.

Tidak hanya berpengaruh pada masyarakat dilokasi yang dikunjungi. Pengaruhnya juga ada pada masyarakat di sepanjang jalur menuju lokasi. Dengan melewati jalur menuju lokasi wisata, pengunjung jadi mengenal daerah disekitar jalur transportasi, kebudayaannya dan sebagainya.

Apa efek dari interaksi pengunjung pada masyarakat lokal? Apakah pengunjung ini merubah budaya lokal?

Kalau merubah sih tidak, tapi memang tidak dapat dipungkiri ada budaya baru atau kebiasaan baru yang diadopsi oleh masyarakat lokal dari pengunjung yang datang ke destinasi wisata pantai ini.

Vian di pantai Pok Tunggal. Dok. Nugroho Vian
Vian di pantai Pok Tunggal. Dok. Nugroho Vian

Dewasa ini, dengan adanya pembangunan wisata pantai yang massif di Gunungkidul, bagaimana masyarakat sekitar pantai memandang pengunjung?

Terkadang masyarakat menerapkan standar ganda antara pengunjung dengan masyarakat lokal, misalnya contoh dalam menerapkan harga. Ketika masyarakat mengetahui seseorang itu adalah pengunjung pantai, harga yang diberi ke mereka lebih mahal dari yang seharusnya. Ini mungkin bagian dari cara masyarakat untuk mendapatkan pemasukan tambahan. Tapi sebenarnya ini kurang baik dan adil.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa Indonesia ini berada di wilayah cincin api, dan di cincin api ini seringkali terjadi bencana yang disebabkan oleh proses geologis, misalnya gempa dan tsunami. Pantai di Gunung Kidul sangat dekat dengan palung Jawa yang merupakan pertemuan lempeng samudera Hindia dengan Lempeng Eurasia, nah bagaimana pengunjung pantai dan masyarakat lokal seharusnya menyikapi hal semacam ini?

Ga bisa dipungkiri, mau ga mau namanya bencana alam kan ga bisa dihindari. Mereka yang datang dan ada di sekitar pantai harus siap dan tanggap

Bagaimana menurut Mas peran pemerintah dalam mengantisipasi kecelakaan di pantai? Apakah ini sudah efektif?

Kita ambil contoh di Pantai Parangtritis, sebenarnya tim SAR disana sudah mengingatkan pengunjung, misalnya dengan adanya sirine, adanya batas pantai yang boleh dijadikan area bermain di pantai. Tapi kadang karena terlalu asyik bermain di pantai, banyak pengunjung yang mengabaikan hal tersebut. Kadang dalam kasus seperti itu tim SAR langsung mendatangi ke pengunjung dan memperingatkan langsung. Pernah terjadi ada batas pantai yang dilanggar pengunjung, dimana diluar batas tersebut banyak ubur-ubur yang bisa menyengat. Akhirnya banyak pengunjung yang disengat ubur-ubur. Padahal sebelumnya tim SAR sudah mengingatkan.

Apakah tim SAR ini ada disetiap pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta?

Tidak sih. Biasanya di beberapa pantai yang pengunjungnya membludak atau ramai sekali selalu ada tim SAR pantai.

Apakah tanda peringatan yang dibuat pemerintah seperti jalur evakuasi saat terjadi kondisi darurat, peringatan tentang menjaga kelestarian pantai sudah cukup memadai menurut Mas?

Kalau jalur Evakuasi sudah cukup banyak. Biasanya disetiap persimpangan jalan selalu ada penunjuk arah jalur evakuasi. Himbauan untuk menjaga kelestarian pantai juga cukup banyak saya lihat. Beberapa pengunjung banyak juga yang memperhatikan peringatan tersebut, tapi cara mereka menanggapi kadang kurang tepat. Misalnya kawan-kawan yang camping di pantai, kadang cara kawan-kawan mengelola sampah yang mereka hasilkan masih salah. Mereka biasanya mengubur sampah tersebut dengan menggali lobang di pasir pantai. Ketika ombak datang atau air pasang, sampah ini akhirnya keluar lagi ke permukaan. Ini tidak benar menurut saya.

Kan ada sebagian travelers yang menyukai suasana sepi dalam berlibur, misalnya mereka berlibur ke tempat yang jarang dijamah orang dan dalam kelompok kecil, mas ada Tips buat teman-teman yang melakukan hal semacam ini?

Yang pertama tentu harus mengetahui informasi tentang daerah yang akan dikunjungi. Kedua tentu harus tau budayanya juga. Kalau di Jogja kan budayanya di sepanjang pantai ya sama saja. Selanjutnya pasti ya persiapan pribadi.

Terakhir, mas tentu punya harapan baik pada pengunjung, destinasi wisata, masyarakat sekitar pantai, maupun pemerintah, terkait wisata di pantai, bisa dikemukakan?

Intinya harus menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ekosistem di pantai harus dijaga betul. Selain itu, baik pengunjung maupun masyarakat lokal harus saling menghormati dan menjaga etika, baik sebagai tamu maupun sebagai tuan rumah. Sebagai tamu yang harus memposisikan diri dalam bertamu, sebaliknya sebagai tuan rumah juga ga bisa semena-mena memperlakukan tamu. Intinya ada saling menghormati gitu. [Nurul Amin/End]

Sebarkan :
  • 174
  • 175
  • 145
  •  
  •  
  •  
    494
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?